Stories and their story-teller (Novel edition)

“Membaca”, itulah sebuah hobi yang sejak dulu sampai kini dianjurkan pemerintah kepada generasi mudanya. “Buku itu gudangnya ilmu”, “Buku adalah jendela dunia”, dan lain sebagainya. Tapi memang, meskipun peribahasa-peribahasa tadi sangatlah luar biasa, tapi minat baca di negara ini “katanya” kecil dibandingkan dengan negara lainnya. Apalagi terhadap buku-buku non-fiksi, minta bacanya mungkin semakin rendah.

Oke, itu pengantar yang mungkin agak membosankan. Kita gak bisa menyalahkan anak-anak atau remaja yang tidak suka baca buku apalagi non-fiksi. Lihat saja, kebanyakan buku dulu itu sangat monoton, hitam putih, terkesan serius, dan pokoknya membuat orang menjadi malas untuk sekedar membuka sampulnya. Kalau melihat minat baca, mungkin cukup tinggi, tapi bacaan apa? novel bergambar atau komik. Hm.. tidak masalah menurut saya. Jujur, saya termasuk orang yang suka baca sejak waktu kecil. Apa yang saya baca pertama kali bahkan sebuah novel karangan Enid Blyton dalam seri “Pasukan Mau Tahu” yang judulnya “Misteri Surat Kaleng”. Saya baca novel terjemahan itu pertama kali kalau tidak salah saat di SD. Lalu, kakak saya kemudian berlangganan sewaan komik yang selalu dia bawa sehabis pulang sekolah. Dari sana juga, saya pertama membaca komik sampai tamat episodenya, yaitu serial “Detective Kindaichi”. Sebenarnya, komik yang satu ini agak berbahaya dibaca anak kecil karena isinya penuh cerita misteri pembunuhan. Tapi karena sejak kecil dikenalkan buku fantasi dan komik, hobi membaca itupun muncul. Hm… tiap orang pasti punya alasan sendiri kenapa mau membaca dan tidak. Oke, dua postingan berturut-turut dari sekarang akan saya isi dengan ulasan buku dan komik yang pernah saya baca juga ulasan pengarang/komikusnya. Karena saya cukup berterimakasih pada cerita yang mereka bawa pada saya sejak kecil sampai sekarang, yang menanamkan mimpi, kegembiraan, fantasi, dan juga berpikir lebih jauh tentang kehidupan, hehe😀 Oke, postingan hari ini akan saya awali dengan postingan tentang novel-novel non-fiksi dari luar maupun dalam negeri. Postingan selanjutnya baru akan saya ulas tentang komikus dari Jepang yang punya ide-ide cerita  luar biasa.

1. Enid Blyton (1897-1986)

Edisi Pasukan Mau Tahu – Misteri Surat Kaleng

Enid Mary Blyton, atau dikenal dengan Mary Pollock di negara kelahirannya, Inggris. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, novel dari Blyton yang saya baca pertama kali adalah Pasukan Mau Tahu. Kesan pertama saya adalah luar biasa! cerita yang mudah dinikmati oleh anak-anak tapi terkesan cerdas dengan candaan yang kadang tidak terduga. Pasukan Mau tahu ini seri yang cukup banyak. Beberapa diantaranya yang pernah saya baca: “Misteri Surat Kaleng”, “Misteri Bungkusan Aneh”, “Misteri di Tally-Ho”, “Misteri Kucing Siam”, dan masih banyak lagi. Saya sebagian besar sudah lupa ceritanya karena kebanyakan saya baca sewaktu saya masih SD-SMP. Novel karangan Enid Blyton lainnya yang saya baca sampai beres adalah “Secret Seven” atau dalam bahasa Indonesianya “Sapta Siaga”. Ini kalau tidak salah ada 12 buku yang sudah saya baca semuanya. Kalau yang ini saya masih ingat kasus-kasusnya. Membuat saya berdecak kagum waktu dahulu. Terlebih lagi, saya pernah bermimpi untuk bisa mempunyai markas rahasia seperti mereka yang selalu mengganti kata kunci masuk tiap harinya. Tapi dibanding dengan pasukan mau tahu, ini masih kalah menurut saya, hehe. Novel lainnya adalah “Lima Sekawan”. Kalau ini saya percaya pasti banyak anak yang tahu dan baca novelnya karena memang lebih terkenal dibanding yang lain. Lima sekawan ini bedanya adalah sebuah tim yang selalu menemui petualangan seru ketika berlibur sekolah. Membaca ini pasti membuat kita ingin pergi ke banyak tempat dan menemui peta harta karun, atau menemui ruang bawah tanah rahasia. Novel yang keren! Seri lainnya yang Enid Blyton bawa dan menurut saya lebih keren lagi adalah “Si Kembar dari Mallory Towers”. Ini ceritanya adalah tentang dua anak kembar yang bersekolah di sekolah asrama Mallory Towers. Disana keduanya menemui banyak kejadian yang membuat mereka mencintai sekolahnya, teman-temannya, dan juga olahraga yang selalu mereka mainkan–Lacrosse. Dari novel ini, saya merasa melihat Inggris secara langsung, bersekolah di dalamnya, bahkan memainkan Lacrosse yang bahkan belum pernah saya lihat sama sekali. Enid Blyton dengan kemampuan berceritanya membuat saya seakan-akan terbang ke Inggris sana. Serial yang hampir serupa tapi tak sama adalah “Si Badung” atau “The Naughty girl”. Hampir sama, karena setting nya ada di sekolah juga, namun bedanya tokohnya disini adalah anak perempuan yang nakalnya minta ampun. Suka melawan peraturan dan juga suka terlibat perkelahian. Namun, dari sini, si badung mempunyai sisi yang juga membuat pembacanya belajar tentang persahabatan. Saya terkesa dengan ide dari Blyton tentang komite murid di asramanya. Jadi, murid-murid yang memang melakukan suatu pelanggaran akan ditentukan sendiri hukumannya oleh komite murid yang notabene anggotanya adalah murid-murid itu sendiri. Disini saya belajar adanya organisasi, tanggung jawab, juga persahabatan. Masih banyak lagi karangan Enid Blyton yang memukau. Penulis asal Inggris ini memang sesuatu banget kalau sudah menyangkut novel fiksi anak-anak. Untuk menarik minat anak-anak membaca, mungkin novel Enid Blyton ini bisa menjadi rekomendasi karena isinya selain menyenangkan juga memberi banyak pelajaran berharga.

2. Agatha Cristhie (1809-1976)

Ini dia penulis misteri yang terkenal dengan tokoh “Hercule Poirot” (read: erku:l poaro). Seri dalam bahasa Inggrisnya sering dinamai “Hercule Poirot and Miss Marple”. Saya pertama mengenal hercule Poirot saat SMP dari teman saya saat kemah pramuka. Dia membawa sebuah novel dengan jilid yang agak menyeramkan menurut saya, yaitu sebuah boneka negro yang terlihat seperti kesepian. Lalu barulah saya tahu itu salah satu seri Hercule Poirot. Dari sana, saya mulai mencari dan membaca buku seri Hercule Poirot satu demi satu. Beberapa seri yang pernah saya baca diantaranya: “Gajag Tidak Pernah Lupa”, “Saksi Bisu”, “Sleeping Murder”, dan masih banyak lagi. Karakter dari Poirot ini unik, berbeda dengan Sherlock Holmes ataupun detektif lainnya. Poirot juga sering mengungkapkan sesuatu dengan bahasa Prancis karena mungkin kebangsaannya  Belgian (bahasa nasional Belgia ada 3: bahasa belanda, prancis, dan jerman). Tapi, dari sini saya banyak tahu beberapa istilah kecil dalam bahasa prancis.

Uniknya penggambaran Agatha Christie tentang karakter Poirot ini tercermin dari cara bicara, cara dia menggambarkan Poirot berpikir, maupun berjalan. Memang jarang dilakukan penggambaran secara langsung oleh kalimat, namun dari karakternya saya bisa langsung membayangkan bagaimana sosok Hercule Poirot ini. Apalagi Agatha Christie mengenalkan sebuah istilah “Sel-sel kelabu” Poirot yang selalu membantunya dalam memecahkan masalah. Memang penggambaran yang unik! Tapi, untuk yang pertama mulai membaca buku, tidak disarankan langsung membaca Poirot. Karena selain inti ceritanya agak rumit, bahasa terjemahan dalam bahasa Indonesianya juga cukup berbelit-belit untuk difahami langsung. Tapi, untuk yang senang cerita detektif, jangan hanya terobsesi dengan Holmes kalau belum pernah membaca Poirot!

3. Sir Arthur Conan Doyle (1859-1930)

Siapa yang tidak tahu Conan Doyle? Atau Holmes? kalau tidak tahu tidak apa-apa sebenarnya karena tidak se-urgent hafal Al-Fatihah atau tidak, hehe😀

Sherlock Holmes dan Dr. Watson, sahabatnya

Oke, yang belum tahu ini dia penulis dari Sherlock Holmes, detektif yang terkendal luar biasa dalam memecahkan banyak kasus dengan kepribadiannya yang unik juga. Sepertinya, tokoh ini hampis semua mengetahuinya. Selain karena karakter yang unik, kasus yang dipecahkan juga kasus yang selalu rumit. Selain itu, berbeda dengan Poirot, Holmes ini terkenal dengan musuhnya Dr. Moriarty. Bahkan, meskipun penulisnya sudah lama meninggal, cerita Sherlock Holmes terus menerus diperbarui. Seri film nya diputar di BBC dan mendapatkan tanggapan yang baik. Selain seri, Sherlock Holmes the movie juga dirilis dengan pemeran Sherlock adalah Robert Downey Jr. yang juga pernah bermain sebagai Iron Man.

Cerita tentang Sherlock Holmes yang saya baca lebih banyak berupa softcopy dari cerita-cerita pendeknya. Gaya bertutur Doyle mengesankan menurut saya, terlebih lagi ketika menggambarkan TKP. Untuk yang suka cerita detektif, tentunya Sherlock Holmes ini tidak akan terlewatkan!

 

4. J.K. Rowling (1965-sekarang)

“Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” atau “Harry Potter dan Batu bertuah” dalam edisi Indonesia

Joanne Kathelen Rowling, seorang Ibu yang berhasil menyihir semua pembacanya untuk masuk ke dunia sihir dalam ceritanya. Buku yang paling spektakuler dari dulu sampai kini, yaitu Harry Potter, adalah salah satu karyanya. Harry Potter sendiri adalah tokoh yang dibuat Rowling sebagai seorang anak yang awalnya hanya biasa-biasa saja dan tiba-tiba memegang peranan sangat penting dalam dunia sihir. Saya pikir semua orang yang pernah menonton Harry Potter, atau bahkan yang hanya pernah mendengan Harry Potter pernah tahu tentang kisah ini. Saya pertama kali mengenal Harry Potter adalah dari filmnya yang berjudul “Harry Potter and The Chamber of Secrets”. Saya masih ingat saat itu masih kelas 5 SD dan film itu berulang kali saya putar karena saking sukanya.

Semua seri Harry Potter telah tamat saya baca sejak saya SMP. Pertama kali menemukan buku Harry Potter ini adalah saat saya diajak pergi ke Perpusda sepulang sekolah. Saat itu saya melihat buku Harry Potter bertengger pada lemari kaca, yang artinya; “Tidak bisa dipinjam, hanya bisa dibaca disini”. Karena alasan itu pula, setiap hari sepulang sekolah, saya dan teman saya tadi selalu pergi ke Perpusda dan membaca Harry Potter disana. Sampai suatu saat, penjaganya membolehkan kami meminjam buku karena mungkin seringnya melihat kami kesana tiap hari untuk membaca buku.

Cara J.K Rowling bercerita memang menarik. Ide dari Harry Potter yang unik dipadu dengan gaya bertutur yang lihai membuat novel ini menjadi sebuah masterpiece. Karyanya sudah diterbitkan dalam berbagai bahasa, bahkan bahasa Indonesia. Seri pertamanya, the sorcerer’s stone, merupakan edisi dalam Amerika, karena edisi di Inggris nya berjudul “Harry Potter and The Philosopher’s Stone”. Saya juga memuji penerjemah di Indonesia yang membuat terjemahan sangat bagus dan dapat menggambarkan ide Rowling dengan baik. Seperti misalnya mirror of erised, diterjemahkan menjadi cermin tarsah. Cerdas!

Selain Harry Potter, Rowling juga menulis buku lainnya yaitu the Casual Vacancy yang belum sempat saya baca karena sibuknya tingkat 4 ini huhu… selain itu, karya lainnya yang cukup terkenal adalah The Silkworm. dalam buku itu, Rowling memakai nama pena Roberth Galbraith.

5. Sinta Yudisia

Penulis Indonesia yang membuat saya terkesan dengan novelnya “Sebuah Janji”, “The Lost Prince”, dan juga “The Road to the Empire”. Saya menyenangi ide Sinta Yudisia yang bisa memadukan nilai-nilai keislamian dengan nilai sejarah. Saat membaca “The Lost prince”, saya membayangkan jika saya berada di zaman dimana  saya salah satu orang yang menolong Takudar sebagai santri Baabussalaam. Karena novelnya itu juga, saya mulai mencari novel lainnya karya Sinta Yudisia. Dari novel ini saya belajar tentang belajar ikhlas dan pentingnya menepati janji. Karena dengan hanya sebuah janji itu, bisa menentukan nasib sebuah bangsa! afterall… kesan saya terhadap Sinta Yudisia adalah lihainya dalam memadukan ide dengan sejarah. Beberapa karya lainnya juga sering berkaitan dengan sejarah. Karya lainnya yang membuat saya terkesan adalah “Indra Keenam”. Untuk novel yang ini, saya terkesan dengan cara dia menuturkan seorang tokoh Age yang ternyata mempunyai sebuah kekuatan yang bisa berpengaruh pada kelompok yang baik atau malah menguntungkan kelompok yang jahat.

6. Andrea Hirata

Kesan pertama saya saat mendengar nama Andrea hirata adalah: “Oh, orang Jepang ya?” yang ternyata sama sekali salah, hehe.

Buku Laskar Pelangi yang luar biasa

 

Karya sekuelnya bermula dari Laskar Pelangi, sebuah cerita berlatar tahun 1970 di daerah Belitong yang merupakan penghasil timah di Indonesia. Saya kira, semua orang juga pasti mengenal cerita Laskar Pelangi ini dengan baik. Cerita yang membuat saya kembali membangkitkan mimpi saya untuk bisa meraih cita-cita saya. Membaca novel ini saya tertawa, tersenyum, dan bahkan menangis. Apalagi dengan seri keduanya “Sang Pemimpi” yang mampu membuat saya tersengguk-sengguk menangis. Gaya bertutur Andrea Hirata termasuk cukup sulit, meskipun disanalah daya tariknya. Bahasanya cerdas, puitis, namun seringkali memakai istilah asing yang pembacanya harus membaca ulang karena tidak langsung mengerti. Tapi saya juga terkesan karena Andrea Hirata mampu mengajak pembacanya untuk ikut bermimpi dan tidak menghentikan jalan meraih mimpi itu.

Seri Laskar Pelangi lainnya yaitu “Edensor” dan “Maryamah Karpov” yang juga tidak boleh ditinggalkan bagi pecinta Laskar Pelangi. Selain seri Laskar Pelangi, Andrea Hirata juga menulis “Cinta Dalam Gelas” dan “Sebelas Patriot”. Karena sudah terlanjur senang dengan gaya bertutur Andrea Hirata, hampir semua bukunya sudah saya baca juga. Banyak pesan kehidupan yang saya dapatkan dari novel-novel Andrea Hirata, terutama tentang kegigihan dalam mencapai mimpi. Mungkin, karena ini juga, saya selalu berusaha dalam mencapai mimpi saya.

Sebenarnya, masih banyak novel yang telah saya baca sejak kecil sampai sekarang. Namun, kalau disebutkan satu persatu, rasanya capek juga (apalagi ngetiknya). Tapi buku-buku dan penulis diatas adalah yang saya rekomendasikan untuk dibaca. Apalagi untuk yang tidak suka baca, atau sedang kehilangan semangat dalam meraih mimpi. Jika saja semua anak negeri ini memiliki hobi membaca, saya kira memang pengetahuan yang dimiliki anak-anak negeri ini akan bertambah dan memiliki pemikiran yang matang dalam bersikap. Sekarang, media sosial dijadikan bahan bacaan utama. Pagi hari, twitter menemani, berlanjut ke facebook, belum ngecek path, dan lain sebagainya. Media sosial sebagai media utama komunikasi zaman sekarang memiliki kelemahan: “Ketidak akuratan informasi, sampai kita memverifikasi sendiri “. Ujung-ujungnya, memang benar kata peribahasa, buku adalah jendela dunia dan gudangnya ilmu.

But…. next posting adalah tentang manga (komik jepang) dan komikus yang oke-oke juga. Jangan salah dulu, saya juga belajar cukup banyak pelajaran kehidupan dari manga-manga yang pernah saya baca. Memang, ujung-ujungnya, apa yang kita baca, kita sendiri yang mampu memfilter dan mampu menarik pelajarannya. Sebagus apapun kata-kata nasihat dalam buku tidak akan dapat mengubah sikap buruk seseorang menjadi baik jika dia membacanya tanpa menghayati atau bahkan tidak membacanya sama sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s