Kata Terima Kasih

Tiba-tiba saya ingin menuliskan masalah ini deh. Kenapa? Gak ada alasan khusus, hanya karena saya banyak bertemu kasus tentang rasa terimakasih. Yap, terimakasih adalah sebuah kata, yang diucapkan, dan juga dirasakan. Kata terimakasih sendiri bisa diucapkan di banyak bahasa, dan itu pastinya berbeda-beda. Sejak kecil saya selalu diingatkan oleh ibu saya untuk tidak lupa merasa ‘terimakasih’ pada semua orang yang pernah membantu saya, sekecil apapun itu. Contohnya saja masalah pendidikan. Karena sejak kelas 4 SD saya sudah ditinggalkan oleh alm. bapak, masalah biaya pendidikan selalu membuat ibu khawatir. Pun saya. Tapi Alhamdulillah, banyak orang yang membantu saya soal biaya, termasuk guru-guru sejak SD sampai MAN. waktu kuliah pun, saya terbantu dengan beasiswa. Dan ibu saya selalu berpesan: jangan pernah lupa untuk berterimakasih pada para guru, (tong hilap, urang kudu nganuhunkeun pisan ka para guru), orang-orang yang ngasih banyak bantuan (nu seueur ngabantosan), dan juga para pemberi beasiswa (ka nu masihan beasiswa oge, pokokna tong hilap).

Tapi sayangnya, saya banyak bertemu dengan banyak orang yang rupanya selalu lupa dengan rasa terimakasih. Apakah saya ini gila rasa terimakasih? Oh, tidak, kawan. Ini hanya masalah etika saja. Saya menyayangkan ternyata makin kesini banyak orang yang merasa bahwa ‘terimakasih’ dan ‘maaf’ itu gak perlu-perlu amat. Saya kayaknya pernah banget nulis di blog ini tentang beberapa kawan yang baru menghubungi ketika ada perlunya saja, haha. Eits, maaf, bukan berarti saya gak mau nolong, sekali lagi, tapi apa yang ada sesudahnya lah yang menjadi masalah. Kebanyakan, orang yang keperluannya telah selesai dengan saya, begitu saja berlalu. Giliran saya yang ada perlu, susahnya minta ampun (pengalaman pribadi. No hard feeling haha. Bagi yang merasa semoga segera bertobatlah kawan — haha).

Kacang lupa akan kulitnya. Peribahasa yang dari dulu saya pelajari ini ternyata sangat kepake waktu saya ketemu banyak orang yang memang sifatnya kayak gitu. Ada banyak orang yang lupa akan siapa yang telah memberi kebaikan lebih banyak padanya, tapi tidak berterimakasih dengan baik. Tapi ketika bertemu orang baru, agar terlihat lebih baik dan mendapat lebih banyak kebaikan lainnya, orang tersebut lebih memilih membesar-besarkan rasa terimakasih pada orang baru itu. Dan sebagai hasil, malah membanding-bandingkan kebaikan dua orang tersebut! Hm…. bukankan ini cukup pelik? intinya adalah sekecil apapun pertolongan orang kepada kita, apalagi bila ada orang yang telah berbaik hati membantu kita menemukan jalan untuk menuju kepada kesuksesan, jangan pernah kita menjadi seperti kacang lupa pada kulitnya (dikutip dari: tjiptadinataeffendi21may43). Oh, oke, jangan jauh-jauh deh membahas tentang kesuksesan. Jika saja ada orang yang telah berbuat baik kepada kita, dan itu gak satu atau dua kali, tapi kita melupakannya, apakah itu gak keterlaluan? Lebih keterlaluan lagi ketika kita malah membandingkan orang lain yang baru kita temui dengan orang pertama tersebut, dan menyebutkan bahwa orang baru itulah yang telah banyak memberi kebaikan padanya? Padahal sepatutnya kita berterimakasih dengan cara baik-baik kepada keduanya.

Hm… Saya gak tahu apakah pemikiran saya yang terlalu kolot ataukah memang makin kesini rasa terimakasih itu gak menjadi hal yang penting lagi. Saya hanya cemas kalau makin kesini makin banyak orang yang seperti kacang lupa akan kulitnya. Apa efek dari orang yang seperti kacang lupa kulitnya? kalau di list mungkin agak banyak sih. Tapi paling besar efeknya adalah : sombong (karena merasa yang selama ini dicapainya berkat usahanya atau modal sendiri, tanpa bantuan orang lain), berpura-pura (pura-pura bahwa segala usaha dan modal adalah dari dirinya), dan menimbulkan rasa sakit hati bagi orang lain (misal orang yang udah ngebantu kita tahu bahwa kita sama sekali gak ngerasa dibantu oleh dia. malahan kita selalu mengunggulkan orang lain di depan dia). Saya rasa, ini bukan lagi masalah etika, tapi penyakit hati.

Yap, tulisan saya sekarang cukup pedas dan tajam (macam sil*t aja, haha). Jika seandainya ada yang membaca ini dan merasa tersinggung, coba berkaca pada diri sendiri dulu, pernahkah menjadi orang yang lupa berterimakasih? kalau masih tetap merasa panas dan gak menerima apa yang saya tulis, ya sudahlah. Semoga hatinya dan fikirannya di bukakan agar bisa berpikir lebih jernih. Sebenarnya ini pengingat untuk saya juga. Mungkin saya juga gak luput dari ini, makanya saya membuat tulisan ini. Untuk yang selalu ingat rasa terimakasih, dan pandai menjaga perasaan orang, selamat! kamu sudah menjadi manusia yang seenggaknya mempunyai etika yang baik. Mari sama-sama menjaga hati, mulut, dan perasaan orang. Mari sama-sama belajar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s