Pengalaman Menjadi Saksi Mata di Jepang: Part 2

Kembali melanjutkan topik lalu yang masih bersambung.

Setelah pagi itu, kondisi sekitar sangat tenang, kayak gak ada apa-apa. Padahal waktu siang, saya bisa melihat jelas dua mobil yang hangus terbakar, yang bahkan bentuknya udah gak karuan. Dan ternyata, kenalan saya yang tinggal di kamar atas itu sebenarnya sudah ‘melarikan diri’ semenjak dia mendengar suara letusan keras. Sekitar jam 4.30 subuh, kalau tak salah, kenalan saya mengetuk pintu kamar saya.

‘Kamu gak apa-apa kan?’ Dia bertanya dengan wajah cemas.

‘Saya baik-baik saja kok. Tadi kamu di cariin sama pemilik kosan. Saya juga gak punya nomor hp kamu’, jawab saya dengan tenang.

‘Saya udah melarikan diri semenjak mendengar suara letusan! Dan saya gak bawa apa-apa sama sekali! kamu malah masih ada di kamar?? lain kali kalau kejadian kayak gini ada lagi, jangan tunggu pemadam kebakaran, selamatkan diri dulu!!’ Dia, dengan cemasnya berkata kayak gitu sama saya. saya hanya tertawa hambar. Iya juga, kok diriku malah sempat-sempatnya mengambil video, haha. Tapi, syukurlah kebakarannya tidak sampai ke kosan kami. Dan syukurlah, ternyata teman saya itu juga baik-baik saja. Saya kira dia hilang gak jelas, haha. Taunya udah gerak cepat menyelamatkan diri.

Setelah kejadian itu, saya dengan tenangnya juga lanjut mempersiapkan koudasai (school festival). Karena persiapannya (note: masak-masak) cukup melelahkan, saya juga lempeng-lempeng aja gak berniat koar-koar tentang kejadian itu.

Selang dua hari setelah kejadian, dan setelah koudasai selesai, ada yang membunyikan bel rumah saya. Saat itu sudah sangat sore. Saya malas juga membukakan pintu, kalau ternyata petugas NHK, lol. Karena seingat saya juga tidak belanja online akhir-akhir ini. Lalu saya melihat dari celah pintu. Ternyata ada dua orang bapak-bapak, umur sekitar 40-an. Saya memutuskan untuk membuka pintu.

Konnichiwa. Kami dari Kepolisian Tobata’ Salah satu dari dua orang itu berbicara dengan nada serius. Keduanya memperlihatkan identitas polisi mereka pada saya. Bayangkan aja kayak yang di film-film. Tapi, mereka gak pake seragam apapun. Atau mungkin pakai? tapi ketutup sama jaket mereka. Lalu saya langsung menebak: hm.. mungkin ada kaitannya sama kejadian dua hari lalu.

‘Kami mau bertanya soal kejadian kebakaran kemarin, apa anda ada waktu?’

Saya cuma mengangguk aja. Lalu mereka mulai menanyai saya waktu itu apa ada di kamar atau tidak, sedang mengerjakan apa, lalu mulai pertama kali tahu ada kebakaran karena apa. Saya jawab, saya waktu itu lagi di kamar, sedang internetan di laptop (ya, nonton drama dan internetan haha) dan tiba-tiba mendengar suara ‘BANG!!’ keras. Lalu dari sana saya menceritakan kejadian malam itu dengan sebisanya (gatau mungkin bahasa jepangnya juga agak kacau tapi yasudahlah mereka cukup mengerti). Oya, mereka menanyakan semua itu didepan pintu kosan saya. Mereka gak nanya bisa masuk kedalam atau gak. Saya nya juga cuma berdiri di depan pintu gak mempersilakan mereka masuk, haha. Maklum kamar berantakan banget jadi agak malu.

Lalu mereka sejenak berhenti, lalu berdiskusi dengan volume suara agak kecil. Kemudian bertanya pada saya, ‘Apa waktu itu anda melihat orang yang mencurigakan?’

Saya berpikir sejenak. Rasanya tidak, karena saat itu saya melihat saat orang-orang sudah berkerumun banyak. Lalu saya bilang, ‘Saya rasa tidak, tapi saya mengambil video waktu itu’

Lalu muka mereka mendadak terlihat tertarik. ‘Boleh kami lihat video nya?’

Saya bergegas masuk lalu mengambil hape. Saya tunjukkan video nya pada mereka. Sambil bergumam-gumam, saya mendengar mereka bilang, ‘Wah ini bagus juga untuk bukti’. Lalu mereka bertanya apa boleh mendapatkan video itu atau tidak, juga mengambil saya sebagai salah satu saksi buat kejadian itu. Saya sih gak keberatan. Lalu mereka meminta waktu saya besoknya, untuk diambil keterangan dan meng-copy file video itu. Karena mungkin hari itu sudah terlalu sore.

Esoknya, di jam yang dijanjikan, mereka datang lagi ke kosan saya untuk menjemput saya dan mengantar ke kantor polisi Tobata. Untunglah, mereka pakai mobil jeep biasa. Saya udah khawatir mereka bakal pakai mobil polisi yang ngiung-ngiung. Nanti disangka saya berbuat kriminal apalah, haha.

Sampai di kantor polisi, kami masuk lewat pintu belakang, yang saya simpulkan khusus untuk polisi dan pegawai saja, lalu naik ke lantai tiga menuju kantor mereka. Saya lalu diminta menunggu di semacam ruangan, kayak ruang interogasi yang ada di film-film. Disana tidak ada apapun selain meja dan kursi. Saya dikasih air minum hangat. Beberapa polisi yang lewat menyapa saya sambil senyum. Tak lebih dari 5 menit, bapak polisi datang sambil membawa dua lembar kertas. Dia meminta saya untuk membaca isi kertas tersebut, dan jika setuju, diminta mengisi nama, alamat, nomor kontak, dan menandatangani di kolom yang sudah di sediakan. Saya tanda tangan. Lalu dia mengeluarkan dua lembar kertas lagi yang rupanya merupakan ringkasan kesaksian yang saya berikan hari kemarinnya. Tapi, omg, semuanya dalam tulisan jepang. Beruntung untuk kanji, mereka meletakkan hiragana diatasnya. Lalu, saya diminta untuk membaca kesaksian itu, untuk memastikan keterangan yang mereka simpulkan dan apa yang saya bilang kemarin itu benar. Lalu, saya mulai membaca. Tapi karena saya memang lambaaat dalam membaca, akhirnya bapak polisi itu bilang, ‘Mau saya bacakan? Kalau ada yang salah koreksi saja’ Lalu saya mengangguk malu, haha. Setelah saya yakin semuanya benar, saya menandatangani kertas tersebut.

Dan terakhir, mereka meminta file video saya. Dengan senang hati saya menyerahkan hape saya. Sambil menunggu, mereka bertanya, ‘Apa anda pernah datang ke kantor polisi sebelumnya?’

‘Tidak pernah, bahkan di Indonesia saja saya belum pernah untuk hal seperti ini’ jawab saya sambil tertawa. ‘jadi ini pertama kalinya untuk saya’

Setelah semua selesai, mereka kembali mengantar saya pulang ke kosan. Beberapa hari setelah itu, saya mendengar kabar bahwa kebakaran tersebut bukan sebuah kecelakaan, tapi perbuatan orang secara sengaja. saya lalu iseng-iseng googling dan ketemulah keterangan tersebut. Polisi mencurigai ini bukanlah kecelakaan karena ditemukan bukti adanya bekas api yang dilantik secara sengaja. Lalu tak lama kemudian, pelakunya tertangkap. Rupanya sekelompok mahasiswa, entah kampus mana. Apakah kampus saya? Bagaimana bisa tertangkap? rupanya… ada seseorang yang memberi kesaksian bahwa ada sekelompok mahasiswa yang lagi ngobrol, dan salah satunya bilang, ‘自分が火をつけた’ yang artinya kira-kira ‘aku sudah menyalakan api (past tense)’. wow, ternyata hanya dari satu keterangan itu saja. Saya menyadur informasi dari blog ini: http://blog.livedoor.jp/fuku_log/archives/67277435.html . Rupanya kejadian itu cukup jadi hot topic di twitter waktu itu. Bayangkan saja, Nakabarunishi yang sepi kayak gak ada penghuninya ini tiba-tiba kedatangan banyak pemdam kebakaran, haha.

Sampai sekarang, saya gak tahu apa motif dari si pelaku. Yang pasti, yang namanya tindakan kriminal yang mungkin dipikirnya hanya sekedar iseng-iseng bisa menjadi sesuatu yang sangat serius. Semoga tidak ada lagi kejadian kayak gitu, di negara manapun. Kalau orang sudah berpikir bahwa sesuatu serius itu hanya iseng, contohnya kayak main api, bully kecil-kecil an, maka bahaya yang menanti di masa depan. Wallahu a’lam. Semoga kita semua ada dalam lindungan Allah swt.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s