Membedah Jagat Raya: Part 3 – Luar Angkasa (bagian 1)

International Space Station

“Luar angkasa itu sangat luas, dan yang membatasi hanyalah akal manusia” (anonim)

Saya masih teringat ketika duduk di bangku SD, saya membaca sebuah rubrik di majalah Bobo tentang ISS. Saat itu, dengan gelagapan, saya baca kepanjangan ISS, International Space Station, dengan cara baca yang nyeples banget sama tulisannya. Saat itu, saya merasa kagum dan gak percaya, ketika dalam rubrik itu dibilang bahwa akan dibangun stasiun luar angkasa kayak di film star wars. Saya gak ingat tahun berapa itu, tapi melihat gambarnya benar-benar membuat saya cuma bertanya-tanya seberapa besar ukuran stasiun itu, dan juga gimana caranya mereka keluar angkasa.

Sedna, atau 2003-VB12

Tidak lama dari rubrik itu (atau lama ya?) saya masih ingat juga, dalam majalah yang sama, Bobo, ada rubrik yang menarik tentang planetoid. Saya masih ingat judulnya: Planetoid itu bernama Sedna. Yup, itu pertama kalinya saya mendengar kata planetoid selain dari kata planet yang ada di sistem tata surya. Belakangan saya iseng mencari Sedna, dan keluarlah artikel wikipedia, yang katanya planetoid ini, atau merupakan minor planet, ditemukan pada tahun 2003. Oh, berarti waktu saya masih kelas 5 atau 6 SD. Menarik! itu yang saya ingat ketika membaca semua rubrik itu. Tapi, anehnya, walaupun topik luar angkasa sangat menarik, saya dulu gak pernah kepikiran punya cita-cita untuk jadi astronot, atau hal sejenis yang berhubungan dengan ke-luar-angkasa-an.

Dan entah kenapa memori itu kembali muncul. Pop! Mengingatkan saya saat pertama kali mengenal topik luar angkasa. Kenapa? Haha, gak ada sesuatu yang spesifik. Hanya saja, saya mendapat trigger ketika selesai menonton film October Sky.

Jadi, film October Sky ini bercerita tentang seorang anak laki-laki yang terinspirasi dengan meluncurnya satelit pertama, SPUTNIK, pada 1957. Saat itu pertama kalinya, manusia bisa melihat benda bersinar pada malam hari yang bergerak dengan cepat, dan berhasil mendapatkan sinyal morse dari benda tersebut. Ya, benda itu, satelit, telah menggugah banyak negara waktu itu. Alhasil, perang dingin terjadi, karena semua negara (gak semua juga sih, tapi lebih ke negara-negara adidaya masa itu) gak mau kalah dengan menunjukkan kehebatan teknologi masing-masing. Lalu, si anak laki-laki (yang saya lupa namanya), tergugah untuk membuat roket. Dari sanalah jatuh bangun, segala kesulitan membuat roket dihadapi oleh si anak kecil. Saat itu, dia duduk di bangku SMA.

Setelah menonton film tersebut, saya memutar memori masa kecil sampai hari ini. Siapa menyangka, ternyata kenyataan manusia bisa keluar angkasa, dan mengeksplorasi secara luas jagat raya ini bukanlah mimpi anak kecil belaka. Ada seri misi voyager, deep space mission yang merupakan hasil dari keingintahuan manusia akan jagat raya. Ada misi mendaratnya bumi ke bulan, dan membuktikan kemungkinan adanya kehidupan di luar angkasa. Ada juga misi pelopor untuk membuat koloni luar angkasa.

Uwaa!!! Terdengar semacem Sci-Fi aja! Tapi, ini nyata! dan ada orang-orang yang sedang menekuni dan melakukan itu! ada banyak kompetisi robot untuk bisa mengeksplorasi permukaan bulan. Ada banyak riset yang berkenaan dengan kehidupan luar angkasa. Jadi, ketika para pemegang kefahaman bumi datar bermunculan, ada banyak orang diluar sana yang sudah berputar mengelilingi bumi dari stasiun luar angkasa dan mengalami siang malam lebih dari 5 kali dalam 24 jam. Merekalah para astronot. Dan ada juga astronot yang beragama islam dan masih melakukan sholat selama tugasnya di stasiun luar angkasa. Isn’t it exciting?

Kehausan manusia akan ilmu alam semesta memang sangat luar biasa. Kehausan itulah yang telah memberikan dorongan akan kemajuan teknologi sekarang. Banyak yang bilang bahwa misi luar angkasa hanya buang-buang duit negara, tapi hasilnya juga sebanding. Mungkin untuk negara-negara berkembang, masih sulit untuk bisa dengan ikhlas mendanai berjuta-juta dolar misi luar angkasa. Karena aplikasinya yang tidak langsung terasa langsung, katanya. Padahal kalau pada tahu bagaimana GPS bekerja, mungkin orang-orang yang bilang seperti itu akan menarik kembali ucapannya.

Saya rasa, misteri tentang alam semesta ini tidak akan pernah bisa tergali jika manusia tidak melakukan misi luar angkasa. Baru-baru ini (tahun lalu sebenarnya), telah dikonfirmasi tentang adanya Gravitational Waves, yang sebelumnya cuma teori oleh Einstein. LIGO, pusat observasi gravitational waves ini gak menghabiskan satu atau dua juta dolar saja. Bermilyar dolar! dan juga waktu yang bertahun-tahun! sampai akhirnya mereka bisa mengkonfirmasi adanya gravitational waves ini. Tapi, kalau sudah dikonfirmasi, memang kenapa?

Jadi, Gravitational waves yang terdeteksi ini merupakan hasil dari kejadian alam semesta, seperti black hole yang tabrakan, bintang yang meledak, bahkan dari kelahiran alam semesta (yang dari dulu sering disebut big bang). Mendeteksi gravitational waves artinya kita bisa melakukan pengamatan tentang alam semesta, apa yang terjadi di dalamnya. Dan gak seperti radiasi elektromagnetik, gravitational waves yang dihasilkan oleh, contohnya, black hole yang tabrakan, akan membawa informasi tanpa distori selama melintasi ruang intergalaksi. Kalau biasanya radiasi elektromagnetik akan mengalami peredaman, dan juga distorsi, maka gravitational waves tidak. Inilah yang menyebabkan pendeteksian gravitational waves menjadi temuan luar biasa tahun lalu.

Oke, sebenarnya masih agak membingungkan sih. Saya juga gak ngerti-ngerti amat haha. Untuk lebih jelasnya, silakan mengacu ke web pusat observasi LIGO (https://www.ligo.caltech.edu/).

Jadi, jika berbicara tentang luar angkasa, ada banyak hal yang belum manusia ketahui. Ada banyak hal yang perlu dikaji dan masih menjadi misteri. Jadi, mungkin mimpi untuk perjalanan antar galaksi kayak Star Wars masih jauh ya, apalagi untuk yang masih percaya konsep bumi datar, hehe. Tapi yang pasti, alam semesta itu sangat luas. Saking luasnya, selama berpuluh-puluh tahun sejak era space race mulai, rahasia alam semesta masih belum terkuak sepenuhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s