Go Batik!

Sekitar satu bulan yang lalu, ketika aku memasang foto-foto batik di album facebook, beberapa temanku langsung bertanya: “Kamu lagi jualan batik, mi?” aku langsung terkekeh. Lalu aku jawab,”Kalau iya, mau beli gak? hehe”

Nah, waktu itu memang ada rencana untuk menjual batik, tapi bukan aku yang jadi penjualnya. Jadi begini, aku mempunyai seorang kakak yang sekarang sedang tugas mengajar di Langsa, Aceh. Kakakku bermaksud pulang ke rumah selama liburan tahun baru 2013 itu. Ternyata, guru-guru di Langsa sana begitu tahu kakakku akan pulang, mereka langsung mau titip ini itu. Soalnya mereka tahunya kakakku itu berasal dari Bandung. Hm, okelah, kuliahnya memang dari UPI Bandung, tapi kami ini orang asli Sukabumi. Terus, mereka tahunya kalau barang-barang di Bandung itu murah-murah. Terutama yang mereka ingin titip adalah kain batik. Tapi, setelah dijelaskan oleh kakakku pun kalau dia bukan dari Bandung, dan jarak dari Bandung ke Sukabumi butuh 5 jam perjalanan menggunakan bus umum, mereka tetap ingin titip juga. Akhirnya, kakakku menyanggupi juga.

Tapi, sebelumnya mereka ingin melihat dulu jenis batik yang ada di Bandung itu seperti apa. Untunglah aku kuliah di Bandung juga, jadi sempat bisa mencari-cari jenis batik di Pasar Baru. Mendapat tugas itu dari kakak, sebenarnya mau tak mau. Maunya, karena aku memang senang kalau sudah jalan-jalan dan belanja-belanja. Tak maunya, pasti bakal capek sekali memfoto-foto berbagai jenis batik yang ada di Pasar Baru itu.

Foto1100

Batik

Meskipun begitu, aku senang melihat setiap motif batik yang ada disana. Batik sekarang memang sedang tren baik di kalangan anak muda maupun yang sudah berumur. Kalau dulu, batik hanya dikenal orang untuk acara formal dan yang memakainya juga kalau tidak orang tua, ya ibu guru atau PNS. Tapi sekarang, untuk acara santai pun, batik bisa dijadikan pakaian yang oke. Tak jarang juga sekarang para artis manggung dengan pakaian yang dipadukan dengan batik, atau mungkin lebih dikenal dengan batik kombinasi. Untuk bahannya sendiri, batik itu beragam. Ada dari katun, semi sutra, maupun sutra. Tapi biasanya pedagang batik yang di Pasar Baru menyarankanku untuk membeli batik katun karena lebih nyaman dipakai dan tidak panas. Awalnya aku kira sutra itu lebih bagus, tapi ternyata para pedagang bilang, “Halusnya mah emang bagus neng, tapi sutra itu panas,”

Oh, ternyata begitu, aku baru tahu.

Dari Hasil perjalanan itupun aku semakin banyak tahu tentang motif batik dari seluruh Indonesia. Setiap penjaga toko tidak keberatan untuk menjelaskan juga. aku sekarang tahu motif batik keraton yang memang cenderung bermotif lereng (miring). Ternyata, untuk motif keraton itu ada batik yang sangat keraton (umumnya dipakai di lingkungan keraton saja) dan ada juga yang keraton modern (sudah dipadukan dengan gaya sekarang). Yang paling aku kenal adalah batik motif mega mendung dari daerah Cirebon. Dulu, waktu awal melihat motif itu, aku mengira itu motif Jepang karena seperti motif Akatsuki di Komik Naruto. Nah, motif mega mendung yang menampilkan warna mencolok itu katanya mempunyai unsur magis sendiri. Tapi aku juga tidak terlalu tahu tentang hal  ini.

Foto1131

Motif mega mendung yang lebih dipadukan dengan motif lainnya

Foto1132

Motif mega mendung Cirebon, warna menyala dan mencolok memang khasnya

Untuk motif lainnya, ada juga motif songket dan juga motif khas jepara. Wah, batik memang oke. Aku harus bangga sebagai orang Indonesia karena mempunyai kekayaan batik ini. Tapi, ternyata selain motif dari Indonesia, ada juga kain dari luar yang sering dianggap batik oleh masyarakat Indonesia. Kain yang berasal dari Jepang, atau lebih dikenal Katun Jepang, juga mempunyai motif unik. Sekilas seperti batik, tapi ternyata berbeda. Yang menarik, katun Jepang ini juga berjajar diantara batik Indonesia lainnya.

Dari pengalaman memotret batik-batik sambil bertanya-tanya ke pedagang di Pasar Baru, saya kira memang kita harus bisa menjaga batik ini agar tidak sampai diakui oleh negara lain seperti halnya kasus pulau terluar di Indonesia. Batik sudah menjadi tren di kalangan mda-mudi merupakan suatu hal yang sangat baik.

Terakhir, waktu itu juga bertepatan dengan UAS mata kuliah manajemen dan semua mahasiswa diharuskan untuk membuat proposal usaha. Aku satu tim dengan dua temanku, awalnya bingung mau membuat proposal usaha apa. Barulah, seorang temanku kemudian terilhami dari foto-foto dari album facebook ku. “Kenapa kita gak buat usaha sepatu lukis batik aja?” Tentu saja itu usul yang bagus. Ternyata, usaha seperti ini memang sudah banyak dikelola oleh orang-orang. Khususnya di daerah Bandung, sepatu lukis memang sempat jadi tren juga. Tapi, dipadukan dengan batik, sepatu lukis ini menjadi lebih menarik. Terasa lebih Indonesia, lebih kreatif, dan lebih membudaya. Go Batik!

3 thoughts on “Go Batik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s