Saya Ingin Membangun Negeri Ini

Beberapa hari lalu, tepatnya dari tanggal 2-6 Juli, saya kembali pergi ke Tokyo untuk ikutan menjadi panitia konferensi. Konferensi apakah? UNISEC global meeting, tepatnya. Sebuah organisasi dibawah naungan PBB untuk teknologi satelit. Kenapa saya bisa menjadi salah satu panitianya tidak lain karena saya salah satu siswa internasional di KIT ini. Beberapa orang diminta untuk membantu acara UNISEC tahun ini yang diselenggarakan di Tokyo. tahun lalu saya ikut juga, hanya jadi peserta yang melong gak tahu apa-apa karena saya baru masuk ke KIT.

Di acara kali ini, rasanya serabutan sekali, maksudnya kerja apapun bolehlah, tanpa instruksi yang sangat clear. Karena mungkin yang lain juga sibuk dengan tugasnya, dan kebanyakan instruksi dalam bahasa Jepang. Tugas saya hari pertama di meja resepsionis dan jadi asisten Pre-MIC yang job nya menjadi gak jelas saat hari H. But at least, did something back then. Dan hari pertama berakhir dengan rasa lelah setelah berjalan kesana-kemari. Tapi Alhamdulillah, puasa masih jalan karena memang cuaca tidak terlalu panas. Kami dari KIT menginap di hotel tradisional Jepang, Homeikan.

Saat hari kedua, ada sesi group discussion, dan memang jauh-jauh hari sebelum kami datang ke Tokyo, Dr. Polansky sudah membagi tim ke dalam dua: tim 1 untuk aplikasi teknologi lean-satellite, tim 2 untuk human resource. Saya yang berakhir di tim 1, harus menerima kenyataan bahwa saya berada satu tim dengan sensei sendiri, Dr. Polansky sebagai moderator, 2 orang resource provider, George yang akan menggantikan Dr. Polansky nanti, Dr. Wood yang datang di saat-saat diskusi hampir selesai, Mr. Werner Balogh yang menangani beasiswa PNST, Profesor dari Turki yang saya lupa namanya, profesor dari Korea Jung In Seuk, dan teman-temanku yang PNST namun berada pada tingkat doktoral dan sudah mempunyai pengalaman lebih dalam bidang satelit, dan dua orang panitia nihon-jin. Sialnya, saya bertanggung jawab di tim ini, jadi saya tidak bisa hengkat. Padahal saya waktu itu rasanya pingin ganti kelompok, berharap bisa kabur dari grup discussion. mengapa? saya akan cerita mengapa.

Diskusi dalam grup, entah mengapa, terasa sangat berat suasananya. Diawali dengan presentasi kecil mengenai lean satellite, kemudian merembet ke urusan standardisasi lean satellite, lalu pada program satelit di beberapa negara. Sampailah pada sesi sharing ide, yang membuat saya cukup membatu karena dari awal tidak ngeh dengan apa yang dibicarakan. Saya, yang kehabisan ide, secara random membuat gagasan mission idea  yang sebetulnya pernah digagasa seseorang saat di kelas PBL dulu. namun sialnya, lagi-lagi saya gagal menjelaskan dengan benar. For each mess that I’ve made, I really want to roll back the time. Dan entah kenapa, Dr. Polansky hobi sekali menanyai saya, alih-alih muridnya yang lain. Padahal saya yakin betul tampang saya sudah stress. Kali ini dia bertanya: kalau kamu sudah pulang nanti ke Indonesia, jenis satelit apa yang ingin kamu bangun? small or traditional? saya jawab: mungkin skala small satellite. Lalu dia tanya lagi: sudah kebayang mau mambuat satelit apa? Saya, sekali lagi, sudah kehabisan ide dan memang sedang kering ide, hanya tertawa bodoh sambil bilang: untuk sekarang, memikirkan hal itu rasanya belum terbayangkan, haha. Dan seketika grup menjadi terasa semakin berat. saya tidak berani sedikitpun melirik pada sensei. Ah, bodohnya.

Dan bertubi-tubi orang-orang mulai membicarakan negara berkembang, termasuk Indonesia. Yang paling jleb adalah saat sensei mulai memberika statement menanggapi pendapat Jung In Seuk: Korea mendapatkan dana dari pemerintah saat kita bilang kita akan belajar dan mengajari anak-anak Korea untuk membangung satelit sendiri. Lalu sensei saya bilang: Mungkin untuk Korea, mungkin untuk bilang ke pemerintah kita membutuhkan dana untuk mengajari anak-anak korea membangun satelit, pun dengan Jepang. Kami membutuhkan dana untuk mengajari anak-anak Jepang nanti membangun satelit. Tapi Indonesia tidak bisa begitu, kamu tidak bisa datang ke pemerintah, mengajukan dana untuk mengajari anak-anak Indonesia, tapi kamulah yang harus membangun satelit itu. Rasanya berat sekali, dan saya setengah keberatan mengangkat kepala hanya bisa tersenyum dengan kecut. Apalagi George malah menambahkan tanpa perasaan sedikitpun: kamu mendapatkan pressure dari segala arah, ya. Dan saya kembali tersenyum kecut.

Siapa yang tak ingin membangun negeri sendiri? bermimpi bahwa suatu hari negeriku bisa seperti negara maju lainnya, dimana tidak lagi banyak orang yang masih kelaparan, tidak terdidik, dan anak-anak putus sekolah. Saya ingin ikut andil membangun negeri ini. Dengan satelit? kemudian saya teringat saat hari terakhir konferensi UNISEC. Kami membicarakan kemungkinan apakah mungkin membangun student organization yang pada minat dalam space activity. Karena setahu saya di Indonesia mana pernah ada yang ngebangun macam itu, saya bilang belum pernah ada. Bahkan mungkin yang minat dalam bidang satelit juga masih sedikit. Dan alhasil, beberapa peserta diskusi mengusulkan: coba cari kontak profesor dari sekarang yang ada di Indonesia. Yang juga mempunyai ketertarikan sama, atau at least bisa diajak kerja bareng dalam pengembangan satelit. Kata mereka, Prof dalam bidang penerbangan, elektro, juga hubungi teman-teman jurusan itu.

Dan betapa kagetnya saya, ternyata di ITB ada dosen yang peminatan satelit!!!! Beliau adalah Pak Emir dari elektro. Dan lebih kaget lagi saat tahu ada teman dari Penerbangan yang jago dalam attitude determination system.

Bahagia, karena akhirnya ada juga yang memiliki minat sama dengan saya. Bingung, cara mengontak mereka, dengan email? yeah… tapi setelah itu? what should i say? just say hello and introduce myself who-is-nothin’? Malu, karena saya baru tahu ada juga yang mengembangkan satelit di tingkat universitas. Terkagum, begitu tahu kemampuan mereka begitu drastis maju dibanding saya. Sedih, saat tahu ada teman seangkatan sendiri, dari jurusan lain, yang sudah ditunjuk mewakili Indonesia di bidang ini. Tapi, kenapa saya tak pernah mendengar sedikitpun tentang ini? sedih rasanya.

Saya ingin ikut andil dalam membangun Indonesia. Siapa yang tidak ingin memajukan negaranya sendiri?

Namun, sampai manakah saya bisa berkontribusi? apakah saya cukup berani mengambil langkah?

3 thoughts on “Saya Ingin Membangun Negeri Ini

  1. amiiii… baca tulisan kamu selalu bisa menghibur dan menginspirasi. Semangat amiiii… kalau lagi ga semangat ingatlah bahwa kamu satu-satunya anak ET di angkatan kita yang langsung S2 ke Jepang, I’m sooo proud of youu. Kamu pasti bisaaaa.. insya Allah kalau ada niat pasti ada jalan. Baik-baik ya di sana, jangan jajan ramen mulu hahaha. Miss you. GANBATTEE!!!

    P.S : Selamat puasa. selamat lebaran juga. mau pulkam ga?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s