Membedah Jagat Raya: Part 2 – Bumi

Bumi, tempat tinggal Kita

Bumi, tempat tinggal Kita

Waktu itu siang hari, pernah saat seminar Space Engineering yang kadang membosankan, saya nyaris tertidur. Lalu kemudian terkejut lantaran asprof tiba-tiba nyeletuk: “Kalian tahu gak sebenarnya luar angkasa itu dari mana mulainya?”

Terus tiba-tiba semua jadi diam dan kelihatan bingung. Hoo… ternyata pada bingung juga kalau ditanya tiba-tiba kayak gitu. Lalu ada yang jawab setelah beberapa kilometer altitude, dll. Ada juga yang menjawab kalau substansi dari sekeliling sudah berubah (apalah ini saya gak inget). Lalu Asprof mejawab dengan santainya, “Kalau kalian pergi menggunakan pesawat luar angkasa, dan melihat ke tepi horizon, kalian akan melihat batas cahaya dan gelap. ketika kalian sudah masuk ke ruang gelap itulah, luar angkasa dimulai”. Hooo… saya cuma bergumam dalam hati. Beberapa bulan lalu, saya iseng-iseng nyari-nyari kalau luar angkasa ada yang menyebutkan mulai dari lapisan Thermosphere (sekitar dari 90 km). Lalu selanjutnya lebih dikenal sebagai Exosphere. Tapi rata-rata kalau nge-search di gugel, dibilangnya kalau luar angkasa mulai dari altitude 100 Km.

Deket banget ya? Kayak jarak dari univ saya sekarang ke Prefektur Saga yang cuma tetanggaan.

Tapi lagi-lagi, di semester ini, saya kan mengambil kuliah Space Law (yang ujiannya ngebuat kepala pusing), disana disebutkan bahwa gak ada definisi pasti tentang luar angkasa. Maksudnya mulai dari mananya, belum ada definisi pasti. Hm… aneh juga ya. Karena itu, sebelum membahas luar angkasa, mungkin akan lebih baik jika kita mengenal dari bumi dahulu. Kenapa bumi? Sebab inilah tempat dimana makhluk yang gak pernah puas bertempat tinggal.

Bumi itu lengkap. Kalau dulu diajarin di sekolah pasti dibilang kalau Allah sudah menciptakan bumi sebagai planet dengan segala kebutuhan bagi makhluknya ada. Di bumi ini, oksigen tersedia. Bumi juga mempunyai gaya gravitasi sehingga makhluk yang tinggal di dalamnya gak melayang-layang. Lebih oke lagi karena posisi bumi dari matahari yang ga terlalu dekat ataupun kejauhan. Jadi, temperatur terpanas atau terdingin di bumi ini saja, masih memungkinkan adanya kehidupan. Ini dikarenakan adanya atmosfer bumi yang memungkinkan suhu bumi terkontrol. Lapisan atmosfer ini pula yang melindungi bumi dari kerasnya kehidupan luar angkasa. Seperti meteor yang ukurannya gede-gede, bisa jatuh ke bumi dalam ukuran yang lebih kecil-kecil karena ke gerus-gerus sama tingginya temperatur saat memasuki bumi. Kalau gak ada atmosfer bayangkan aja, berapa banyak benda angkasa yang dengan mudahnya bisa tertarik gravitasi bumi, lalu menghantam makhluk yang ada di dalamnya.

Yap, secara singkatnya, bumi ini adalah sebuah planet yang diciptakan oleh Allah dengan sebaik-baiknya kondisi, sehingga makhluk bisa hidup di dalamnya. Itu yang saya, sebagai orang Islam, percaya. Lalu bagaimana pandangan orang-orang berilmu tentang bumi ini? Terutama bagi yang tidak percaya adanya tuhan?

Rupanya semua saintis juga percaya bahwa bumi ini memang sebuah planet yang ideal untuk di tempati makhluk hidup. Baik yang percaya tuhan ataupun gak, semuanya percaya hal ini. Menakjubkan bukan? gak juga? iya sih. Toh memang kenyataan tentang how awesome is this planet bukanlah sebuah hal yang mungkin baru didengar. Tapi, ketimbang membahas yang memang sudah terlihat dan terasakan, manusia kembali penasaran dengan hal lain. Gimana kalau ada planet lainnya, di luar angkasa ini, yang punya kehidupan seperti bumi? atau bagaimana jika seandainya kalau ada kehidupan diluar sana yang lebih cerdas dan lebih maju dari bumi sekarang?

Nah ini baru menjadi menarik. Saya suka dengan konsep Sci-Fi macem begini. Sebab dengan pertanyaan itu, biasanya semua orang langsung tertarik dengan konsep Alien dan UFO. 

Sudah banyak novel, film, komik, anime, yang juga membahas tentang konsep kehidupan luar bumi. Saya gatel pingin bahas satu novel yang bertahun-tahun lalu saya baca sewaktu masa MTs, judulnya Area-X. Penulisnya Eliza V. Handayani (Yaay, masih inget!). kenapa saya begitu terkesan dengan novel ini? Mungkin karena itu pertama kalinya saya membaca Sci-Fi yang berasa valid banget teori nya waktu itu (kayak konsep UFO, kenapa selalu digambarkan sebagai cakram. Di novel ini dijelaskan dalam kacamata fisika). Sayangnya waktu itu ilmu saya gak nyampe, wkwk. Jadinya sekarang cuma inget hal-hal garis besarnya saja. bahkan dijelaskan juga tentang lingkaran misterius (crop circle) yang sering dikaitkan dengan kemunculan UFO. Tak lupa, ada juga bahasan tentang abduction oleh alien. Bagi yang menyukai sci-fi dan cinta tanah air, sangat direkomendasikan membaca novel ini.Beda dengan bahasa yang digunakan oleh Dee, bahasa di Area-X ini lebih mudah dicerna.

UFO sightings! Is it real? or just image editing?

UFO sightings! Is it real? or just image editing?

Untuk film, kayaknya saya cape bahas satu-satu, karena sudah terlalu banyak yang membahas kehidupan luar angkasa. Tapi ambil yang paling terkenal saja, Star Wars. Saya sendiri mengenal star wars bagian awaaal banget sejak kecil (jaman SD). Waktu itu diputer star wars 3-5 di TV, dan yang paling paling saya inget adalah nama Obi wan Kenobi, dan Jabba the Hutt, haha. Karena itu, kalau ejek-ejekan sama teteh-teteh saya, suka bilang: ‘Ih gendut kayak Jabba Hutt’, wkwk. Padahal ceritanya aja gak ngerti waktu itu. Alhasil, ketika Star wars tahun lalu kembali rilis, saya kebut nonton dari awal lagi. Sekarang jadi ngerti deh jalan ceritanya. Di Star Wars ini, kehidupan luar angkasa, dan space travel sudah menjadi hal yang biasa.

Film lainnya yang paling berkesan adalah MIB (Men In Black). Karena lawak dan jalan ceritanya lain, tentang agen rahasia pemerintah yang tugasnya menjaga kerahasiaan adanya alien. Kalau ada manusia biasa yang pernah melihat langsung UFO atau alien, para MIB akan memanipulasi (atau menghapus, ya?) ingatan manusia itu. Dan jangan lupa juga sebuah film dari India yang sangat terkenal jaman saya MTs, Koi Mil Gaya. Ceritanya tentang seorang anak yang memiliki kekurangan karena sewaktu hamil ibunya mengalami kecelakaan. Si anak ini, memiliki kemampuan otak seperti anak kecil dalam tubuh orang dewasa. Sampai suatu hari, dia iseng-iseng menghidupkan radio peninggalan ayahnya yang telah lama meninggal dan memainkan sebuah nada berulang-ulang. Ternyata, nada itu kayak semacem signal untuk komunikasi dengan makhluk luar angkasa. Dan ketika makhluk luar angkasa ini datang ke bumi, satu dari mereka tertinggal dan menjadi sahabat si anak ini. Yang menarik adalah si alien ini, yang selanjutnya dipanggil Jadu, ternyata sakti banget. Bisa nyembuhin bahkan membuat si anak ini menjadi seperti orang normal (kemampuan otak dewasa setara umurnya). Selebihnya sih intinya romance, haha. Tapi okelah untuk masa itu, cerita romance dibalut sci-fi ternyata sangat menarik.

Microgravity Test

Microgravity Test

 

Tapi dari banyaknya cerita ini, ternyata mengilhami banyak enjiner dan saintis untuk menemukan kehidupan diluar bumi. Jadi lahirlah deep-space mission yang dilakukan oleh NASA beberapa tahun lalu. Dilakukan juga percobaan biologi di microgravity condition di ISS. Bahkan ada juga misi untuk mengembangkan bakteri di mars, melihat apakah bisa kehidupan terbentuk disana. Lebih menarik lagi, ketika muncul teori tentang dunia paralel dalam kacamata fisika. Ok, kayaknya saya harus berhenti disini, kalau gak bakal lebih jauh ngelantur.

Bagaimana menurut islam? Ada yang menarik. saya ingat waktu di MAN, ada semacam training motivasi, terus ujug-ujug ada satu slide tentang kehidupan di luar bumi dalam pandangan islam. Lalu dalam slide itu, dicantumkan Surat Asy-Syura:29:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ

“Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.” (Asy-Syura:29)

‘.. yang Dia sebarkan pada keduanya’, seperti menjawab adanya kemungkinan kehidupan extraterrestrial. Seperti memberitahukan: ada loh, kehidupan luar bumi itu. Ups, tapi saya hanya menyampaikan apa yang dituliskan di quora (https://www.quora.com/Does-Islam-believe-that-aliens-exist), sebab saya tak mau gegabah menafsirkan sendiri. Saya bukan ahli tafsir, jadi saya tak mau seenaknya menafsirkan sesuatu tanpa tahu azbabun nuzul nya (saya langsung teringat pengalaman memalukan yang menjadi pelajaran mendalam tentang masalah tafsir ini). Jadi saya gak mau bahas lanjut.

Lalu mengapa manusia sangat terobsesi dengan kehidupan luar angkasa? Ada yang beranggapan bahwa suatu saat bumi sudah tidak layak untuk ditempati, dan manusia harus mulai mencari tempat tinggal di planet lainnya. Atau kayak yang ada di anime Gundam Seed Destiny, dibangun Space Colony, PLANT, yang memungkinkan untuk ditinggali oleh manusia. Dianggap bahwa bumi sudah terlalu sesak, dan manusia harus mulai mempersiapkan untuk ini. Untuk itulah mengapa beberapa negara mau berani bayar mahal untuk misi luar angkasa. Demi menjawab semua kebutuhan di masa depan(?), mereka berinvestasi dari sekarang. Lalu, apakah ketika memang bumi gak layak dihuni lagi, kita cuma keluar lalu membuat kehidupan di planet lain? Sebenarnya agak lucu kalau cuma mikir kayak gini. Kenapa gak membereskan masalah di bumi, bukan lari dari ini? ini sih simpelnya. yaa… realita gak kayak gini juga sih.

Tapi memang, kalau kita list masalah apa saja yang ada di bumi sehingga bisa membuat bumi makin ‘sakit’, ada banyaak sekali: Masalah sampah, pertumbuhan penghuni bumi, global warming, perang, dst. Dan makin banyak difikir, berujung pula pada sumber pembuat masalah yang sebagian besar adalah manusia. Seperti dalam surat Ar-Rum : 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)“. Uwaaah… manusia. Rasanya pengen nge-revisi part-1 dari serial membedah jagat raya ini, wkwk (udah kayak nulis skripsi atau buku aja).

Memang apa saja kerusakan yang manusia perbuat? Menghasilkan sampah yang berton-ton jumlahnya. Pernah dilansir di beberapa berita tentang sampah, perorang dalam satu tahun bisa menghasilkan sekitar 712 Kg (http://inhabitat.com/this-woman-can-fit-two-years-of-trash-in-one-small-mason-jar/). Coba kalikan dengan berapa jumlah manusia di bumi sekarang. Fiuuh, masalah sampah ternyata gak main-main. Belum lagi sampah dari perusahaan yang bentuknya merusak lingkungan langsung (sisa zat kimia, asap pembakaran, dst). Jelaslah global warming mengancam kita.

Masalah lainnya, berperang, bunuh-bunuhan dalam skala nasional dan menghancurkan suatu kaum (seperti perang di beberapa negara yang belum selesai sampai sekarang). Siapa yang gak menyadari bahwa ini suatu bentuk kerusakan, rasanya musti mengecek tingkat kewarasan (waduh lebay). Sebab, sisa dari perang ini, apa yang tersisa, selain rusaknya lingkungan, mayat-mayat bergelimpangan, sumber daya yang hilang? Bayangkan kalau skala perang berubah menjadi skala luar angkasa kayak di star wars. Bahkan satu planet pun bisa dengan mudah dihancurkan berkeping-keping. Duh gusti…

So, saya pikir, masalah bumi bukanlah berada pada ‘bumi’ secara personal, tapi pada makhluk yang tinggal di bumi. Mungkin karena saking asiknya dengan segala yang ada di bumi, makhluk bumi mulai lupa, bahwa bumi hanya tempat tinggal sementara. Layaknya tinggal di kosan, kalau yang tinggal gak pernah mau beres-beres, maunya enaknya saja, nyampah aja, pastilah kosan juga jadi gak layak huni kelihatannya (duh ini contohnya maafkan gak kompatibel).

Tapi, apakah kita harus menyerah dengan deep space mission?  Saya sendiri sih sebagai salah satu orang yang lagi belajar berhubungan dengan ini, rasanya mau menjawab: nggak dong! haha. Sebab pasti ada sesuatu yang bisa kita pelajari ketika kita mengeksplor sesuatu yang belum kita ketahui. Tapi bukan dengan alasan bahwa bumi sudah tak layak huni! bukan! itu sih seperti pikiran melarikan diri saja…

Bumi ini, tetap harus kita jaga. Karena bumi ini juga, adalah satu part keciiil dari jagat raya yang super luaaas ini. Ketika kita membedah jagat raya, terkadang manusia melupakan hal penting ini. Apakah karena kearoganan manusia sehingga selalu lupa? Wallahua’lam bisshawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s