“Stay Hungry, Stay Foolish”

Pusing karena code yang saya buat gak jalan-jalan juga, rasanya pingin menyerah. Jadi saya sejak beberapa bulan lalu dikasih tugas buat tanggung jawab di 2 subsystem, yang salah satunya bener-bener cuma saya doang yang kerja. Keter banget pas awal, karena saya tahu kapasitas saya yang masih secuil ini. Cuman, yang bikin kesal adalah ada satu masalah di subsystem ini belum terpecahkan juga. Putus asa, kesal, bahkan sedih bercampur jadi satu. Karena dijadwalkan kalau si subsystem ini gak jalan juga, ujung-ujungnya nanti bakal di-cut dari project. Kecewa? tentu. Walaupun bukan saya yang ngerjain ini dari awal, tapi selama beberapa bulan terakhir I’m struggling with this to find the solution. Tapi, beberapa kali nyoba juga, gak pernah berhasil. Tiap kali meeting, pasti gak ada hasil. Malu? iya banget. Berasa ada perasaan: “Lo kok gak bisa-bisa terus sih? padahal subsistem lainnya udah clear problem satu persatu”. Sedih? pastilah. Ngorbanin waktu selama ini buat sesuatu yang nantinya bakal di-cut juga dari proyek rasanya sedih banget. Seperti buang-buang waktu. Tapi saya benar-benar merasa hopeless banget. Gak ada yang bantuin lagi hiks.

Dan ditengah kepusingan itu, saya kembali bertaubat buat baca share-an temen tentang khutbah. Lalu lanjut baca postingan Human of New York yang beberapa hari ini lagi ngebahas refugee. Dan setelah itu saya mendengarkan pidato kelulusan Stanford University yang saat itu dibawakan alm.Steve Jobs. Dari beberapa tulisan dan pidato itu, saya kembali menemukan sedikit semangat-semangat (haha lebay) untuk melanjutkan lagi codingan. Tentang share khutbah, temen saya ngeshare tentang terbangun di malam hari dan sholat malam. Hiks, nampar banget sih. Apalagi akhir-akhir ini rasanya jahiliah banget. Tulisan di Human of New York bikin saya hampir selalu nangis. Orang yang hidupnya lebih menderita dari kamu diluar sana lebih banyak mi! Masa gara-gara gitu aja udah putus asa. Hal itu yang pertama kali saya pikirkan setelah membaca tulisan-tulisan tentang refugee dari Syria dan Afganistan. They have to live as a refugee, forced to leave their homeland, even without anything. They experienced the bitterness of life, saw their loved one been killed, or dead in the terrorist’s hand. They have to hide behind the others to avoid ISIS that invaded their land, feared of being shot without any reason. They have to accept the coldness of people, but also witness the kindess of certain people. They already testified that in the darkness there is always a slight brightness. Dan saya merasa malu karena saya sendiri menyadari semua itu, tapi hampir selalu menutup mata, pasrah, dan menyerah.

Dan terakhir, saya iseng-iseng buka Youtube dan mengetikkan graduation speech disana. Saya klik yang stanford university di tahun 2005, dan yang membawakan adalah Steve Jobs. Di pidatonya itu, Steve Jobs bercerita tentang tiga hal yang ia alami dalam kehidupannya (saya gak terlalu inget, tapi saya tuliskan sepaham yang saya denger hehe):1) about connecting the dots. 2) About finding the love. 3) About the death.

About Connecting the Dots

Disini dia menceritakan pengalamannya saat dia drop-out dari universitas, dan dia bilang semua itu berawal dari orangtuanya yang menginginkan dia masuk universitas. Jadi orangtunya saat dulu mau menjadikan Steve anak adopsi untuk orang lain dengan syarat dia bisa masuk universitas. Alih-alih dapat orangtua adopsi yang lulusan college, ternyata yang mau ngadopsi adalah seorang ibu yang juga drop-out universitas dan suaminya yang bahkan tidak lulus SMA. Tapi, ketika dewasa dan masuk universitas, Steve menyadari satu hal: Dia menghabiskan uang yang orangtuanya telah tabung sejak dulu, hanya untuk kuliahnya. Dan ia belum memutuskan untuk jadi apa. Saat itulah dia mulai skip kelas, dan malah ngambil kelas kaligrafi yang gak ada yambung samasekali dengan dunia IT. Tapi dia menyadari manfaat kelas kaligrafi itu saat beberapa tahun kemudian dia dan teman-temannya mulai merancang macintosh pertama. Font di macintosh diilhami olehnya dari kelas kaligrafi. Dan, dia menyimpulkan bahwa setiap proses dalam hidup, pasti akan saling berhubungan satu sama lain. We can’t connect the dots forward in our life but we can only connect it backwards, seeing our past. Jadi percayalah gak ada yang namanya sia-sia dari semua hal yang kita lakukan, karena suatu saat pasti ada hasilnya.

About Finding the Love  and Lost

kali ini Steve bercerita saat dia dipecat dari Apple. Dipecat dari perusahaan yang dia bangun sendiri memang menggelikan. Seenggaknya karena dia sudah membuat produk banyak banget buat Apple. Buat yang penasaran ceritanya, mending nonton film jadul tentang pertarungan Apple dan Windows yang judulnya kalau gak salah: Pirates of the Silicon Valley. Tapi, meskipun dia dipecat, anehnya kata Steve, dia masih dapat ilham buat menciptakan produk baru. Lahirlah Pixar, sebuah studio animasi yang sekarang sudah jadi gede banget. Kualitas film Pixar tentu jangan diragukan. Lahirlah satu lagi, tapi saya lupa namanya (disini saya gak terlalu nangkep bahasa inggrisnya), kita sebut aja produk x. Sampai akhirnya si produk x ini dibeli oleh apple. Nah disini pesan Steve Jobs adalah: itulah yang namanya cinta. Dia mencintai pekerjaannya, mencintai yang namanya invention, maka semarah apapun, seputus asa apapun dia karena telah ditendang dari perusahaannya, dia tetap kembali juga dengan banyak karyanya. Dan dia juga bilang: dont lose faith. You got to find what you love. Love what you do. if you dont have it now, keep looking, dont settle. As a matter of heart, loving will keep you get better.

About the Death

Disini Steve mengatakan sesuatu yang sangat luar biasa: Kalau seandainya hari ini adalah hari kematianku, apa yang akan aku lakukan? Steve Jobs pernah divonis kanker ganas yang gak bisa diobati. Tumor yang ada di pankreas, yang bahkan kata Steve dia gak tahu apa itu pankreas. Dokternya bilang untuk pulang dan membicarakan segala sesuatunya dengan keluarganya, memanfaatkan waktunya dengan maksimal. Sebuah pertanda yang kata dia berarti telah mendekati “waktunya”. Tapi, akhirnya kanker tersebut bisa terobati setelah Steve melewati operasi. Tapi dari sana Steve bilang mengambil pelajaran paling berharga tentang kematian. Death is the destination we all share. No one was ever escaped it. Your time is limited. So dont waste it living someone else’s life. Dont be trapped by dogma which is result of other people’s thinking. Dont let the other opinion drown your own inner voice. And the most important, have the courage to follow your heart and intuition.. They somehow already know what you want trully become. Everything else is secondary. Memberikan yang terbaik selama hidup dan jangan lupakan tentang kematian.

Saya jujur terkesan dengan pidato Steve Jobs waktu itu. Dia bukanlah seorang muslim. Tapi dia mengatakan hal yang sama tentang mengingat mati seperti dalam islam. Setiap yang hidup pastilah mati. Dan Steve Jobs sangat faham dengan konsep tersebut. Tak heran jika Steve Jobs bisa sesukses itu bersama Apple nya.

Di akhir pidatonya Steve bercerita sebuah publikasi yang pernah ngehits di zamannya “Whole earth Catalogue” (mudah-mudahan gak salah denger), sampai-sampai disebut sebagai “bible” bagi remaja waktu itu. Di cetakan terakhir dari publikasi tersebut, cover belakang adalah sebuah foto “old country road”, dan dibawahnya terdapat tulisan: “stay hungry, stay foolish“. Sebuah pesan perpisahan untuk publikasi terakhir whole earth catalogue. Dan Steve mengatakan hal yang sama saat itu sebagai akhir kata pidatonya: Stay hungry, stay foolish.

Saya teringat dua hari lalu saat ada kick-off meeting di lab bersama mahasiswa baru lainnya. Sensei saya bilang hal yang membuat saya cukup termenung: I know so many things, but i don’t know so many things. Sensei saya memang orang yang cukup unik. Dia bilang banyak bidang yang ia pelajari saat ia kuliah dari mulai mekanika sampai elektromagnetik. Untuk orang sekelas profesor seperti sensei saya, saya kagum karena mengatakan: i don’t know so many things. Saya menyimpulkan: he keeps learning so many things in his entire life, and he keep thinking to know nothing. Merasa selalu haus akan ilmu dan belajar, intinya.

Saya masih harus banyak belajar. Malu ketika membaca tulisan-tulisan Human of New York, malu ketika mendengar khutbah yang dishare teman, malu ketika mendengar pidato Steve Jobs, malu mendengar kata-kata sensei. Semakin terasa yang namanya “menjadi semakin merasa bodoh ketika mempelajari hal baru”.

Yap, kalau kata orang jepang bilang: “kore wa mada-mada desu. Ima kara hon mono ni hajimarimasu” (ini sih belum ada apa-apanya. Yang sebenarnya baru saja dimulai). Karena itu, perasaan hopeless di coding saya yang gak jalan-jalan juga, kembali sedikit memudar (sedikit, karena masih pusing juga). Setidaknya saya percaya segala kesulitan membuat kita belajar lebih. Tinggal dari mana kita melihatnya. Stress? wajar, manusia. Its life, afterall😀. Saya gak mau sok bijak bilang hadapi semua dengan senyuman, karena terkadang proses belajar bisa dilewati dengan rasa marah, ataupun saat menangis merasa tak berdaya. Anyway, stay hungry, stay foolish.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s