Antara Kerja, Hobi, dan Passion

Mungkin kalau masih tingkat 2, sering banyak mahasiswa yang bilang: duh kayaknya salah jurusan. Harusnya kan dulu milih ini, harusnya sekarang aku disini.. dan bla bla bla. But ever wonder that kind of thing still bothering you even after you graduated? yes, I do. Even now. Jadi pemikiran kayak salah jurusan, salah ambil jalan, salah ambil kerja, bahkan bukan hanya saya, beberapa teman yang saya kenal juga ada yang pernah bilang hal sama. Well, I know that not all the things go well, right? Jadi apakah yang salah dengan hal ini? Orang-orang yang udah kerja sering bilang pekerjaanya kurang cocok dengan bidangnya. Orang-orang yang masih kuliah atau ngerjain tugas akhir (skripsi) sering bilang salah pilih topik bahkan salah pilih jurusan. Orang-orang yang sibuk sering bilang kalau sekarang gak ada waktu buat hobinya.

Terkadang saya sering berpikir mungkin enak ya jadi musisi. Hobi mereka pastinya dalam musik, apalagi yang punya bakat disana. Passion mereka juga disana. Dan gak usah pusing-pusing pula mikirin rumus-rumus aneh. Melihat pâtisserie saya sering berpikir: enak ya jadi mereka. Bisa makan kue enak bikinan sendiri, digaji besar pula. Melihat komikus saya juga berpikir: enak banget ya kerja sesuai hobi, dan memang passion nya disana, digaji pula. Dan melihat anak yang kuliah di bagian media saya berpikir: enak ya kerjaannya nanti pasti di bagian pertelivisian, bidang yang gak pernah ada bosennya. Tapi melihat orang-orang sukses seperti Bill Gates, Marc Z., saya hanya bisa membatin: yah, enak ya kalau jadi engineer yang pinter banget, karena mereka kerja sesuai passionnya. Bahkan ngoprek-ngoprek adalah hobinya.

Kalau kerjaan kita sesuai hobi dan passion, pastinya gak ada yang membuat kita mengeluh salah jurusan. Itulah mengapa sekarang tes masuk universitas selalu dibarengi dengan tes psikotes untuk melihat potensi alami kita. Jadi biar gak semua orang-orang yang pingin ngambil suatu keahlian hanya berdasar pendapat dan minat pribadi sementara itu. Tapi, yang jadi masalah adalah tidak semua orang mempunyai potensi yang lebih menonjol dari yang lainnya. Kalau bisa bilang, mungkin saya bisa bagi kedalam chart berikut:

presentation

Dari statistik manakah? haha, sorry, just personal opinion. Tapi ini saya lakukan setelah mengobservasi banyak orang yang pernah saya temui. Jadi, kesimpulan saya adalah orang yang 45% potentialnya menonjol banyaaak banget di dunia ini. Makanya gak banyak orang yang jadi sukses atau terkenal dan bisa bertahan sepanjang hayatnya, karena yang almost 95% itu porsinya sedikit di dunia ini. jadi, menurut pendapat saya sendiri gak ada yang 100% potentialnya dikerahkan dalam kerjanya. Karena, sejenius apapun, atau sehebat apapun, yang namanya manusia selalu ada fase menurunnya saat mengalami kebosanan dan kejenuhan. Tapi gak berlaku deh buat yang gak normal, yang gak pernah bosen satu kalipun haha. Nah, yang almost 70% potential juga banyak. saya mengibaratkan kalau dalam 20 orang yang biasa-biasa aja, minimal ada 1 orang yang 70% potential menonjol itu. Makanya sering kita temui orang-orang kayak gitu yang IPK nya gede banget, hampir 4, atau nyeples 4, atau sering kita temui juga yang jago main musik, tapi mereka gak terlalu terkenal. Cuman, dalam hidup, biasanya mereka hidup diatas rata-rata orang-orang kebanyakan. lebih dari cukup, atau bolehlah dibilang kaya banget.

Oke, itu teori ngawur saya. Maaf, karena bukan ahli statistik dan gak mau nyebarin kuesioner, jadilah hanya teori pribadi. Tapi, mungkin ketika kerja, hobi, dan passion jadi satu kayaknya bakal tercapai hal yang maksimal. Beberapa hari lalu ada kasus di Texas dimana seorang anak umur 14 tahun ditangkap karena membuat jam yang dikira bom sama gurunya. Well, namanya Ahmed Mohamed, dan mungkin itulah salah satu faktor dia ditangkap oleh kepolisian Amrik tersebut. Insted of listening to his story about the clock, they prefer handcuffing him. Tapi sekarang masalah tersebut sudah clear. Banyak juga yang mendukung Ahmed lewat medsos, bahkan sampai pendiri FB Marc, atau perusahaan google yang juga bilang mau nerima dia, sampai president Obama juga ikut nge tweet. Jadilah dia terkenal banget. But, that’s not the point I want to write here. Ahmed ini, jago banget ternyata emang kalau soal oprek-oprek. Cita-citanya masuk ke MIT dan jadi engineer. Well, considering his potential, I never doubt that one. Jadi, kalau orang seperti Ahmed ini kerja jadi engineer, yang dirasakannya bukanlah kerja, tapi menjalankan hobi dan passionnya sekaligus.

Tapi saya beberapa hari ini nemu gambar bagus tentang stereotype.

Dalam gambar-gambar tadi, bisa kita bilang kalau mereka bekerja, tapi tetap mempunyai hobby dan passion yang lain. Tapi, terlihat gembira ya? atau efek foto aja? haha. Oke, terlepas dari adanya efek foto, ya berarti orang-orang itu tetap gembira walaupun bekerja tidak sesuai hobby dan passio. err, how can I say? feeling gratefull? Oke, bersyukur deh lebih tepatnya.

Saya sejak S1 kuliah di jurusan teknik, padahal sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk menjadi engineer sama sekali. Padahal mengoprek bukan hobi tapi hanya kebetulan sesekali saya suka saja. Padahal dulu pernah bercita-cita jadi biokimiawan karena mikirnya passion di bidang kimia tapi berakhir juga dengan sirkuit elektronik. Dan lebih banyak lagi padahal yang sering saya rasakan. Mungkin orang lain juga punya kasus yang kurang-lebih sama lah. Melirik orang lain yang sukses, biasanya ucapan-ucapan itulah yang keluar. What’s the matter then? itulah manusia. Tak pernah puas dengan keadaan. Is it bad? Well, half of it. Nyatanya ketika kita sering cepat puas, bukan manusia namanya. Tidak akan ada juga sesuatu yang hebat lahir dari rasa cepat puas. Tapi cemburu yang berujung dengki itulah yang berbahaya. Yang bisa ngatasin itu emang cuma bersyukur. Makanya sering sekali orang bilang agar kita pandai bersyukur ya lihatlah orang yang dibawah kita, jangan cuma mendongak aja. Well, once more, theory isn’t always that easy. Human is human, which has feeling and ambition. It can be much more evil that the real one, can be much kinder than the angel.

2 thoughts on “Antara Kerja, Hobi, dan Passion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s