Di Umur 23

Saya ingat beberapa tahun lalu waktu saya masih di bangku SMP (MTs lebih tepatnya), ada satu teman saya yang bilang begini waktu kumpul-kumpul bareng: “Eh gatau kenapa nih akhir-akhir ini suka kepikiran hal yang mengerikan sebelum tidur. Gimana kalau besok-besok bangun ternyata meninggal?”

Ups. Bener-bener serem dengernya (maksudnya untuk sekumpulan cewek SMP waktu itu, dan dia udah kepikiran begitu). Eh jangan salah lho, dia bukan anak yang depresi. Tapi maksud dari perkataannya waktu itu adalah bagaimana jika itu terjadi dan dirinya belum siap sama sekali. Dipikir-pikir keren banget dia udah kepikiran hal kayak gitu. Hal yang dewasa banget. Sekali lagi, jangan pikir dia depresi, karena sampai sekarang dia bahkan sudah berkeluarga, mempunyai anak dan sekarang menjadi seorang guru. Tapi perkataannya waktu itu kembali ke ingatan saya beberapa hari terakhir ini.

Umur 23, bisa dibilang umur transisi mungkin ya. Saya mencoba membuat sebuah teori baru ah. Kebanyakan orang bilang transisi itu dari kanak-kanak ke remaja, kemudian remaja ke dewasa. Tapi, umur kepala dua sering dikategorikan sebagai umur dewasa. Lho kenapa? apa karena di umur segitu sudah banyak orang yang menikah dan menjadi orang tua? atau di umur segitu memang seharusnya pemikiran orang sudah lebih teratur? ataukah di umur segitu, orang seharusnya menjadi bisa lebih diandalkan seperti layaknya kata dewasa yang berseliweran di benak saya. Sosok yang dapat diandalkan. Tapi, tidak juga. Saya masih bertemu teman yang berada di rentang umur 20-25, tapi lebay dan alaynya masih seperti remaja. Saya juga masih ketemu orang yang di rentang umur segitu, tapi cengeng dan labil, mana mungkin bisa diandalkan. Saya juga masih ketemu orang di rentang umur segitu, tapi masih hobi main-main gonta-ganti pacar (padahal di umur segitu udah banyak yang lebih milih nikah). Gak hanya itu, saya masih ketemu juga orang yang baru merasa jatuh cinta kayak remaja (yang ini telat puber kayaknya, macam gue aja).

Jadi, di umur 23, saya kira adalah masa transisi. Transisi dari sosok label dewasa ‘doang’ menjadi dewasa ‘lahir-batin’. Terutama batin sih. Dan juga umur 23 adalah puncak dimana manusia untuk benar-benar memulai sesuatu, ataukah mengakhiri sesuatu untuk sesuatu yang baru (waduh agak ribet, susah ngejelasin yang ada di kepala). Di umur 23, kebanyakan orang yang baru lulus kuliah memulai pekerjaan barunya (tepatnya 22 sih orang yang lulus kuliah kalau tepat waktu). Apakah itu wirausaha, ataukah bekerja di suatu tempat. Itu juga yang jadi pertimbangan orang mulai menikah di umur-umur segini. Karena udah merasa kelar beban kuliah S1 yang biasanya memuakkan di akhir (read: TA). Umur seginian juga mungkin ada yang ngejar pendidikan lebih tinggi S2 dan sebagainya. Di umur seginian juga, saya menyadari suatu hal: tarik menarik urusan dunia dan akhirat.

Saat kuliah S1 dulu, bagi yang sering berkegiatan di klub/unit/kegiatan mahasiswa keagamaan, pasti merasa bahwa kegiatannya itu juga tarik menarik antara belajarkah, ataukah mencari ilmu. Tapi tidak benar kawan, kurasa. Sebab saat S1 dulu, cenderung waktu yang tersedia untuk mencari ilmu akhirat juga cukup banyak. Saya sendiri merasa perbedaannya sekarang dan dulu. Dulu, mencari pengajian saja gampang, tinggal lirik bentar ke masjid Salman ITB. Sekarang, selain faktor lingkungan, saya pikir juga timbul kepentingan yang dirasa lebih besar saat mau memulai belajar agama lagi. Yang bekerja mulai merasa waktunya cukup terkuras untuk pekerjaan. Berangkat pagi, pulang sore, terkadang lembur sampai malam. Gak bisa kayak dulu kuliah yang menyesuaikan waktu berangkat dan pulang dengan jumlah SKS yang diambil. Jadinya saat pulang, rasa cape menghalang. Yang lanjut kuliah, jadwal eksperimen, riset, dsb merasa menguras waktu. Bahkan lebih merasa serem gak nyelesaian presentasi sebelum meeting sama sensei ketimbang menunda waktu sholat. Yang Berkeluarga (saya nerka-nerka ya, soalnya belum berkeluarga hehe), mungkin bisa lebih luang (sepertinya), kecuali jika sudah mempunyai anak yang kemudian juga menyita 24 jam waktu untuk sekedar menyempatkan belajar agama.

Tarik menarik urusan dunia dan akhirat.

Saya sedikit tersenyum ketika menulis ini. Tersenyum miris karena sadar bahwa akhir-akhir ini rasa jauuuh dari urusan agama terjadi pada diri pribadi. Karena itulah entah kenapa, saya kembali teringat perkataan teman waktu dulu: bagaimana saat esok terbangun, saat itu pula hari terakhir kita menghirup napas?

Dari sinilah saya kemudian bertanya dalam hati: apakah urusan akhiratku yang telah lama dikesampingkan bisa jadi jaminanku nanti saat berpulang? Ingin rasanya menangis dan memarahi diri yang selalu lalai. Dan kelalaian itu, selalu terjadi, setiap detiknya. Mengingat ini sekarang, lupa satu menit kemudian. Aduhai, benar manusia. Di usia 23 ini, apa yang telah kucapai? itu yang sering saya tanyakan dalam hati. Tapi berniat untuk pertanyaan dunia saja. Seharusnya, dan saya harap saya bisa selalu ingat, mulai sekarang bertanya: di usia 23 ini, apa pencapaian untuk dunia dan akhiratmu?

Ini semua kembali mengingatkan saya pada satu hadits:

ِعْـمَـلْ لِـدُنْـيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِـيْشُ اَبَـدًا وَاعْـمَـلْ لِاخِـرَتِكَ كَأَنَّكَ تَـمُوْتُ غَـدًا  (رواه  الـبيهقى

“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalan untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.” (riwayat Baihaqi)

Saya pertama kali mendengar hadits ini saat sekolah agama kelas 5 (setingkat SD kelas 5) dan gak begitu faham maksudnya. Tapi sekarang, setelah saya cerna lebih dalam, hadits ini begitu menohok pada manusia. Menyuruh kita untuk selalu mengingat akhirat, tapi tidak lantas mengabaikan urusan dunia. Juga untuk menjaga agar kita tetap bersemangat saat bekerja. Dan bagaimanakah saya di umur 23 ini? Sudah seberapa sering saya melupakan bekal untuk akhirat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s