Membedah Jagat Raya : Part 1 – Manusia

Human and Artificial Intelligence

Jagat raya, alam semesta, luar angkasa, dan istilah lainnya agak sedikit menggelitik rasa penasaran saya akhir-akhir ini. Mungkin karena saya sekarang sedang belajar sesuatu yang berhubungan dengan luar angkasa? Bisa jadi. Padahal dulu saya selalu berfikir para astronom yang memang keahliannya dalam ilmu perbintangan adalah orang-orang yang mungkin pemikirannya tidak akan sampai pada saya. Sebab ilmu astronomi, selayaknya selalu mahasiswa ITB bilang, perlu skill tinggi di bidang fisika dan matematika. Yang mana, itu bukan saya banget. Tapi ketika takdir selalu mempertemukan saya dengan hal yang saya anggap tak mungkin, rasa penasaran itu bangkit. Lalu ditambah dengan kuliah yang baru-baru ini saya ambil, Space Law, menggelitik saya untuk mencoba menulis apa yang ada dipikiran saya selama kuliah berlangsung.

Kuliah Space Law ini, dosennya adalah dosen tamu, yang cuma datang selama semester genap ini. Kebetulan juga dia salah satu orang yang mencanangkan program beasiswa yang sekarang saya jalani, PNST. Namanya Werner Balogh, salah satu orang yang bekerja di UN Secretariat di Vienna, bagian Outer Space atau lebih dikenal dengan UNOOSA (United Nations Office for Outer Space Affairs). Yup, United Nations! alias PBB. Dan yup! beasiswa saya memang kerjasama antara UN dan pemerintah Jepang, meskipun sumber dananya lebih dikenal dengan nama Monbukagakushou. Oke, kita sudahi perbincangan beasiswa PNST. Jadi intinya, Sir Werner Balogh akan ngasih kuliah sama kami yang ambil program Space.

Kuliah pertama sangat menarik, bahkan bisa saya bilang menggugah. Karena dia menjelaskan runutan mengapa sekarang sektor luar angkasa menjadi salah satu sektor kompetitif antar negara. Rupa-rupanya, memang semua berasal dari sejarah perang. Setelah perang dunia II selesai, dan negara-negara sepakat untuk berdamai, dimulailah Cold War atau perang dingin. Di perang dingin inilah, semua negara unjuk gigi dengan kemajuan teknologi, seolah mau bilang: ‘Kita lebih hebat!’

Wow, manusia.

Itu yang saya fikirkan setelah mendengar penjelasan itu. Memang sebenarnya sejarah macam ini bukan hal baru bagi saya, sebab waktu SMP kalau gak salah pernah disinggung juga tentang perang dingin. Tapi ada yang lebih menarik lagi sebelum kita lebih jauh membahas luar angkasa, yaitu teknologi di bumi.

868714-13324746734794471-robert-hallberg

Grafik di atas bukan grafik terbaru, karena terhenti di 2012. Tapi setidaknya sedikit menggambarkan tentang pertumbuhan teknologi yang makin hari makin cepat. Sampai suatu waktu di kelas, Sir Werner cerita suatu fakta yang sedikit menggelikan plus membuat ngeri: ‘Sekarang ini para penguasa bidang teknologi seperti google, microsoft, apple, dsb akan mulai mencari jalan bagaimana caranya agar bisa menikmati uang yang sudah mereka kumpulkan’. Saya fikir, memang apa salahnya? Lalu dia meneruskan: ‘Mereka akan mulai berpikir bagaimana cara menikmati uang selama mungkin, atau bahkan kalau bisa selama-lamanya, karena mereka sudah susah payah bekerja untuk itu..’

‘… Karena itu ada yang sudah mulai berpikir untuk menciptakan upgrade organ tubuh dan juga memori otak. Kalau ada organ yang rusak, tinggal nanti di-upgrade, atau membeli yang baru. Bahkan bisa diperhitungkan juga kalau AI di masa mendatang akan bisa mengalahkan otak manusia…’

Di dalam kelas, saya nyengir, antara geli, merasa aneh, dan ngeri. Yang lain, ada yang tertawa kecil, ada juga yang tertawa hambar.

Haha, manusia.

Saya lagi-lagi sontak berfikir begitu. Entah kenapa itu hal pertama yang muncul di otak saya. Sebab, mungkin ada sedikit rasa geli ketika mendengar penjabaran kuliah. Dari zaman dulu sampai sekarang, dari kitab manapun, atau bahkan dari cerita daerah manapun, manusia selalu digambarkan sebagai makhluk bumi yang tidak pernah puas. Saya manusia, tentunya, dan memang itu yang terjadi. Tapi, adakalanya, melihat tingkah laku manusia lain yang kepuasannya tidak pernah berhenti, membuat berdecak-decak juga.

Contohnya tentang Space Program yang sekarang menjadi bagian dari kompetisi negara-negara di dunia. Saya pernah melihat cuplikan video dari presiden lama Amerika, John F. Kennedy, ketika dia memberikan speech yang menentukan Amerika dalam mencanangkan program manusia pergi ke bulan. Di pidatonya itu, dia bilang:

We choose to go to the moon, in this decade and do the other things, not because they are easy, but because they are hard, because that goal will serve to organize and measure the best of our energies and skills, because that challenge is one that we are willing to accept, one we are unwilling to postpone, and one which we intend to win, and the others, too.’

one which we intend to win. Pada dasarnya memang mereka tidak ingin kalah dari negara lainnya dalam hal teknologi. Sebab perang dingin hasil dari perang dunia ke-2 ternyata menimbulkan efek luar biasa. Jika negara lain bisa meluncurkan satelit, maka kita harus meluncurkan manusia ke bulan, itu mungkin yang dia pikirkan saat itu. Sama dengan sejarah yang terjadi saat SPUTNIK, satelit pertama buatan Rusia luncur ke orbit pada Oktober 1957. Pada saat itu, baik Amerika dan Rusia mempunyai dua orang enjiner yang jenius dalam bidang space program. Dari Amerika, ada seorang enjiner yang berasal dari Jerman dan terlibat dalam partai Nazi, Wernher Von Braun. Awalnya, Von Braun mengembangkan semua roket dan lainnya untuk keperluan perang atas desakan pemerintah Nazi. Setelah berbagai macam hal terjadi, akhirnya ia bekerja untuk Amerika dalam pengembangan roket dan satelit. Sedangkan dari Rusia, ada enjiner yang juga jenius, Sergei Korolev. Sebelum dia menjadi tombak teknologi Rusia saat itu, dia pernah masuk penjara dan sebagainya. Yang membuat saya cukup geli, lagi, adalah sejarah kecil dibalik SPUTNIK yang mengapa harus luncur pada tanggal 4 Oktober 1957. Pada saat itu, SPUTNIK dijadwalkan luncur pada 7 Oktober 1957. Tapi ternyata Amerika juga telah merancang satelit dan bermaksud untuk meluncurkannya pada hari yang sama. Tentu, tanggal peluncuran adalah rahasia negara. Namun, Sergei Korolev, mendengar berita dari agen bahwa pada tanggal 7 Oktober, Amerika juga bermaksud meluncurkan satelit. Tentu, mengetahui hal itu, umpamanya Korolev ada pada jaman sekarang, dia bilang,

‘Kita harus jadi yang pertama meluncurkan satelit! Gak boleh keduluan sama Amerika! Kita luncurkan lebih dulu pada tanggal 4 Oktober!’

jadilah satelit pertama yang luncur adalah SPUTNIK dari Rusia. Haha, agak lucu sih. Tapi inilah yang memang disebut sebagai Space Race. Negara-negara adidaya sangat bersemangat tidak ingin kalah dari yang lainnya, ingin menunjukkan bahwa mereka lah yang terhebat.

Oke, kita ambil bagian kecil dari niatan mereka. Pada dasarnya, ternyata niatan mereka adalah tidak ingin kalah. Sebuah niatan yang kalau dipikir lagi terasa sangat kekanakan, ya? Tapi memang beginilah manusia. Siapapun, dimanapun, kapanpun, tak memandang dia muda atau dewasa, kadangkala niatan kekanakan adalah penyebab dari segalanya. Coba tengok kisah Jiro Horikoshi, seorang pemuda Jepang yang bermimpi sejak kecil untuk terbang. Ternyata mimpinya menjadi pekerjaan yang dia geluti sampai dewasa. Dan terbukti akhirnya dia berhasil membangun pesawat zero fighter yang juga terkenal sebagai pesawat pembunuh pada saat perang dunia ke dua. Alasan dari masa kanak-kanak yang lebih dikenal orang sebagai mimpi.

Oke, kembali pada masalah mengerikan yang saya ceritakan sebelumnya. Jadi bagaimana jika pada masa datang, di dunia ini muncul sebuah toko upgrade organ tubuh? atau upgrade memori otak? atau suku cadang jantung? jika itu terjadi, bagaimana dengan dunia ini?

Ini sama seperti banyak cerita yang saya baca, lihat, atau dengarkan dari orang lain. Ternyata, keinginan manusia yang paling mengerikan adalah hidup abadi. Ketika mereka terlalu mencintai dunia dan takut akan mati. Dalam islam, ini adalah dua penyakit yang harus di waspadai. Seperti yang ada pada hadist berikut:

Rasulullah saw bersabda, “Akan tiba suatu saat di mana seluruh manusia bersatu padu melawan kalian dari segala penjuru, seperti halnya berkumpulnya manusia mengelilingi meja makan.”

Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah jumlah Muslim pada saat itu sedikit?” 

Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. 

Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani)

Merinding bacanya. Penyakit hati ini, seperti yang ada pada zaman sekarang. Dan tidak dapat dihindari, mungkin saya bisa jadi salah satunya, namun tidak pernah sadar akan hal itu. Wallahu a’lam.

Namun, ada hal yang menarik dibalik keinginan beberapa manusia untuk hidup abadi. Salah satunya adalah terciptanya banyak cerita dan film fiksi, ilmiah maupun tidak, tentang keabadian. Banyak dari novel, komik, bahkan anime. Paling menarik adalah ide dibalik semua itu yang berbeda beda bahkan seperti memaksakan ilmu sains kedalamnya. Tapi, cerita menarik tetaplah menarik.

Saya akan mulai dari cerita totally based on imagination. Semua orang tentunya tahu Harry Potter, cerita luar biasa karangan J.K Rowling.  Di dalam HP 1, terdapat sebuah batu bertuah yang katanya bisa membuat pemiliknya abadi. Kemudian di HP terakhir, dalam kisah Beedle the Bard: The three brothers, salah satu dari tiga bersaudara dapat terus menghindar dari dewa kematian karena terus bersembunyi dalam jubah tak terlihat (the invisible cloak — lupa bener atau gak). Dengan kata lain, dia bisa hidup abadi, atau bisa hidup sepanjang mungkin sampai sepuasnya. Keren sih idenya, tapi ngeri, dan gak bisa masuk akal, terutama untuk orang yang mempercayai tuhan. Sebab bagi orang yang percaya pada tuhan, pastilah kita tahu bahwa tuhan mengetahui segalanya.

Cerita lainnya, saya akan ambil dari tiga anime yang sudah saya tonton, sebab ketiganya selalu berdasar ilmu sains atau teknologi komputer (yang selalu berakhir dengan fiksi ilmiah yang dipaksakan). Yang pertama adalah The Empire of Corpses (Shisha no Teikoku) dari Project Itoh. Ceritanya ada di masa lalu, saat komputer pertama kali ditemukan. Tapi di zaman tersebut, ada satu teknologi yang berkembang dengan pesat: membangkitkan mayat. Tidak seperti yang saya bayangkan awal, ternyata membangkitkan mayat disini adalah hanya menggunakan tubuh orang yang tak bernyawa lagi, memprogramnya, kemudian si mayat tersebut digunakan untuk berbagai macam keperluan sehari-hari. Misal, menjadi buruh, atau bahkan menjadi prajurit di medan perang. Saya ngeri sih lihat anime yang satu ini. Bahkan ada scene dimana diperlihatkan satu pelabuhan yang hampir semua buruhnya adalah mayat. Wiiiw. Tapi yang berkesan adalah ketika si pemeran utama, Dr. Watson, berpikir bahwa manusia mulai membangkitkan mayat sebab ketidak inginan mereka untuk menerima kematian. Anime kedua yang saya tonton akhir-akhir ini adalah Occultic;nine. Ini lebih gila lagi, sebab eksistensi manusia, saat mati, dalam cerita ini dikisahkan bahwa sama saja dengan eksistensi gelombang elektromagnetik. Jadi, arwah orang mati bisa berada dimana saja, dan jika manusia yang masih hidup bisa menyesuaikan gelombang radio dengan gelombang arwah tersebut, maka kita bisa berkomunikasi dengan mereka. Ceritanya seru sih, tapi agak susah dimengerti. Tapi yang jelas, kita bisa melihat ide dibalik si pembuat cerita: ia tidak mengakui adanya alam sesudah kematian, atau bisa dibilang bahwa arwah akan selalu berada di dunia. Fiuuh… bener-bener khas Jepang yang memang kebanyakan tidak mempunyai agama. Anime ketiga yang paling berkesan adalah Fullmetal Alchemist. Seperti halnya  Harry Potter, dalam FMA juga dikisahkan ada batu bertuah, yang bisa membuat si pemakainya abadi. Bahkan ada juga satu hal tabu bagi para alchemist, yaitu mentransmutasi manusia yang sudah mati. Tapi saya cukup senang dengan penjabaran dari cerita ini, sebab setiap kali ada yang mencoba transmutasi orang mati, maka ia akan berhadapan dengan satu entitas yang mengaku sebagai: “dirimu, satu, alam semesta, atau bisa kau sebut ‘tuhan'”. Lalu si entitas misterius itu akan bilang bahwa betapa arogannya manusia, berusaha membangkitkan apa yang sudah tak ada. Karena itu, si entitas itu akan memberikan hukuman atas kearoganan tersebut. Misal dengan mengambil organ tubuh si alchemist yang melakukan transmutasi manusia. Wih, mantap juga memang ceritanya.

Saya kira masih banyak lagi kisah lainnya yang menceritakan kearoganan manusia untuk bisa hidup abadi. Seolah-olah memang dalam pemikiran manusia, keabadiaan adalah sesuatu yang sangat tinggi. Jika hidup abadi, maka akan menyenangkan. Bahwa hidup abadi, tak perlu takut dengan kematian. Ckckck. Sungguh, mengerikan. Karena itu, saya merasa terlahir dari keluarga muslim adalah nikmat yang tiada terkira. Sebab kita diajarkan dari dulu bahwa segala sesuatu yang hidup akan mati. Bahwa kematian, dan segala hal yang disebut manusia sebagai takdir telah dituliskan jauh-jauh hari pada zaman ajali sebelum manusia terlahir. Bahwa dunia ini, yang sangat manusia cintai, suatu hari nanti akan binasa bersama alam semesta. Bahwa Selayaknya manusia… tidak tertipu dunia.

Saya rasa, topik tentang manusia ini akan lebih sangat panjang lebar jika saya tuliskan (dan masih banyak lagi sebenarnya yang ada dalam pikiran saya setelah berpikir lebih dalam). Dan ternyata susah luar biasa ketika ingin menuliskan secara baik hal pelik yang bergejolak di otak (haduh bahasakuh). I don’t care, yang penting saya agak lega sedikit sudah menuliskannya. Rasanya jika membahas segala kerusakan dunia, pada akhirnya mungkin semua orang sepakat bahwa ulah manusialah itu semua terjadi. Wow, manusia. Tapi bukankah karena kita ini manusia jadi kita bisa berpikiran dan berbuat semacam itu? sebab bagaimanapun, kita telah diberi akal, nafsu, kebajikan, yang bercampur aduk menjadi satu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s