Tentang Bahasa Indonesia dan kabut Asap

Masalah kabut asap di Indonesia sekarang sudah sangat parah. Banyak penduduk sudah terkena penyakit pernafasan bahkan sampai meninggal. Saya mempunyai banyak teman di daerah sumatera, dan terlebih saya malah mempunyai dua kakak yang keduanya sekarang tinggal di Sumatera. Kakak saya yang satunya malah sedang hamil, dan ketika saya menghubungi lewat line, katanya Alhamdulillah, agak mereda ketika turun hujan. Tapi ada penduduk yang sampai meninggal. Keterlaluan memang masalah asap ini. Pemerintah sudah mengambil langkah cepat apakah? Ada, tapi tindak cepat tanggap. Inilah masalahnya.

Dan beberapa hari terakhir, facebook rame sama postingan teman-teman yang nutupin muka ataupun nutupin mulutnya pake tangan buat kampanye kabut asap. Terus, mereka juga nulis semacam surat terbuka tentang keprihatinan akan musibah ini. Ada juga yang nulis ditujukan ke Pak Presiden Jokowi. Tapi, sayangnya semua nulis pakai bahasa Inggris. Saya juga cuma ikut-ikutan anak-anak ppi sini sih, haha. Hanya saja, baru sadar ketika seorang bapak-bapak komen: “kok pakai bahasa inggris, pakai bahasa indonesia ajalah. Biar pesannya tersampaikan langsung ke pak presiden dan masyarakat Indonesia. Kalau pakai bahasa inggris, kesannya cuma show off walaupun kita sebenarnya ingin berkampanye. Dan juga di facebook, dunia bisa melihat, ini seperti membuka aib sendiri”

Iya sih, ada benarnya juga. “Tapi kan kita cuma ikutin template orang-orang yang pakai hashtag sama bahasa inggris, biar isunya terangkat”. Oke, itu juga bener. Tapi, apa yang salah dengan memakai bahasa Indonesia? masalah kabut asap memang masalah lokal kan? dan jika tujuan kita ini untuk Pak presiden dan rakyat indonesia, maka memakai bahasa indonesia lebih layak tentunya. Memang benar, pengalaman saya mengamati dan juga mengalami sendiri, orang-orang yang pernah atau sedang tinggal di luar negeri cenderung menulis di media sosial memakai bahasa inggris. “Masalah buat lo? ini kan media bebas”, ya ia sih. Cuman, kadang saya juga miki, kenapa ya bener juga. Sebagian besar temen saya yang lagi diluar negeri sukanya posting kalimat dalam bahasa inggris. sederhananya biar gaul sih, haha. Oke, balik lagi ke topik kabut. Dari komen bapak-bapak itu, banyak yang komen balik.

“Kalau membuka aib, ini sebenarnya bukan tujuan kita. lagian kalau dengan bahasa inggris, orang luar bisa tahu dan mungkin bisa membantu masalah indonesia”

Oops. Saya kurang setuju.

Se-pesimis itukah anda dengan Indonesia? sehingga harus selalu menunggu bantuan dari luar. Dan ketika bantuan luar datang, kita selalu yakin pasti beres. Inilah yang menyebabkan banyak produk impor di indonesia. dan banyak produk indonesia kalah saing sama produk luar. mental kita: yang diimpor dari luar pasti selalu bagus.

Oke, balik lagi ke masalah kabut.

“Tapi ini tujuannya biar isu terangkat, dan masyarakat indonesia bisa sadar akan masalah ini.”

Net-not. Salah lagi.

Berapa persen masyarakat Indonesia yang fasih bahasa Inggris? saya pernah ditanya sama temen disini, setiap hari di Indonesia, penduduknya apakah pakai bahasa inggris? saya bilang sambil ketawa: boro-boro. Kita sehari-hari campuran bahasa indonesia dan bahasa daerah masing-masing. Bahkan masih banyak yang masih kesulitan sama bahasa inggris, terlepas dari yang les bahasa atau besar di lingkungan orang berada. Tapi, bila kita bandingkan jumlah penduduk yang sudah tidak asing dengan bahasa inggris (bukan cuma yes atau no), yang bisa sedikit mengerti saat membaca teks inggris, dengan yang buta sama sekali, saya pikir masih lebih banyak yang buta dan tidak mengerti bahasa inggris. Jangankan anak-anak, mahasiswa saja masih yang ba-bi-bu berbicara bahasa inggris. Ingat kawan, tidak semua orang sudah bisa berbahasa inggris. tidak semua penduduk Indonesia. Menyamakan level itu terkadang bukan pilihan baik. Jadi, apakah kampanye itu tepat sasaran untuk penduduk indonesia? net-not. salah besar.

“Tapi efek malu ketika banyak yang tahu aib itu lebih efektif dalam tindakan, kan?”

bener banget. Cuman, se-menyerah itukah kita sampai harus disadarkan oleh rasa malu? Dan apakah kita selalu pesimis pada bangsa bahwa bangsa ini sudah hilang kepeduliannya terhadap saudaranya sendiri?

Masalah bahasa ini masalah sepele kedengarannya. Toh niat yang paling penting kan? Tapi, saya juga masih gak ngerti kenapa gak pake bahasa Indonesia aja sih yang jelas-jelas bahasa nasional kita, kalau objektif kita adalah masyarakat indonesia dan pak presiden?

Oke, yang ga setuju abaikan aja. saya cuman berpendapat aja kok. Saya juga sering pakai bahasa inggris kalau di blog, karena kepingin aja, haha. Yang pasti, PPI kitakyushu sekarang menjadwalkan untuk mengumpulkan esai bahasa indonesia tentang isu kabut. Saya hanya berharap, mahasiswa sini gak pada pake bahasa inggris nulisnya, mentang-mentang udah terlatih sama paper konferensi. Ujung-ujungnya, esai yang udah capek-capek dikumpul buat presiden, malah gak kebaca deh, haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s