Menghargai dan Dihargai

Sore tadi, bu manajer proyek dari proyek satelit yang selama (nyaris) dua tahun ke belakang saya masuki, tiba-tiba datang ke meja saya. Karena tiba-tiba, agak malu juga karena saat itu sedang nonton video musik di youtube. Dulu-dulu kalau pas lagi masa proyek, kalau dianya ngedatangin langsung, pasti ada apa-apa. Dikasih tugas baru, ditagih hasil testing, atau disuruh ngulangin testing yang udah pernah dilakukan karena hasilnya gak bagus. Atau apapun lah. Tapi karena proyek literally udah selesai, dianya datang dengan aura yang lebih cerah.

IMG_20160428_180951668“Rahmi, saya tahu ini telat tapi ini ada sedikit pemberian dari saya” Kata bu Manajer. Saya kaget ngelihat bungkus kertas kecil bertuliskan nama “Rahmi”. Tentu, saya langsung bilang makasih banyak. Dan ketika dibuka, saya cukup terharu menemukan selembar kertas berisi surat sang manajer dan dua buah aksesori Horyu 4.

“Thank you for your hardwork and perseverance in HORYU -IV project. Unfortunately, 9600 bps transmission could not be achieved, but in a very short time, you could grasp many knowledge and did an amazing job. This is Success!

`お疲れ様でした!

Faure Pauline, PM” 

Saya cukup terharu dengan surat kecil tadi. Sambil tidak percaya saya tanya kembali ke dianya: “kamu ngebuatin surat satu-satu buat kita? terimakasih banyak…” (ini ditranslate haha). Dianya cuma ketawa.

Saya masih ingat pertama kali masuk proyek ini, dan tiba-tiba dihadapkan dengan banyak hal yang belum beres di subsistem komunikasi. BTW, waktu itu yang ada di subsistem ini cuma ada 2 orang di bagian UHF/VHF dan saya juga agak dipaksa buat ngurusin L-band. Untungnya, di L-band saya agak gabut haha. Ada banyak hal yang saya pelajari, sangat banyak. Sampai-sampai saya merasa beruntung telah diberi kesempatan untuk masuk proyek ini. Meskipun sebagian besar kerjaan lebih ke embedded sistem, elektronika, sedikit teori komunikasi. Dan segala hal yang berbau elektronik (rangkaian listrik) dan juga sistem embed adalah hal yang jadi kelemahan saya. entahlah, dari dulu logika sirkuit elektronika saya gak jalan. Tapi memang Allah selalu menempatkan saya not in a safe mode. Mungkin inilah cara-Nya agar saya bisa belajar lebih lagi. Merasa putus asa, kesal, marah, sedih, merasa paling bodoh dan tertinggal, adalah beberapa dari ujian mental yang saya rasakan ketika masuk ke proyek ini. Dan sebenarnya sampai sekarang sih masih merasa begitu. Rekan satu proyek lebih berpengalaman, lebih pintar, lebih cekatan, lebih praktis. OMG. Rasanya kepingin pulang saja haha. Tapi karena sudah diberi rezeki buat belajar diluar, tentunya gak bisa semau gue pulang aja haha.

Salah satu pelajaran hidup yang saya dapat dari bergabung di proyek ini adalah menghargai pekerjaan walau sekecil apapun. ketika kita memulai menghargai orang lain, maka suatu saat orang lain akan balas menghargai apa yang dilakukan kita juga. Jangan remehkan persoalaan apapun. Dan ini terbukti sekarang. Di subsistem saya, ada satu kerjaan yang tidak berhasil saya selesaikan. Dan saya masih ingat ketika sensei bertanya pada saya: Tapi kamu belajar banyak hal kan? saya terharu. Lesson learned. itu yang selalu mereka tekankan. Bahkan manajer juga bilang begitu. Tapi tetap, pada akhirnya mereka sellau bilang: `お疲れ様でした!yang kalau diartikan : kerja bagus!!! sebagai bentuk penghargaan setelah selesai bekerja. Sebuah ungkapan sederhana, tapi bermakna.

Mari belajar lebih menghargai orang lain terlebih dahulu jika kita ingin dihargai😀

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s