i (still) love indonesia, whatever it is

Pemandangan haru ketika saya lihat dari jendela pesawat menuju Indonesia. Akhirnya! kembali juga ke tanah kelahiranku, Ibu pertiwi. Diiringi mentari yang mulai menyinari negeri itu, saya mulai bisa melihat kepualauan seribu dari atas. Itu rupanya! pulau yang dekat jaraknya dengan Jakarta, namun, belum sempat saya mengunjunginya. Namun, perhatian saya teralih kepada onggokan (seperti) kayu-kayu yang mengambang diatas laut. Kayu-kayu apa itu? mengapa sangat banyak dan terlihat tak bergerak. Saya pun bertanya pada teman disamping, “Itu apa sih?” Saat itu saya berpikir tentang orang-orang yang mungkin membuang sembarangan ke laut. Sungguh perbuatan yang tidak terpuji. Tapi teman saya menjawab agak ragu, “Banjir kali… Mi”.

Sungguh, prihatin mendengar apalagi melihat dari atas kondisi ibukota Jakarta yang sudah ditutupi oleh air. Rupanya kayu-kayu yang saya lihat adalah atap-atap genting dari rumah-rumah pesisir pantai. Semuanya sudah tertelan oleh banjir. Semakin pesawat mendekat pada daratan, semakin saya melihat jelas negara yang sedang ditempa bencana banjir ini. Aduhai, sungguh berbeda kondisi yang saya lihat beberapa jam lalu sebelum saya memasuki pesawat. Saya masih berada di negara yang terkenal dengan “fine” nya. Negara Singapur yang bersih dari sampah, asap rokok yang seenaknya dihembuskan, bahkan bebas dari kemacetan. Beberapa jam lalu saya masih tiduran di Bandara yang bersih sekali untuk menunggu check in pukul 04.00 pagi. Maka tidak heran jika saya merasa kaget. Oh, Ibu kotaku Jakarta.

Banjir mengepung Jakarta, Januari 2014

Beberapa hari lalu saya baru saja kunjungan dan jalan-jalan ke dua negara, Malaysia dan Singapura. Boleh dibilang kagum, ya. Betah? okelah. Merasa iri? pasti. Mungkin catatan selama di dua negara itu akan saya post terpisah. Tapi yang ingin saya soroti sekarang adalah kondisi yang miris antara Indonesia dengan dua negara itu. Singapura itu negara kecil, bahkan tidak lebih besar dari pulau jawa. Tapi infrastruktur, telekomunikasi, dan transportasi yang dibangun oleh mereka sudah sangat maju. Malaysia adalah negara dengan beberapa state yang terbagi-bagi, yang sebagian ada di atas pulau kalimantan (kalau dilihat dari peta Indonesia). Tapi dengan state yang terbagi-bagi, kerajaannya mampu memberlakukan hukum islam disana. Meskipun ada 3 bangsa yang menjadi penduduk negara itu, yaitu Melayu, China, dan India.

Saya iri dengan tidak macet nya kedua negara itu. Singapura memiliki MRT, LRT, bus express yang mencegah kemacetan. Most of the civilization there use public transportation. Itulah mengapa mereka bebas macet. Malaysia juga tidak kalah dengan LRT, KTM, dan bus nya. Sepanjang Kuala Lumpur itu, saya melihat jalur LRT dan KTM yang mengelilingi negara bagian yang kecil itu. Indonesia memiliki angkot, bus, kereta, tapi pulang dari ITB ke Sadang serang masih macet minta ampun. Apa yang membedakan? public transportation, i believe it. Entah sudah menjadi gaya hidup atau memang mengakar dari nenek moyang kita, kebanyakan masyarakat Indonesia lebih senang membawa mobil sendiri (read: yang didalamnya hanya 1 penumpang ) dibanding memilih transportasi umum yang tersedia. Mungkin seperti yang Pak Agung sering bahas dalam usroh tentang jalur bawah tanah bandung, atau Shuttle train sepanjang Bandung, mungkin kemacetan akan berkurang. Plus, kesadaran dari masyarakatnya.

Saya iri pula dengan jalanan yang bersih dari sampah. Hukum disana berlaku dengan tegas. Denda $500 – $1500 untuk buang sampah sembarangan, meludah sembarangan, merokok tidak ditempatnya, menyebrang saat lampu merah, atau bahkan makan dan minum di tempat yang ada tanda larangannya. Luar biasa. Saya dan teman-teman menjadi begitu patuh disini. Bahkan menyebrang jalanpun menungggu tanda hijau meskipun tidak ada kendaraan lalu lalang. Begitupun dengan malaysia. Yap, kota penuh denda, tapi lihat hasil yang mereka dapatkan.

Oke, tapi banyak hal yang membuat saya tidak betah disana. Meskipun kemudahan transportasi dan komunikasi dimana-mana, yang namanya bukan rumah sendiri membuat tidak betah. Kadang, saya membandingkan orang-orang indonesia yang jauh lebih ramah dan sopan saat bertanya atau memberi penjelasan. Mencari makanan pun harus mencari label halal dulu sebelum membeli. Mushola di Singapura sangat susah, beda dnegan Malaysia yang di setiap stasiun ada. Yang membuat sesak adalah air minum 600 ml yang saya beli seharga $1,8. Hm, harga satu galon aqua isi ulang di Indonesia. Hal-hal kecil yang membuat saya berkata pada teman saya, “Aku ingin cepat pulang ke Indonesia”.

Meskipun ketika pulang saya melihat pemandangan yang berbalik 180 derajat, tapi inilah negeriku. saya cinta negeri ini, bagaimanapun keadaannya.Tidak ada gunanya mencemooh tanpa berbuat apa-apa. Tidak ada gunanya juga cuma berkata “Aku cinta indonesia” di mulut saja tanpa bertindak untuk mengubahnya. Mungkin beberapa tokoh Indonesia seperti Pak Habiebie yang berjuang lewat pesawat terbangnya dan sekarang membantu anak-anak Indonesia lewat pendidikan adalah salah satu bentuk cinta Indonesia itu. Mungkin dosen-dosen yang saya temui di Malaysia juga telah berjuang agar orang-orang luar negeri ketika melihat paspor Indonesia, bukan pertanyaan, “mau kerja ya di sini” yang dilontarkan, tapi penghargaan berupa kepercayaan bahwa bangsa ini tidak hanya mengekspor para TKI ilegal. Karena itu, nantikan para pemuda Indonesia yang akan mengubah negeri ini menjadi lebih baik lagi. 

3 thoughts on “i (still) love indonesia, whatever it is

  1. Pingback: Tentang budayanya, tentang penduduknya, tentang indonesia | catatan de ami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s