Rasanya Baru Kemarin

Lama sudah tahun baru 2016 berlalu, tapi seperti kalimat klise dan menohok “rasanya baru kemarin” itu emang benar. Rasanya baru kemarin sekolah di MAN, lalu lulus dan lanjut kuliah di ITB. Rasanya baru kemarin masih pusing-pusing ujian mengerikan di TPB lalu lanjut dibuat sibuk sama osjur-osjur. Rasanya baru kemarin pingin banting laptop karena lola dipakai untuk program TA, dan setelah itu ujug-ujug beres dan selesai sidang. Rasanya baru kemarin wawancara beasiswa S2, lalu akhirnya bersendu-sendu bersama keluarga karena akan pergi dari tanah air. Rasanya baru kemarin saya tiba di Tobata dan merasakan suasana seperti di ost Naruto Shippuuden ‘Black Night Town’ yang kelewat tenang. Rasanya baru kemarin ketemu orang-orang PLN yang riset disini lalu kembali kesepian karena sudah pada pulang. Rasanya baru kemarin saya masuk kelas perdana sensei dan melohok kayak orang bego karena asing dengan banyak istilah.

Desa konoha yang sepi kayak kota mati di scene ending ost Black Night Town. Kayak gini nih rasanya waktu awal datang (lebay)

Desa konoha yang sepi kayak kota mati di scene ending ost Black Night Town. Kayak gini nih rasanya waktu awal datang (lebay)

Ya, rasanya baru kemarin.

Kalau ingat surat Al-asr tiap saat dan menghayatinya, kayaknya gak bakalan ada manusia yang mau nyia-nyiakan waktunya buat yang percuma. Cuman, sependek apapun surat Al-Asr, buaian dunia lebih indah terasa. Saya salah satu korban nya, haha. Merasa diri semakin jahiliah sepanjang tahun 2015. Bukan kiasan, seriusan, dan saya rasa saya terjerumus cukup jauh dalam dunia kegelapan, haha. Bahkan saya malu rasanya jika bercerita pada orang. Cukup saya, note pribadi, dan Allah yang tahu akan hal itu. Target selama 2015 pun banyak terlalai. Tersadar berkali-kali, lalu kembali memasang niat, tapi godaan cukup berat. Ah, manusia.

Menuju akhir tahun saya memasang niat untuk berubah di 2016. Alasan paling egoisnya adalah saya merasa sudah di umur yang harusnya berpikir lebih bijak. Teman seumuran saya banyak yang sudah menjadi ibu, sosok yang pertama dihormati oleh anak manusia. Alasan klisenya karena ‘ingin menjadi pribadi yang lebih baik’. Sayang banget, alasan klise emang selalu mainstream dan selalu terasa benar, dan, terasa lebih longgar. Ukuran lebih baik gak ada yang bisa nge-judge, selain diri sendiri. Saya sendiri memasang kembali resolusi di tahun ini, entah apakah sampai akhir tahun nanti saya masih bisa bertahan sebagai makhluk yang kembali ke jalan lurus, ataukah sedikit berbelok, atau bahkan tersesat entah kemana. Wallahu a’lam.

Tahun 2015, yang baru lewat 2 minggu lalu, merupakan tahun yang cukup kacau rasanya. Merasa diri arogan, sombong, tapi di saat yang sama masih banyak merasa iri dengan kehidupan orang lain. Arogan karena terpancing kesal dengan orang yang mempunyai capaian tinggi di hidupnya, dan saya rasa saya bisa mengunggulinya. Sombong karena merasa si ‘gue’ udah hebat padahal ilmu masih seupil. Eh, bahkan kayaknya lebih kecil dari upil. Dan terlalu banyak iri karena sibuk mendongak ke atas, dan merasa ‘rumput tetangga selalu lebih hijau’.

Beruntung masih banyak orang yang mau mengingatkan.

Akhir-akhir ini, saya merasa beruntung mampir di fanpage FB share if you care (SIYC) dan human of New York (HONY). Alhamdulillah, kalau kata liriknya AKB48 di Fortune Cookie: ‘Mirai wa sonna warukunai yo’ — masa depan gak seburuk itu kok– karena populasi manusia berhati baik masih banyak. Salah satu contohnya, temen-temen SIYC dan HONY yang peduli pada realita sosial dan menolak untuk menyerah mengulurkan tangan mereka, dalam bentuk apapun. Saya merasa ditampar oleh mereka. “Kamu enak-enakan disana, padahal di negeri kamu sendiri masih banyak yang lebih menderita dari kamu!” kayak dikatain gitu. Dan inilah salah satu alasan titik balik batin saya, yang saya bawa luntang-lantung saat tahun baru. Saat orang-orang pada sibuk mengantre untuk dapat diskonan gila awal tahun, fukubukuro, saya memutuskan pergi naik ke sarakura yama, yang juga gak tercapai. Bis menuju sana ternyata libur waktu tahun baru. Ujung-ujungnya saya ke kawachi, jalan dengan merenung padahal di musim kayak gini gada yang tertarik buat kesana. Tapi Alhamdulillah, sedikit kontemplasi diri di awal tahun, dan juga berpikir apa yang harus dilakukan di tahun ini.

Yap, Target! saya trauma dengan memasang target hanya karena ingin dianggap keren. Contohnya, bisa tamat baca berapa buku lah cuma buat dipamerin. Saya jadi teringat tulisan di Negeri 5 Menara tentang menuntut ilmu itu harus dibarengi dengan pikiran terbuka dan hati yang suci. Karena salah satu penyebab ilmu tidak berkah adalah pikiran kotor. Dan satu lagi kalimat yang menohok:

kalau kalian ingin sesuatu dan terjadi sesuatu, jangan hanya bermimpi dan berdoa, tapi berbuatlah, lakukan saat ini, sekarang juga

Persimpangan masa depan

Persimpangan masa depan

Mimpi doang gak bangun-bangun, kapan terjadinya– haha, masuk akal. Berdoa doang tapi gak usaha, cara tawakal yang salah. prosedurnya aja udah terbalik. Usaha dulu, baru tawakal sama Allah.

Di tahun 2016 ini, target itu juga sangat berkaitan dengan semua mimpi. Berhubung mimpi saya kerap berubah sejak dari SD sampai sekarang. Rasanya sedang berada di ‘persimpangan masa depan’–minjem istilahnya Jin-san di World Trigger– sedikit action akan membuat kemungkinan di masa depan berbelok. Yang pasti, saya tidak ingin ketika saya kembali bilang ‘Rasanya baru kemarin’, tidak ada hal baik ataupun pengalaman bertambah yang bisa diingat. Setidaknya, bisa mengingat pribadi menjadi lebih baik is the lowest level for it. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s