Perang, Sebuah Tragedi Kemanusiaan

Saya seorang pemeluk agama Islam. Saya orang berkewarganegaraan Indonesia, dan bersuku sunda. Saya mulai merantau sejak masuk kuliah. Meskipun, tanah rantauan saya tetap bumi parahyangan yang juga menggunakan bahasa sama. Di perantauan, saya bertemu beragam orang, beragam sifat, beragam cara pandang dan pemikiran. Bahkan pernah ada masa ketika saya harus merasa takut jika terbawa arus mayoritas, yang saya belum tahu benar atau tidaknya. Pengetahuan dasar saat saya masih berada di tanah kelahiran membuat saya tersadar, betapa bodohnya saya, dan betapa tidak tahu apa-apanya saya ini.

Menjadi seorang muslimah dulu merasa tidak ada bedanya, karena saya bersekolah di sekolah islam. Namun beranjak kuliah, saya mulai terbuka dengan dunia yang ada juga memandang islam dengan penuh kecurigaan. Terutama ketika ada isu bom, teroris, dan lainnya, orang-orang diluar mulai parno dengan orang berjilbab panjang, atau laki-laki yang mempunyai janggut. Saya juga tidak jarang bertemu orang yang mengaku ‘atheis’. Sebuah kata yang hanya saya kenali dulu dari novel ‘Atheis’. Tapi saya bersyukur, bertemu banyak orang yang beragam kepercayaan, tapi saya tetap masih bisa berteman dengan mereka. Saya juga bersyukur, karena tidak semua orang memandang buruk islam dengan semua isu yang di hebohkan — dengan sangat terlalu– oleh media.

Saat saya tiba di tanah Sakura, perbedaan menjadi lebih mencolok. Selain karena saya memakai hijab, warna kulit saya begitu kentara bedanya. Beda dengan wanita-wanita Jepang yang cenderung putih pucat. Bertemu orang islam disini, rasanya bertemu saudara seperjuangan. Bahagia, terharu, dan juga sedih bercampur aduk. Saya juga kemudian menyadari tidak semua muslim disini mempunyai ‘cara pandang sama’. Saya bertemu dengan orang islam yang tidak terlalu peduli dengan aturan islam. Ada yang berbangsa arab, lebih fasih berbahasa arab, tapi juga menyepelekan urusan shalat. Saya juga bertemu dengan orang islam yang keluar dari islam, dan lebih parahnya, menjelek-jelekkan ‘mantan’ agamanya. Shock? tentu. Sangat. Tapi alhamdulillah, saya masih dipertemukan dengan muslim yang sangat baik pula. Baik menjaga perilakunya, baik menjaga saudaranya juga. Alhamdulillah, sungguh Allah maha penyayang.

peace

Berita lebih mengejutkan ketika sabtu kemarin mendapat kabar pengeboman Paris. Di berita bahkan ada yang bilang ada teriakan AllahuAkbar setelah pengeboman. Umat islam kembali dicurigai. Saya sendiri cukup parno dengan ini. Mayoritas teman disini non-muslim. Tidak sedikit yang langsung ganti PP facebook dengan pelangi-pelangian untuk menunjukkan solidaritas. Saya sendiri disini ada teman dari Prancis yang ada di subsistem Struktur satelit–subsistem utama yang sangat penting banget. Tidak sekali atau dua kali saya merepotkan dia. Dianya sendiri mempunyai nama muhammad di belakangnya, tapi dia mengaku tak peduli dengan agama — akhirnya saya jadi tak heran lihat dia minum alkohol. Saya juga ada di project yang project manager nya adalah orang Prancis. Sejak awal project saya agak segan-segan gimana sama dia, yang galak dan moody, tapi kadang sangat baik dan ramah. Hari ini saja, saat ditanya progres proyek, saya jadi males ketemu. Bukan karena ada perasaan ‘guilty’, karena saya tidak merasa salah apa-apa. Saya juga tidak merasa bahwa islam ada kaitannya dengan insiden bom Paris. Tapi, ada perasaan tidak enak dan tidak nyaman, takut kalau-kalau nanti saya di diskriminasikan.

Kemudian saya ingat perkataan dia jauuuh jauuuh hari saat meeting, dia bilang: “I dont give a damn about your nationality, your religion, wether you are men or women, i dont give a damn about it. but here we are in one project, we have the same goal to make this success”

Ah, seandainya semua orang berpikir seperti itu dan bilang secara lantang kayak dia.

Hari ini juga saya kembali mengingat tragedi kemanusiaan yang terjadi bertahun-tahun di Gaza. Kemudian Syria. Kemudian Rohingya. Dan kembali melihat postingan orang-orang di FB, memperlihatkan foto para korban. Anak-anak menangis. Banyak yang menjadi homeless dan jobless. Saya hampir menangis di lab waktu itu, tapi saya tahan. Dan kebanyakan orang islam menjadi korbannya. Mengapa islam?

Saya tidak mau bilang untuk tidak simpatik dengan tragedi Paris. Atau tragedi silam 11/9 di Amerika. Semuanya memberikan berita duka. Ratusan orang meninggal. Dan ratusan orang yang meninggal itu, tentu mempunyai keluarga, yang juga merasakan kehilangan. Media massa kemudian meliput, dan merasa harus ada pihak yang disalahkan. Ketika satu media telah ‘bersabda’, rantai kebencian mulai muncul. Rasa kehilangan, dan tidak semua bisa sembuh hanya dengan waktu. Ada yang ujung-ujungnya menimbulkan benci. dendam. prasangka buruk. orang sekitar yang sok empati mengikut. rantai kebencian. begitu kuatnya pengaruh media disini.

Tragedi apapun, yang kemudian akhirnya membunuh banyak orang yang tak bersalah, tidak ada benarnya. Semua orang beragama mestinya tahu ini. Agama apapun. Saya sendiri, di Islam, yang diajarkan bukanlah pembunuhan tidak jelas –> yang korbannya bisa siapapun. Kami mencintai kedamaian. Bahkan saat dulu fathul makkah, yang tidak memeluk agama islam dilindungi dan diberikan hak secara adil. Laa Ikraaha fid-diin, tidak ada paksaan dalam beragama.

Bahkan teman-teman saya yang atheis, dan saya yakin mereka terpelajar, mereka menggunakan logika dan akal sehat mereka: pembunuhan bukanlah hal yang benar. Pembantaian pada mereka yang tidak mempunyai salah apapun adalah tidak benar. Jelas, mereka tahu bahwa itu bukan hal manusiawi.

Perang. Kata mengerikan yang tentunya tidak ingin dialami oleh siapapun di dunia ini. Banyak sekali cerita fiksi yang memperlihatkan tentang peperangan seolah-olah berkata dan memperingatkan: nothing’s good come from the war. Its only despair. loss. Even if you win the war, you still loss so many things. so many soul you have to sacrifice. Dan peperangan belum berakhir di tanah Gaza, Syria, dan beberapa negara lainnya. Selalu ada yang meninggal. Ratusan penduduk menderita kelaparan, kedinginan, putus asa, kebencian, kemarahan, dan seribu perasaan lainnya yang mungkin tidak semua orang bisa rasakan. Tragedi kemanusiaan, yang tidak semua media mau meliput juga.

Semoga kita, dan juga saudara-saudara kita di seluruh dunia, selalu dalam lindungan Allah.

2 thoughts on “Perang, Sebuah Tragedi Kemanusiaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s