What Makes a ‘Wrong’, Wrong

Saya gak pede dengan judul diatas tapi bodo amat ah. Mungkin bahasa inggrisnya agak kacau, yang sebenarnya saya ingin menyampaikan : ‘Apa yang membuat ‘salah’ menjadi salah’. Karena saya belum kepikiran untuk meneruskan seri membedah jagat raya, saya malah kepikiran menulis ini. Salahkanlah sebuah artikel yang secara random saya baca tentang seseorang yang dijatuhi hukuman tapi banyak orang yang berpendapat bahwa orang tersebut tidak salah.

Lalu saya berpikir tiba-tiba: apa yang membuat seseorang berkata bahwa ‘itu salah’?

Kalau dulu di SD belajar tentang padanan kata, pasti ada istilahnya lawan kata. Besar adalah lawan kata dari kecil. Tua dengan muda. Kaya dengan miskin. Hitam dengan putih. Cantik dengan jelek. Salah dengan benar. Tapi semakin bertambah usia, kata yang dipelajari semakin banyak dan sayangnya kita gak lagi bermain dengan lawan kata. Gak ada yang bertanya apa lawan kata dari sedang. Selain kaya dan miskin, ada yang namanya sederhana. Lalu ada abu-abu dan beragam warna lainnya diantara hitam dan putih. tapi apa yang terjadi dengan diantara salah dan benar? apakah memang sesuatu bisa menjadi sangat jelas salah, dan sangat jelas benar? Apakah ada ukuran tertentu tentang parameter salah itu?

Ketika seseorang mencuri, lalu tertangkap, banyak yang berpendapat bahwa si pencuri itu salah. Meskipun ada alasan di balik mencuri, yang bisa jadi dia sudah lama tidak makan dan tidak punya uang sama sekali. Atau dia memang hobby mencuri, atau bisa jadi dia disuruh untuk mencuri oleh orang lain. Tapi, saya fikir sebagian besar orang, ketika pertama kali bertemu sang pencuri, mereka pasti berfikir: Si pencuri salah!

Lalu kita bandingkan dengan kasus Robinhood. Seorang tokoh fiksi (?) yang hobby mencuri dari orang kaya dan hasil curiannya di bagikan kepada orang yang membutuhkan. Berkat tindakannya, Robinhood malah disukai banyak orang. Lho, bukankah sama-sama mencuri? ‘Ah, kan dia mencuri untuk kebaikan, dan yang dia curi adalah orang-orang kaya. Jadi tak masalah!’

So, apakah menjadikan mencuri salah?

Seorang anak diajari untuk tidak berbohong. Orang tuanya bilang: ‘Nak, kamu tidak boleh berbohong ya, karena berbohong itu salah’. Lalu si anak mengiyakan. Kata-kata itu ia camkan dalam hati. Hingga suatu saat ada masa ketika dia harus berbohong. Lalu dalam hatinya ia merasa, ‘Ah, aku telah berbuat sebuah kesalahan’. Anak tersebut menyadari perbuatannya.

Lalu ada anak lain yang bertanya kepada orang tuanya: ‘Ayah, kalau aku harus berbohong untuk kebaikan, apakah boleh? Misal ketika aku dipaksa untuk pergi bermain ke tempat yang tidak bagus, lalu aku bilang kalau aku disuruh pulang padahal sebenarnya tidak, apa itu boleh?’

Untuk itu, apakah berbohong itu salah?

Setelah saya berfikir lama-lama soal hal yang mungkin makin bias pada zaman ini, ternyata soal salah atau betul relatif. Gak ada parameter jelas sesuatu di katakan salah atau betul.

EITSS! jangan berhenti baca dulu. Setelah saya berfikir seperti itu, kemudian sesuatu melintas di pikiran saya, suatu pertanyaan yang sangat dasar: Apa iya gak ada parameter jelas? lalu dari mana semua ajaran yang dicamkan oleh orang tua kepada anaknya tentang salah-benar?

Ternyata, memang perkara salah benar mengacu pada parameter paling dasar di kehidupan sosial: suara mayoritas. Jika suatu perkara dalam mayoritas dikatakan benar, maka suatu hal menjadi benar. Jika salah, menjadi salah. EITTS!! apa betul hanya karena mayoritas? Lalu dari mana munculnya suara mayoritas itu?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya ingin menceritakan pengalaman saya. Beberapa hari lalu, teman saya, dari Philippine, minta tolong untuk ikut menginap di rumah saya selama 1-2 hari. Tenang, cewek kok, tapi memang, dia bukan muslim. Saya gak masalah, toh dulu pernah travel bareng dan juga nyewa kamar di Ryokan (hotel khas jepang yang satu kamarnya beberapa orang) barengan sama kawan saya yang dari Jepang juga. Uniknya, dia bertanya pada saya: ‘Rahmi, berapa kali kamu sembahyang dalam sehari?’ lalu saya jawab: lima kali. Lalu dia bertanya waktunya, dan cukup kaget karena waktu subuh yang sangat pagi (karena sekarang sudah masuk masa spring, dimana jam 5 lewat 20 an matahari udah terbit). Lalu dia bertanya: ‘Apa yang terjadi kalau kamu gak sembahyang? apa ada hukuman langsung?’

Mendengar itu jujur saya sulit menjawab. Karena, apa kita membicarakan dosa dengan segampang itu pada orang yang non-muslim? lalu saya ambil jalan simple. Saya tertawa kecil (gak tahu kenapa pingin ketawa waktu itu) dan berkata: ‘Untuk sekarang, mungkin kita gak merasakan hukumannya. Itu semua ada di dunia setelah ini (saya bilang sih “the day after“). Jadi gak ada hukuman yang kerasa langsung di dunia ini. Tapi, memang, itu hubungan diri sendiri dengan tuhan (saya bilangnya: ‘It’s between you and the god‘).’ Setelahnya, saya bilang sama dia tolong jangan lihat saya kayak orang ekstrimis (karena saya takut dia malah jadi takut sama saya). Beruntungnya, dia malah bilang, ‘Gak kok, aku cuma penasaran, karena kamu sangat committed sama agama kamu’. Duh, dibilang gitu saya malah malu. Karena jika dibandingkan dengan kawan-kawan saya lainnya, masalah baju dan kerudung saja saya masih jauh. Sering juga lalai dalam banyak hal. Hiks. Lalu dia bilang : ‘Aku pikir semua muslim kayak gitu. Tapi mungkin berbeda-beda ya (Karena dia pernah lihat orang muslim yang gak solat juga). Aku pikir itu semua karena keluarganya. Ada yang memang diajarkan sejak kecil untuk tetap melakukan kebaikan, jadi walaupun setelah besar dia berbuat salah, orang itu tetap akan menemukan jalan kembali kepada yang benar.’ BTW, kawan saya itu dia katolik lho (walaupun dia ngaku sendiri dia juga gak begitu ‘solehah‘, hehe).

So, apa hubungannya dengan judul ini?

Tetiba saya teringat tentang pembicaraan dengan kawan saya itu tentang benar-salah. Mungkin apa yang dia katakan betul. Ketika seseorang dididik dari kecil oleh keluarganya tentang nilai-nilai yang baik, sampai besarpun nilai tersebut akan tertanam. Ketika orang tersebut melakukan kesalahan, dalam hatinya pasti ada suatu kesadaran: ‘Ah, aku telah berbuat salah’. Lalu darimana orangtuanya tahu tentang benar salah. Dari kakek neneknya. Dari buyutnya. Dari pendahulu-pendahulunya. Jadi dalam kata lain, nilai benar salah itu telah tertanam berabad-abad. Lalu darimana sumber salah benar? karena saya muslim, yang saya percayai tentang sumber segala sesuatu adalah sang pencipta makhluk. Tuhan. Allah. Lalu makhluknya belajar dari firmanNya, yang saya yakini diturunkan lewat rasul-Nya. Al-quran.

Saya yakin, untuk kawan saya pun itu, yang beragama katolik, mereka belajar tentang benar-salah dari apa yang diyakini sebagai sumber segala sesuatu. Mereka meyakini tuhannya. juga alkitabnya. Pun dengan orang yang beragama lainnya.

Lalu, kalau begitu, apakah nilai benar salah itu relatif terhadap agama? Saya yakin semua agama mengajarkan hal-hal baik. Tapi bukan berarti saya bilang bahwa semua agama itu benar lho (maaf kawan, jika anda non muslim dan membaca ini, bukan berarti saya menyinggung kalian, tapi ini sesuai kepercayaan/akidah saya). Saya hanya meyakini bahwa tuhan saya hanyalah satu, Allah SWT, dan agama yang paling benar adalah Islam. Maaf, sekali lagi, tapi soal keyakinan (akidah) ini saya rasa semua orang mustinya faham. Penganut agama lainnya pun pasti merasa bahwa tuhannya itu memanglah tuhannya.

(Pikiran saya mulai pusing. Rasanya bahasa yang saya gunakan berbelit-belit, tapi bodo amat. Toh ini lahan bebas buat cerita)

Intinya, saya ingin bilang bahwa sesuatu bisa bernilai salah atau benar karena memang sumber dari hal itu sendiri. Jika saya bertanya: apakah membunuh itu salah? iya. Saya yakin siapapun, dari suku manapun, dari agama manapun, selama mereka diajarkan kebaikan sejak kecil, mereka akan menjawab: iya. Sama halnya dengan menyakiti orang lain. Sama halnya dengan mengejek. Sama halnya dengan memaki-maki. Sama halnya dengan berbohong. Sama halnya dengan mencuri. Sama halnya dengan berbuat curang. korupsi. Dan segala tetek bengek hal-hal busuk yang ada di dunia.

Lalu mengapa manusia mulai bingung dengan salah benar ini?

Ada orang yang korupsi (literally mencuri) tapi tetap lolos hukum dan dinyatakan gak bersalah. Ada yang kena kasus penghinaan pada satu kelompok tapi masih banyak orang yang bilang dia gak salah. Ada sebuah perang yang melibatkan korban jiwa sangat banyak, gak manusiawi tapi dunia bahkan PBB bingung buat menghentikannya. Ada selebriti yang kelakuannya kasar tapi malah jadi trend anak muda sekarang. Ada yang berkata kasar tapi malah dijadikan panutan dengan opini: gak masalah kasar asal pintar. Ada yang lebih memilih mencari pekerjaan dengan cara gak halal yang penting uangnya besar.

Tapi, saya rasa, jauuuh di lubuk hatinya, jika dia memang manusia dewasa, baligh, waras, dll, setidaknya ada suatu masa dia merasa: ‘Ah, apa yang kulakukan salah’.

So, what makes ‘wrong’, wrong?

Udah ah. Cape mikir dan ngetik lama-lama. Ngebikin lebih bingung lebih jauh. Dan sebelum saya menimbulkan konflik bagi yang baca, saya ingin bilang: “Jika saya salah dalam menulis hal ini, mohon maafkan, serius, mohon maaf. Saya hanyalah manusia biasa yang cuma sering kepikiran hal gak penting”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s