Drama di Bulan Ramadhan

Bulan ramadhan sudah mulai sejak 6 Juni 2016 kemarin. Beberapa teman lab juga ada yang sudah mengerti dengan konsep puasa ramadhan, jadi mereka pun sangat menghormati kita-kita yang lagi puasa. Kayak temen saya, yang sering datang ke meja buat sekedar ngerumpi dan bawa cemilan. Dia menyodorkan cemilan dan saya bilang, saya lagi puasa ramadhan. Seketika dia minta maaf lalu gak jadi makan di depan saya. Padahal saya udah bilang santai aja, mau sambil makan depan saya juga gak apa-apa. Tapi dianya keukeuh gak jadi makan dan lanjut ngobrol kayak biasa.

Toleransi? gak pernah sih mereka diceramahi kata toleransi, tapi mereka sudah menyadari sendiri. Kok sadar? Untuk orang yang bisa berpikir jernih, kata toleransi itu gak usah diajarkan. Tapi dia fahami dengan baik, rasakan, lalu jalankan. Bukan berkoar-koar bilang toleransi dan saling hormat tapi nyatanya cuma membeo saja.

Oya, akhir-akhir ini agak gerah dengan postingan di media sosial yang isinya re-shared orang-orang yang banyaknya mem-beo karena rasa marah. Paling baru ya tentang berita razia warung nasi di bulan ramadhan. Hasil dari berita yang heboh tersebut, banyak orang yang menyumbang untuk Ibu warung nasi yang kena razia itu. Hasil lainnya, ada beberapa peraturan daerah yang dicabut yang gak hanya berkaitan sama perda razia di bulan ramadhan. Kekuatan media sosial emang gak bisa dipungkiri lagi. Terutama jaman sekarang yang dimana orang bisa percaya-percaya saja dan mengamini apa yang orang tulis dan bagikan dengan sudut pandang subyektif. Padahal itu semua gak lebih dari sekedar opini pribadi yang gak jarang dibumbui hal yang berlebihan.

Saya kepingin banget nyebut ini semua sebagai drama bulan ramadhan. Realita yang kemudian dibumbui kata-kata simpatik dan sok empati dan berakhir pada debat kusir di media sosial. Semacam debat : gak usah lebay dalam beribadah, kalau iman kuat ya tanpa razia rumah makan pun pasti gak bakal kegoda. Waduh, nulisnya aja saya udah gerah. Saya sebenarnya dari dulu gak pernah ambil using pendapat orang kayak gitu. Saya cenderung diam saja, karena berdebat dengan orang yang sudah menutup pemikirannya gak akan pernah beres. Tapi saya menjadi gerah kembali ketika membaca sebuah artikel di koran republika online yang di muat pada 14 Juni 2016 kemarin. Judulnya sangat membuat penasaran : ‘Ancaman Komunis, dagelan Warteg dan Novel Najib’. Bisa di akses di:http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/06/14/o8q48l336-ancaman-komunisme-dagelan-warteg-dan-novel-najib. Saya baca sampai tuntas, sampai merasa sedih setelah membacanya.

Dari artikel tersebut saya menangkap keprihatinan penulis pada bergesernya pola pikir masyarakat yang bisa disetir dengan mudah baik oleh teman, media, masyarakat, dan juga hiburan di televisi. Saya sangat menyarankan untuk membaca artikel tersebut, selain bahasanya yang mudah dicerna, juga menohok tajam. Saya ingin menyadur paragraf yang ada di artikel tersebut:

Membaca novel itu, teringat sejarah di Tanah Air. Peristiwa-peristiwa kekejaman komunis di Indonesia era 1948 dan 1965. Kini paham komunis bangkit lagi. 

Tega-teganya di bulan Ramadhan, Islam malah disudutkan. Pihak salah dibela. Dagelan warteg dimainkan dengan menjijikan. Agama dikerdilkan, generasi dirusak tak karuan. Perda-perda syariat diusik, bahkan ingin ditenggelamkan. 

Sistem pendidikan dibuat awut-awautan, belum selesai kurikulum ini, ganti kurikulum itu. Buku-buku ajar pornografi makin unjuk gigi. Desain perusakan kian telanjang. Gegara masalah sepele guru-guru mulai dipenjara, dibuat mengajar dengan tekanan dan dilema. Anak murid makin kurang ajar, amat jauh dari tatakrama. Imbasnya, kondisi sosial benar-benar berantakan.

Akankah di kemudian hari Bumi Pertiwi diambil oleh generasi komunis?  

Membaca karya Kaelani itu, teringat pula obrolan dengan mahasiswa di Cirebon. Katanya, “PKI itu bagus, Bang. Senior saya di kampus bangga terang-terangan dirinya komunis.” 

Ketika ditanya dari mana memperoleh pemutar balikan sejarah PKI itu, sang mahasiswa menjawab: dari diskusi di kampus, buku, dan film-film. 

Dan yang memprihatinkan, orang yang mengaku faham dan beragama malah yang paling bersemangat berkoar-koar tentang semua ini. Ada yang berkoar-koar menjelekkan beberapa peraturan islami yang ada di beberapa daerah. Ada yang berkoar-koar bilang pula kalau peraturan islam gak sesuai zaman. kalau ingin ikut kekinian, maka mencontoh gaya hidup negara maju itu yang paling tepat. Astagfirullah.

Saya kira karena masyarakat kita senang dengan drama televisi, makanya segala realita ini sering dibuat berlebihan. Dari membuat status sampai menyampaikan berita. Sekarang gak aneh lagi jika stasiun berita lebih memilih menyembunyikan fakta biar feeling dramanya lebih greget dan membuat penonton suka. Gak jarang juga masyarakat yang gampang heboh oleh satu berita yang sumbernya masih gak jelas dan asal main share di media sosialnya. Lebih gak jarang lagi yang suka bersumpah serapah karena saking gak sukanya sama satu pihak biar yang lain ikut membeo. Saya makin prihatin dengan ke-lebay-an ini. Mengapa sekarang orang lebih senang menebar kebencian? mengapa pula sekarang orang lebih alergi ketika ditegur dengan dalil agama padahal jelas-jelas kebenarannya? mengapa pula sekarang orang lebih senang berbuat dosa tanpa merasa berdosa sama sekali?

Well, tulisannya jadi ngalor-ngidul nih. Tapi saya cuma agak kegerahan aja. Maklum, cuaca disini sedang panas-panasnya karena memang sudah waktunya musim panas. Humidity yang sangat tinggi ngebuat berkeringat makin gak nyaman. Tapi setidaknya disini suasana ramadhan gak tercoreng dengan drama warung nasi, karena toh disini restoran aja buka kayak biasa (lha iya lah, mayoritas non-muslim haha). Dan seenggaknya ramadhan disini gak tercoreng dengan debat kusir tentang persoalan toleransi. Saya berada di golongan minoritas yang dihormati oleh mayoritas yang gak pernah diajari masalah toleransi beragama sekalipun. Jadi mau sampai kapan masyarakat negeriku yang katanya mengaku beragama saling berdebat tentang toleransi, kalau ditegur oleh aturan agamanya sendiri sudah kegerahan dan bersikeras gak nerima.

4 thoughts on “Drama di Bulan Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s