Pengalaman Menjadi Saksi Mata di Jepang: Part 1

Jeng jeng.. judulnya agak horor meskipun aslinya memang cukup menegangkan. Jadi ini kejadian sudah satu tahun lalu, waktu itu saya masih ingat di bulan-bulan November saat udara udah mulai dingin gak bersahabat. Dan yang paling membuat saya ingat adalah saat itu lagi repot-repotnya persiapan untuk koudasai (school festival) di kampus. Waktu itu, beruntungnya saya belum tidur walapun sudah lewat tengah malam. Mungkin, beruntungnya karena waktu itu saya lagi berniat menyelesaikan episode terakhir drama Scarlet Heart. Kalau gak, mungkin waktu itu saya lagi bobo cantik dan terkaget-kaget ketika ada yang membunyikan bel sambil gedor-gedor pintu.

Yup, waktu itu, sekitar jam 1 kurang di pagi hari, tiba-tiba terdengar suara ‘BANG!!’ keras sekali. Lalu saya pikir, ‘ah, apaan sih. pasti ada kelompok yang usil-usil’. Meskipun Jepang ini terkenal aman, pernah dulu waktu malam-malam saya masih mendengar tetangga kosan yang ribut-ribut dan kedengaran banget pake bahasa Jepang. Rupanya beberapa orang jepang penghuni kosan lagi party-party alias minum-minum. So, nggak salah saya berpikir bahwa bunyi ‘bang’ keras itu adalah salah satu bentuk keusilan sekelompok orang yang lagi mabok. Tapi, ternyata bunyi keras itu gak satu kali. Lalu kedua, ketiga, dan barulah saya agak merasa aneh. Saya hentikan sementara episode terakhir drama korea yang lagi saya tonton dan memutuskan untuk melihat keluar dari kaca jendela. Dan… wow, ternyata itu bukan seperti yang saya pikirkan. Dari dalam kaca jendela, saya melihat dengan jelas api merah yang menyala-nyala, membakar dua mobil yang ada di parkiran tepat belakang kosan saya. Kosan saya ada di lantai satu, dan begitu saya mendekatkan wajah pada jendela, panasnya sangat terasa. Jarak kosan saya dari parkiran belakang itu tidak lebih dari 5 meter. Sangat dekat, bukan? dan api nya ternyata sudah sangat tinggi dan besar. Suara ‘BANG’ keras itu ternyata berasal dari logam mobil yang terbakar dan –mungkin– beberapa part-nya terbang lalu menimpa mobil sebelahnya.

Lalu apa yang saya lakukan?

Saya panik, saya cemas. Apa saya harus lari? apa apinya akan menjalar ke kosan saya? Dan setelah otak saya memperhitungkan berbagai kemungkinan dalam waktu kurang dari 10 detik, saya memutuskan mengambil hape saya lalu merekam mobil yang kebakaran itu dari balik kaca. Saya tidak berani membuka jendela karena takut ada pecahan mobil yang terbang lalu menimpa saya. Kenapa saya rekam? Yang pasti, satu hal terlintas di otak saya saat itu: ‘Ini kejadian yang jarang, aku harus merekamnya!’ –> ahaha, dasar orang yang hidup di zaman sekarang. Lalu setelah saya merasa cukup lama merekam, saya memutuskan untuk mencari nomor telepon darurat. Samar-samar dari kejauhan saya melihat orang-orang mulai berdatangan mendekati lokasi kebakaran. Apa sudah ada yang telpon pemadam kebakaran? Sialnya, saya cari di kontak hape saya, tidak ada nomor darurat ataupun nomor pemadam kebakaran. Saya tergesa-gesa mencari buku pentunjuk untuk hidup di Tobata, yang mana saya ingat ada informasi tentang nomor darurat untuk ambulans, pemadam kebakaran, dsb. Beruntunglah saya temukan! tangan saya cukup bergetar. Tapi saya yakin bukan perasaan takut saat itu yang saya rasakan, tapi lebih ke excited. You know, when something happen and trigger your deepest mind, to act unlike usual. Haha..

Tapi, beruntung, saat saya berniat menelepon, samar-samar saya mendengar suara ‘ngiung-ngiung’ yang saya yakin adalah suara pemadam kebakaran. Lalu saya cek dari jendela. Yup, alhamdulillah! rupanya ada yang lebih dulu memanggil pemdam kebakaran. Dan dalam 10 menit kedepan, ada orang yang memencet bel sambil gedor-gedor pintu. Lalu (dalam bahasa jepang), orang tersebut berteriak tegas, ‘Ini pemadam kebakaran, bisa tolong keluar dari kamar anda?’

Dan tahu gak… hal yang paling lucu yang saya ingat adalah keputusan saya untuk mengepak laptop, buku tabungan, dompet, dan paspor dalam tas lalu membawanya keluar sambil saya di evakuasi. Hahaha, kedengaran lucu memang. Tapi entah kenapa, mungkin otak saya berpikir: ‘kalau kosan sampai kebakaran dan kamu gak ada paspor, bisa repot nanti. jangan lupa laptop, semua data riset ada di dalamnya!!!’ hahaha… kalau dipikir-pikir, saya kok bisa sejauh itu kepikirannya.

Lalu setelah di evakuasi keluar, saya bisa melihat beberapa unit pemadam kebakaran dan polisi sudah di tempat. gerak mereka sangat cepat! kayak lagi lihat film action secara langsung. Lalu, para penghuni kosan, yang saat itu cuma ada 3 orang termasuk saya, di suruh ikut sama petugas cewek. Saya melihat banyak sekali tetangga sekitar datang, dengan pakaian rumah, sekedar ingin tahu apa yang terjadi. Beberapa merekam kejadian itu. Saya cukup terkesima saat itu, sampai petugas pemadam kebakaran meminta penghuni kosan yang bertiga ini untuk memberi informasi nama dan nomor telepon. Di saat yang sama, saya bisa melihat dengan dekat bagaimana cara mereka memadamkan api. Karena di bangku yang sama (yang secepat kilat ada di tengah jalan) sang ketua pemadam (mungkin, saya cuma menerka karena dia memberi komando) menggambarkan rute evakuasi dan bagian mana yang harus dipadamkan. kurang dari 2 menit, penjelasan mereka selesai, dan langsung eksekusi. Wow, keren, itu yang saya pikirkan. Sementara kami bertiga, kembali ditanyai apakah tahu tentang penghuni kosan lainnya. Total kamar di kosan ini hanya ada 6, 3 kamar di tingkat bawah, dan 3 kamar di tingkat 2. Saya jawab saya tahu salah satunya yang ada di lantai atas, tapi saya tidak punya nomor hapenya. BTW, tiga orang yang saat itu ada semuanya penghuni kamar bawah. Lalu giliran pemilik kosan (yang rumahnya depan kosan banget) yang ditanyai nomor kontak penghuni yang lagi gak ada di kamarnya. Dan beberapa saat kemudian, dua orang datang, penghuni kamar atas, masih memakai pakaian lengkap dan rapi, dengan tas. Mereka mengaku dalam perjalanan menuju baito (part time job). Lalu setelah menyerahkan nomor kontak dan menuliskan nama, mereka pergi lagi (mungkin gak mau telat baito). Look, how chill they were, lol.

Sementara itu, petugas pemadam lainnya memasuki kosan kami, mungkin, just in case, masih ada orang di dalam. Padahal jelas-jelas udah gak ada orang haha. Sementara hal lainnya, dengan speaker keras, petugas mengumumkan untuk pemilik mobil dengan plat xxxx segera melapor. Pengumuman itu dilakukan berulang-ulang sampai si pemilik datang berlari-lari dan bilang, ‘iya, itu mobil saya, itu mobil saya”.

Dan kurang dari 1 jam api bisa dipadamkan. Orang-orang mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Saat itu penghuni kosan masih belum bisa masuk ke kamar dan terpaksa menunggu di jalan. Bapak pemilik kosan lalu memberikan kopi hangat dari vending machine pada kami, sementara dua penghuni lainnya yang gak pake jaket sama sekali dikasih selimut. Saat itu, saya cukup malu ketika pemilik kosan bertanya: ‘kamu baru balik dari lab?’ dan saya menggeleng. Rupanya karena saya membawa-bawa tas saya, haha.

Singkat cerita, setelah pukul 2.30 pagi, kejadian itu selesai, dan kami bisa kembali ke kamar masing-masing. Saya tidak bisa tidur sampai subuh, dan kalaupun tidur takutnya kebablasan. Dan paginya, seolah tak ada apapun yang terjadi, semua kembali normal. Nakabarunishi, tempat saya tinggal pun kembali damai. hanya saja ada palang police line di sekitar lokasi kebakaran dan 1 atau 2 orang polisi berjaga-jaga. Hari itu penyebab kebakaran masih misteri.

Tapi, setelahnya, ada kejadian menarik yang berhubungan dengan video yang saya ambil waktu itu. Mungkin akan saya ceritakan di part 2. Lumayan seru juga ternyata menceritakan kejadian tahun lalu yang kurang dari 3 jam berlangsung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s