Karena “Cuma” 100 Yen

Hari itu, ada diskon besar-besaran di beberapa toko. Banyak orang yang berburu barang, dan saya cuma ikut-ikutan aja, tapi dengan niatan lain. Cuma pingin tahu aja gimana hebohnya orang sini ketika antri barang diskon. Dan antriannya ternyata gak becanda banget lah. Ada yang udah antri dari pagi banget, meskipun udara dingin menusuk. ckckck. Saya sih, karena gak bermaksud cari diskonan, tapi kepingin jalan-jalan, gak merasa sakit hati karena gak masuk antrian haha. Hari itu juga saya ketemu dan makan bareng sama temen lainnya. Beruntung ada toko udon ‘halal’ terdekat. Mengingat perut lapar karena sejak pagi gak makan, rasanya sungguh nikmat. saya menghabiskan udon dalam waktu super singkat. Hingga ada teman yang makanannya gak habis, dan masih nyisa beberapa gorengan. Saya bilang, bungkus ajalah sayang kalo gak dihabisin. Biasa, prinsip mahasiswa saya masih kental–gak boleh nyia-nyiakan makanan. Terus dianya bilang:” yah, kalau dibungkus dan dimasukin ke tas, pakai apa?”. Saya bilang: pakai tisu aja lah. Dianya kemudian bilang lagi: “Yah, gak level dong. Tasnya seharga 1 man (sekitar Rp 1 juta), harus ngebelain gorengan yang cuman 100 yen (sekitar Rp 10 ribu)”. Dan entah darimana datangnya, saya tiba-tiba nyahut: “Tapi masih banyak lho yang gak bisa makan gorengan seharga 100 yen itu diluar sana”. Lalu saya sendiri tersentak kaget. Tumben “si gue” berani bilang begitu. Habisnya, berasa takut juga kalau tiba-tiba diketawain atau dianggap rese. Untungnya nggak sih.

“Cuman 100 yen”. Kalimat itulah yang men-trigger rasa kesal saya sebenarnya. Sejak dulu, saya banyak bertemu dengan orang yang hidup berkecukupan, bahkan berlebihan, sehingga kadang tidak menghargai harga 100 yen. kalau dirupiahkan, bahkan harganya 10 ribu rupiah lebih lah. Ada orang di Indonesia yang masih harus bekerja kasar hanya demi upah 10 ribu rupiah per hari. Ada orang yang harus menahan lapar karena uang 10 ribu rupiah harus ia gunakan untuk bertahan hidup dalam 3 hari. Ada juga para pengungsi yang bahkan harus menahan lapar karena tidak memiliki satu sen pun di sakunya. Sedangkan, saya sering melihat orang-orang yang makan  dengan harga tidak biasa, tapi masih bersisa. Alasannya: udah kenyang. What the —? kalau kenyang, saya rasa orang tersebut harus lebih tahu porsinya. Gak usah sok-sok an bawa porsi makan lebih cuma buat disisain. Ujung-ujungnya, makanan tersebut harus masuk sampah juga. Padahal diluar sana, banyak gelandangan yang mengais-ngais makanan dari sampah. Dan fenoma kayak gini sebenarnya sering saya temui di Indonesia (disini juga sih, tapi gak separah di Indonesia). Terutama kalau makan bareng cewek-cewek, sering banget mereka nyisain makanan. Memangnya kenapa sih gak ngabisin makanan? malu karena takut dianggap rakus? aargh. Selalu saya bilang ke temen: habiskan makanan. Kalau temen deket banget, biasanya saya bantu habiskan. Tapi bukan itu masalahnya. Saya mempermasalahkan mentalitas.

“Ah, apaan sih gak penting banget tauk bahas beginian”

Saya gak peduli penting atau gak penting, tapi mental menyia-yiakan sesuatu dan menganggap remeh seperti itu selalu membuat urat kesal saya memuncak. Saya gak tahu gimana hidup orang yang dibesarkan dalam kecukupan, yang sejak kecil gak sulit mendapatkan makanan. Tapi saya ingin sekali rasanya mereka ber-empati pada keadaan sekitar dan berpikir dua kali sebelum mengatakan : “ah, itu kan cuma…”. Cuma bagi kalian, adalah rezeki besar bagi yang berkekurangan. 

Negara Indonesia adalah negara berkembang, tapi kaya sumber daya alam. Kita punya kekayaan tambang, kekayaan hutan, belum juga disebut kekayaan laut. Terus, kok banyak yang miskin? gak juga. Penjualan smartphone di Indonesia luar biasa cepatnya. Pengguna facebook dan media sosial lainnya sangat banyak di Indonesia, yang bahkan katanya negara ketiga pengguna medsos terbanyak. Belum terhitung penjualan barang-barang impor yang harganya melambung. Ow. Terus, kok masih banyak yang hidup dalam kekurangan? ada yang masih kurang gizi di beberapa wilayah. Gak juga. Buktinya, mall-mall selalu ramai, yang makan di restoran selalu saja ada, bahkan kafe-kafe semacam starbak yang jual kopi doang dengan harga lebih mahal selalu penuh. Gak hanya itu, balik lagi ke masalah nyisa makanan, masih banyak tuh orang yang makan gak habis. Seolah-olah berkata: gue gak butuh sisanya, toh tadi cuman ngabisin 20 rebu doang. 

Miris sebenarnya. Saat dulu jaman kuliah di ITB, beberapa kali saya jalan-jalan sama yang lainnya ke BIP. Kebanyakan orang lalu lalang di gerbang masuk dan gak peduli sama sekitar. Padahal, kalau berjalan pelan dikiiiit aja, mungkin kalian akan menyadari sosok-sosok yang kadang membuat hati saya teriris. Ada bapak-bapak tua yang selalu menjajakan jualan lap dan kemoceng tepat di depan pintu gerbang dan beberapa peminta-peminta. Saya gak bakal ngegubris peminta-minta disini. Tapi ingin sekali rasanya kita menyadari sosok bapak tua tersebut. Berapa sih pendapatan dari si bapak tersebut? 

Selain itu, pernah beberapa kali saat saya ke kosan kakak saya yang di UPI, suatu saat dia pulang kuliah membawa tiga buah kemoceng. Katanya ada bapak-bapak yang nawarin itu, udah tuaaa banget, di gerbang UPI. Harganya cukup mahal, 15 ribuan (maklum buat mahasiswa harga segitu cukup mahal–sorry, maksudnya buat mahasiswa pas-pasan kayak saya). Tapi, karena kakak saya merasa kasihan, apalagi melihat jualannya masih banyak, akhrinya di beli juga. Pernah juga dia beli pisang yang belum matang sama sekali. Tapi karena prihatin dengan penjualnya, akhirnya dia beli juga. Saya pernah ketemu juga dengan penjual jagung di salman, dan sempet ngobrol sama bapaknya. Sungguh, semangatnya sangat luar biasa. Dia bilang: “Neng, neng, jagung manis neng, masih anget”. Saya sempatkan beli, dan saya terharu karena harganya murah banget (gak inget persis harganya berapa, tapi hanya teringat dengan perasaan “kok murah banget” itu sampai sekarang). Saya ngobrol dengan bapaknya, dan katanya beliau asalnya cukup jauh, bukan di Bandung kota (lupa bangetlah nama tempatnya. Pacet gitu ya?) dan ke salman atau ke tempat lainnya selalu dengan berjalan. Saya ingin menangis mendengarnya. Saya juga teringat saat ibu beli coet dan mutu batu(semcam ulekan tradisional, biasanya untuk ngebuat sambel) dari pedagang keliling. Ibu bilang sama saya setelah bapaknya pergi: “Coba bayangin, dia keliling kampung dengan bawa barang seberat itu, dan cuma laku gak seberapa. Lebih-lebih, harganya murah”

Yaampun, inget semua itu lagi rasanya kepingin nangis. 

Masih banyak orang di luar sana yang hidup setiap harinya bergantung pada mata pencaharian yang pendapatannya gak lebih dari 10 ribu setiap hari. Masih banyak yang hidup di gubuk, atau bahkan tidak mempunyai rumah sama sekali. Masih banyak yang harus makan nasi aking atau bahkan gak makan sama sekali. Masih banyak juga yang harus bekerja keras meskipun sudah uzur. Bagi orang-orang seperti mereka, zaman bergerak terlalu cepat, sampai-sampai tak bisa mengejar ketertinggalannya. Dan terkadang, jika mengobrol dengan mereka, kata-kata yang selalu mereka ucapkan adalah : “… segini juga sudah alhamdulillah. Allah masih ngasih rezeki. “

Di negeriku pertumbuhan teknologi sangat cepat. Banyak sekali gedung-gedung tinggi di dirikan. Tapi coba kita geserkan sedikit pandangan kita, maka kita akan melihat beberapa perumahan kumuh yang gak layak tinggal. Di negeriku anak-anak muda udah gak asing sama teknologi smartphone dan internet. Tapi coba luaskan sedikit pandangan kita, dan kita bakalan ketemu sama anak-anak yang masih harus nyebrang sungai deras demi pergi ke sekolah. Di negeriku juga orang-orang yang beli barang-barang mahal sangat banyak. Ada yang bahkan sanggup beli sebuah tas doang dengan harga berjuta-juta. Atau sepasang sepatu doang yang bisa sampai 2 jutaan, tanpa ditawar. Tapi coba sedikit berkunjung ke pasar tradisional, banyak pedagang kecil yang ditawar dengan harga ekstrim oleh ibu-ibu yang mau beli. Di negeriku juga orang-orang biasa makan bersisa, lalu cuma bisa bilang: “udah kenyang. Udah yuk, cabut”, yang akhirnya makanannya masuk tempat sampah. Coba kita luaskan lagi sudut pandang kita, dan kita akan menemukan orang yang masih mengais-ngais makanan di tempat sampah.

Saya tak bermaksud pesimis dengan negeriku, bahkan cenderung optimis. Jika seandainya banyak orang lebih menyadari ini, setidaknya bersimpati, bukankah itu akan memberikan perubahan meskipun sangat kecil? Inilah masalah mental yang saya sebutkan di awal. Seandainya kita mulai membenahi mental kita yang biasa menyebutkan : “ah, kan cuman…” maka saya sangat sarankan untuk mengubah itu. Ubah mental gak peduli kita, dan coba sedikit luaskan penglihatan kita. Jangan karena gaji kita yang tinggi, atau bapak emak kita yang kaya, akhirnya kita menghambur-hamburkan harta. Karena dari setiap rezeki yang Allah berikan, ada titipan dari-Nya untuk orang-orang yang kurang beruntung. Mulai benahi mental, mulai dari sedikit bersimpati terhadap sekitar. 

2 thoughts on “Karena “Cuma” 100 Yen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s