Ramadhanku Tahun Ini

MasyaAllah, Ramadhan antara besok atau lusa!!! Saya terperanjat bangun pagi saat tiba-tiba keingetan: hari ini mulai puasa atau tidak. Saya melihat kalender di aplikasi Muslim Pro, dan disana tercantum 1 Ramadhan itu ya tanggal 17 Juni. Waduh, besok! tapi kalau dari info muslim sini, katanya tanggal 18. Yah, Lets wait and see. Untunglah, bukan hari ini, karena saya belum mempersiapkan apa-apa. Persiapan? Malu saya membicarakannya. Teringat beberapa hari lalu chatting dengan teman, dan saya bilang: Rasanya saya lebih sholehah dulu waktu di asrama, hahaha. Oke, kata “sholehah” terlalu berlebihan sepertinya. Toh, kadar iman seseorang gak pernah ada yang bisa ngukur, cuma Allah yang tahu. Tapi, kondisi jiwa gak ada yang lebih tahu selain dirinya sendiri. Dan saya sekarang merasa kondisi jiwa yang jauh dari saat saya dulu jaman-jaman di MAN, atau bahkan kuliah. Saya rasa jiwa saya lebih gersang. Kondisi lingkungankah?

Entahlah. Jiwa yang gersang. Agak lebay sedikit dan berpuitis nampakya cocok buat kondisi yang sekarang. Jangankan membuat persiapan untuk Ramadhan, saya sendiri masih kesulitan “menyuburkan” kembali jiwa yang gersang ini. Malu rasanya melihat postingan teman-teman di FB tentang bagaimana mereka menanti-nanti bulan suci. Iri rasanya pada teman-teman yang membuat persiapan jadwal tarawih, buku ramadhan, jadwal iftar, dan lain sebagainya. Sedih rasanya begitu tahu saya tidak mendapat feeling apapun menyambut ramadhan. Mungkin akibat jiwa yang gersang ini. Saya rindu perasaan rindu pada bulan suci yang hanya datang setahun sekali ini. Saya rindu waktu dulu sibuk mempersiapkan segala macam kegiatan selama bulan puasa dengan teman-teman lainnya. Saya teringat begitu banyak saya mendapatkan ilmu menjadi panitia Inspirasi Ramadhan P3R Salman dulu.Kemudian merasakan nikmatnya berbuka puasa saat kondisi tubuh lelah tapi jiwa yang subur oleh nasihat. Ah… saya rindu itu.

Bila diingat-ingat, semenjak saya lulus SMA, saya tidak pernah benar-benar full berada di rumah di Sukabumi selama Ramadhan. Waktu tingkat satu, kacaunya jadwal sahur bersama teman-teman serumah yang baru bangun 5 menit menuju imsak saat puasa hari pertama mengingatkan betapa kagetnya kami dengan lingkungan baru. Alhasil, kami buru-buru masak mie instan yang dibagi untuk 5 orang, haha. Ada pula hari dimana kami total telat bangun dan hanya bisa minum air (masyaAllah, kedengaran melarat banget). Semuanya karena semalam sebelumnya telat tidur, gak kebangun walaupun sudah ada alarm, dll. haha. Tapi setelah itu, berangsur-angsur jadwal sahur kami semakin manusiawi, alhamdulillah. Dan kami berlima baru pulang ke rumah masing-masing beberapa hari sebelum idul fitri. Oya, tingkat satu kami sudah “diberdayakan” menjadi panitia P3R karena kami anak-anak beasiswa pelopor yang waktu itu difasilitasi dari salman. Waktu tingkat dua? gak ada lebih baiknya. Menjadi TAPLOK (tata tertib kelompok) sambil menjadi panitia P3R (lagi). Hari pertama puasa saat kita ngediklat mahasiswa-mahasiswa baru. Buka bersama di lapangan sipil dengan ta’jil yang telat datang. Habis itu, dipaksa anak-anak baru makan di D’cost karena pingin selera baru (padahal waktu itu kantong saya berkata TIDAAAK haha). Yah, Ramadhan tingkat dua. Penuh canda tawa baru. Ramadhan tingkat tiga? Hari pertama ramadhan di Desa Cihurip, Garut, karena sedang ikut progam KKN Tematik. Ingat itu lagi, rasanya pingin ketawa. Tarawih yang berlangsung kurang lebih 30 menit (bahkan mungkin bisa lebih singkat), dan itu udah plus shalat isya’! haha. Tarawih tiap malam gak lebih dari olahraga bungkuk-jongkok-berdiri (maaf, bukan mau menimbulkan kontroversi), tapi memang kurang khusyuk dan lainnya. Ramadhan menjelang tingkat 4? waah…  itu juga gak bisa dilupakan. Ramadhan dengan suasana kerja di Jakarta yang lebih panas daripada Bandung. Saat itu saya bersama beberapa teman dari ITB dapat kesempatan Kerja Praktek (KP) di Huawei, Jakarta. Gak bisa dilupakan juga waktu kita (ceritanya) diundang buka bareng di salah satu hotel ternama. Dan kitanya salah masuk ruangan, yang dikhususkan untuk salah saru divisi saja (divisi kita katanya di lain hari). Tapi, dasar masih mental mahasiswa, kita cuek-cuek aja dan malah ikut gabung buka bersama. Alhamdulillah gak nyesel… makanannya juga alhamdulillah memuaskan perut, hehe😀

Dan akhirnya, setelah menyelesaikan gelar S1, Ramadhan tahun lalu, hari pertama bisa saya jalani di rumah di Sukabumi. Ibu saya senengnya banget-banget, karena pertama kalinya saya puasa hari pertama di rumah setelah sekian lama. Rasanya puasa di rumah… terharu. Ada ibu yang membangunkan sebelum sahur untuk bisa tahajud. Ada ibu yang siap menghidangkan masakan untuk sahur dan juga untuk berbuka. Ada ibu yang selalu bersemangat bekerja sampai berkebun pun dilakoni walaupun sedang terik-teriknya. Puasa di rumah itu berarti… ada Ibu.

Dan Ramadhanku tahun ini, ah, entah kenapa saya menjadi melankolis begini. Ingin rasanya saya mempunyai robot doraemon agar punya pintu kemana saja. Ah, ramadhanku tahun ini, saya tidak tahu akan jadi seperti apa. Sungguh malu, saat kembali berkaca, jiwa yang gersang ini yang tidak mempersiapkan apapun untuk ramadhan. Sungguh takut rasanya jika jiwa yang gersang ini tidak merasakan kembali rindu akan bulan suci. Sungguh, sangat takut. Ramadhanku tahun ini, mampukah saya menjadi pribadi yang lebih baik? Saya tak pernah muluk-muluk, cukup berharap agar jiwa ini tak lagi gersang, dan tak ada kepura-puraan dalam perbuatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s