Tentang budayanya, tentang penduduknya, tentang indonesia

Sebelumnya, saya pernah membuat tulisan sehabis pulang dari Singapur dan Malaysia, yang menurut saya salah satu tulisan paling oke yang pernah saya buat. Judulnya: I(still) love Indonesia, whatever it is. Entah kenapa, tiba-tiba teringat kembali, mungkin saking kagennya sama tanah air (haha, lebay). Tapi ini ada benarnya, karena beberapa hari ini saya mulai muak membaca banyak postingan di facebook tentang kondisi politik Indonesia. Saya juga mulai muak ketika membaca artikel pergaulan anak kecil yang semakin bebas (bukan terhitung dunia anak kecil lagi). Lebih muak lagi ketika saya menyadari: saya hanya bisa merasa muak dan kesal, tapi tak bisa melakukan apa-apa.

Saya ini hanyalah salah satu dari 255,461,700 atau mungkin lebih penduduk Indonesia. Salah satu penghuni “developed country” yang menduduki ranking 4 dalam jumlah penduduknya. Salah satu anak manusia yang diberi kesempatan belajar di luar negeri meskipun masih banyak orang yang jauh lebih baik. Salah satu muslim yang kata orang sini punya “budaya” gak makan daging, selain yang halal, gak makan babi, gak minum alkohol, bahkan makan roti aja harus liat komposisinya ada shortening atau ekstrak dagingnya. Saya, dan juga sama seperti manusia lainnya, hanyalah satu titik di jagat raya yang luar biasa luas ini.

Tapi, apa kata orang tentang “jangan mudah menghakimi orang lain” sangat sulit dilakukan. Rasanya melihat

Anak-anak Indonesia

Anak-anak Indonesia

postingan artikel, komentar, status, dan lainnya di medsos membuat saya ingin teriak: “ya ampuun… kalian disana ngapain sih? yang di politik  hobinya saling menutupi kesalahan sendiri, jadi media gatel aja ngeliput. Coba liat sana, anak cucu kalian kelakuannya udah keblinger gak karuan”. Tapi saya terlalu malu dan takut melakukan itu, haha. Yah, memang saya gak tahu kayak gimana orang yang ada di politik. Pastilah mereka juga pusing memikirkan negara Indonesia yang luas ini. Tapi saya gak habis pikir sama anak-anak sekarang yang kelakuannya katanya udah kelewat batas. Mungkin karena TV dan internet. Haduh, itu teknologi bukan cuma dipake buat update status, chatting, atau nonton yutub (yang mungkin sebagian udah mulai nyari video porn) sama anak-anak. Jadilah kayak sekarang. Mungkin, orang yang ngebuat TV gak mau hal ini terjadi. Atau bahkan yang membuat jaringan internet. Kalau tahu bisa merusak akhlak, mereka pasti mikir lagi. Sama kayak Alfred Bernhard Nobel yang nyesel luar biasa setelah membuat dynamite. Dia juga gak tahu penemuannya membuat perang dan kerusakan di bumi ini.

Tapi inilah negaraku, seperti dalam lagu, “Tanah airku cinta, pujaan hatiku…tempat ayah dan bunda dan handai taulanku…”. Kemarin kebetulan ngobrol bareng anak internasional lainnya yang ada di project yang sama. Kita sama-sama berasal dari negara berkembang, jadi klop ngobrolnya. Si X bilang: “Yah, teknologi satelit di kita belum maju. Biayanya banyak di korupsi” lalu saya mengiyakan. Sama halnya si Y yang juga bilang, “iya, kita punya satelit tapi masih beli dari luar. Sementara saat prosesnya, kita sama sekali tidak bisa belajar”. Lalu saya bilang, “kayaknya memang negara berkembang semua punya masalahsama, haha” lalu kita ketawa bareng. Yah, korupsi, ingin sesuatu yang instan, kadang susah berpikir jauh kedepan, adalah “budaya” yang secara tidak kita sadari hadir untuk kita. Penduduk Indonesia ini hebat-hebat, saya menyaksikan sendiri buktinya disini. Banyak sekali peneliti disini yang sudah berkontribusi banyak pada ilmu pengetahuan, menemukan hal baru, dan sebagainya. Tapi tak banyak yang mau dan atau bisa balik ke Indonesia. Ada yang sudah terlalu betah di luar. Bahkan saya ketemu banyak keluarga Indonesia yang anak-anaknya susah berbahasa Indonesia, hanya bisa Jepang dan sedikit kata-kata Indonesia. Ada juga yang saat pulang sebentar ke Indonesia, anaknya ada yang tidak tahu cara menggunakan toilet di Indonesia. Sampai-sampai dia bilang, “Gak pernah mau pulang ke Indonesia”. Waduh!!!

5cm

Dari film 5cm tentang mimpi mu

Saya juga pernah dikasih tahu disini sama orang Indonesia, “udah, ntar tinggal disini aja. Enak disini. Kalau kerja juga gajinya gede tuh”. Dan saya cuma bisa ketawa, gak tahu harus nanggepin apa. Ada juga salah satu teman saya (dari negara lain) bilang, “You said you’ll go back to your country after graduated, right? but i think its not a must. you can stay and work here if you want. its better in Japan”, dan saya ketawa lagi. Tapi ada juga yang bilang, “We have to go back to our country, because it’s us who can contribute to the change of our country”. Yang ini saya mengiyakan. Haha, yah, siapa yang tahu di masa depan, iya gak?

Tapi kalau boleh menjadi ideal, saya ingin sekali saat kembali bisa membuat perubahan di negeri saya. Setidaknya ingin berkontribusi membuat satelit/spacecraft asli 100% buatan Indonesia. Saya ingin mengajak banyak mahasiswa tertarik dengan cansat project, small satellite, atau setidaknya ingin membuat mereka tertarik. Saya ingin ada semacam workshop untuk anak-anak juga seperti disini untuk mengenalkan teknologi yang bisa mereka buat sendiri. Inikah mimpi saya? boleh jadi iya. Sampai dimanakah kekuatan mimpi ini? Saya harap seminimalnya membuat itu terjadi, semaksimalnya bisa mengubah “budaya”, mental penduduk, Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s