Kampung dan non kampung, ekspat dan non ekspat

Pertama kali saya menyodorkan KTP untuk ditukar dengan kartu tanda pengunjung, pak satpam itu menarik kedua bibirnya dan berkata dengan nada yang saya ragu itu merupakan pertanyaan, “Oh, dari kampung ya dek?”

Dan saya agak tersenyum kecut lalu menjawab ‘iya’ dengan tegas. Ingin sebenarnya saya membalikkan omongan bapak tadi, “Iya, emang masalah kalau gue dari kampung?” haha… tapi saya tidak seberani itu. Apalagi saya orang baru.

Itulah hal pertama yang saya alami ketika menginjakkan kaki di gedung BRI 2, lantai 20 tempat perusahaan bernama HUAWEI itu bermukim. Ke HUAWEI? Hmm… itulah tempat saya Kerja Praktek sekarang. Setelah digantung lama sekali, antara diterima atau tidak, akhirnya datang juga kabar itu. Jangan bayangkan kabarnya datang seminggu atau paling tidak beberapa hari sebelumnya. Tapi kabar KP ini saya terima lewat telepon saat lagi riweuh-riweuh nya Gamais Camp. Dengan barang bawaan yang sudah saya siapkan selama 3 hari di camp, tangan penuh dengan barang lainnya, saya terima telepon itu. Isi teleponnya? interview. Kaget, senang, dan bingung karena ditanya banyak hal termasuk materi BTS apalah yang saya baru dengar. Haha. Dan sorenya, teman saya bilang besok pagi jam 9 harus sudah ada di Jakarta. Di HUAWEI. Dan saya masih di Lembang malam itu. Nasib, nasib. Tapi selalu ada hal yang disyukuri ditengah kesulitan itu. Saya punya teman-teman yang dengan tidak berkeberatan mengantar saya pagi-pagi sebelum subuh ke Bandung. Saya juga punya teman yang mau pesenin travel pukul 6 pagi. Dan saya juga punya teman yang bersedian mencarikan kostan selama dua bulan di Jakarta. Alhamdulillah…

Mungkin dari kejadian pertama yang saya alami di HUAWEI ini, saya menyimpulkan anggapan orang-orang mengenai istilah kampung. Menurut KBBI sendiri, istilah kampung mempunyai arti sebagai berikut:

kam·pung 1 n kelompok rumah yg merupakan bagian kota (biasanya dihuni orang berpenghasilan rendah); 2 n desa; dusun; 3 n kesatuan administrasi terkecil yg menempati wilayah tertentu, terletak di bawah kecamatan; 4 a terkebelakang (belum modern); berkaitan dng kebiasaan di kampung; kolot;
 halaman daerah atau desa tempat kelahiran;
ber·kam·pung kl v berkumpul; berhimpun: sekalian orang pun ~ dulu sebelum berangkat;
me·ngam·pung v menghimpunkan; mengumpulkan: ~ anak buahnya;
kam·pung·an a 1 ki berkaitan dng kebiasaan di kampung; terbelakang (belum modern); kolot;2 ki tidak tahu sopan santun; tidak terdidik; kurang ajar;
per·kam·pung·an n 1 kelompok rumah yg merupakan kampung: kumpulan gubuk yg tampak dr sini adalah ~ nelayan; 2 tempat berkampung (berkumpul); 3 kelompok kampung; 4sekelompok; sekumpulan

Makanya saya tersenyum kecut waktu dibilang “Kampung ya dek?” karena anggapan mereka terhadap kampung adalah tempat tinggal yang masih terbelakang, dusun, atau mungkin listrik aja belum masuk. Padahal kampungku ini, sudah lebih maju dari anggapan mereka. Jangan dikira.

Mungkin karena term kampung ini juga, saya kepikiran anggapan lainnya. Di negara ini cuma ada dua tempat: Kampung dan non-kampung. Yang non-kampung ya seperti Jakarta, atau Bandung, atau bolehlah Bogor (meskipun teman saya bilang di Bogor juga ada yang masih kampung kok), dan beberapa kota besar yang sering di jadikan tujuan wisata atau pusat dagang dan berpenduduk banyak. selain dari itu, kampung. Asem bener kalau parameternya cuma itu. Padahal di tempatku juga ada kotanya dan sudah terbilang maju.

oke, kita tinggalkan istilah kampung dan non-kampung yang membuat saya kadang kesal mengingatnya. Ada istilah baru yang saya pelajari ketika masuk KP pertama kali di HUAWEI ini. Pegawai yang ada di kantor HUAWEI ini sebagian besar berasal dari Cina daratan.  Artinya, orang asli dari negeri Cina sana. Ekspat, begitulah pegawai dari Cina daratan itu disebut. Selebihnya adalah no-ekspat. Kalau yang belum tahu ekspat apa, sederhananya adalah orang luar negeri. Menurut KBBI sih kayak gini:

eks·pat·ri·at /ékspatriat/ n 1 orang yg melepaskan kewarganegaraannya; 2 orang yg meninggalkan negeri asalnya; warga negara asing yg menetap di sebuah negara: kompleks perumahan itu banyak dihuni oleh — Belanda dan Jerman; 3 orang yg terbuang; 4 tenaga kerja asing:perusahaan asing biasanya juga mempekerjakan para —

Nah, itu. Tapi kalau di perusahaan ini, selama dia bukan orang Cina daratan sana, berarti kamu terhitung sebagai orang lokal. Alias non-ekspat. Makanya, yang bule-bule atau yang item manis india itu juga mereka sebut non-ekspat. Dan jangan heran ketika sekantor dengan orang ekspat di HUAWEI, kalau ketemu sesamanya, pasti ngomongnya pakai bahasa Cina asli. At least, pakai bahasa Inggris. Oke, gak masalah sebenarnya. yang penting, seperti kata bapak-bapak yang nyambut kita pertama kali: Jangan kehilangan jati diri kalian sebagai orang Indonesia. Oke, Merdeka!!! #eh

One thought on “Kampung dan non kampung, ekspat dan non ekspat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s