Prasangka? Bagaimanakah kawan?

Prasangka? hm… sepertinya tiap orang pernah berprasangka. Baik itu baik ataupun buruk, pasti pernah. Ya… namanya juga manusia. Kita bukan makhluk yang diciptakan tanpa rasa, sehingga kita bisa berprasangka. Jujurnya, beberapa waktu lalu saya berprasangka terhadap teman sendiri. Dan tak tanggung-tanggung, prasangka buruklah. Tapi baru sekarang saya tahu ternyata prasangka itu ternyata salah. Yang terjadi hanya salah paham ternyata. Nah, setelah kejadian itu, ada rasa bersalah tersisa karena prasangka itu. Saya jadi ingin tahu, apakah benar bahwa ternyata prasangka itu adalah hal yang dilarang dalam Islam?

Ternyata, dalam surat Al-Hujuraat: 12 disebutkan:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمُُ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa …”

Waduh! ternyata dilarang dong… tapi setelah mencari tahu lebih lanjut, ternyata prasangka yang dimaksud dalam ayat tersebut dalam bentuk yang berbeda. Jadi, ketika kita berprasangka buruk terhadap seseorang, apakah itu teman, saudara, atau kerabat jauh dan kita menyebarkannya kepada orang lain, itu bisa jatuh hukumnya menjadi fitnah. Sedangkan fitnah sendiri, seperti yang kita tahu, lebih kejam dari pembunuhan. Ayat ini, sebenarnya memperingatkan kepada setiap manusia untuk terlebih dahulu menjauhi prasangka. Karena memang hal seperti itu datangnya dari hati, qolbu, memang sulit dihindari. Apalagi karena prasangka biasanya berawal dari dengki, marah, atau iri hati.

Al-Qurthubi berkata: “Ulama kami berkata, prasangka di sini dan di dalam ayat ini adalah tuduhan. Sisi peringatan dan pelarangan (dalam ayat ini) hanyalah tuduhan tanpa sebab yang mewajibkannya (menunjukkannya) sebagaimana orang yang dituduh berbuat keji atau minum khamr –misalnya– padahal tidak nampak atasnya apa yang menunjukkan hal tersebut.” Sedangkan Ibnu Jauzi menukil pendapat az-Zujaj tentang ayat ini: “Yaitu berprasangka kepada orang yang baik dengan kejelekan, sedangkan orang yang buruk dan fasik maka bagi kita berprasangka sama dengan apa yang nampak dari mereka”.

Melihat dari kedua kutipan tadi, sebenarnya manusia secara lahiriah tidak dapat menghindarkan diri dari prasangka. Contoh kecil, ketika kita kuliah nih, lalu dosen masuk membawa tumpukan kertas. Pasti dalam hati setiap mahasiswa langsung berprasangka: “Wah, ini dosen mau ngadain kuis nih! mana gak belajar lagi!” hehehe. Intermezzo guys. Tapi, memang, prasangka bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Oya, beberapa hukum bisa dijatuhkan karena prasangka. Contohnya: prasangka yang berbuah tuduhan berbuat kejahatan. Kalau memang bisa dipertanggungjawabkan, tak masalah. Namun jika salah, berbuah fitnah.

Tapi, prasangka sebenarnya bisa membuat seseorang waspada juga. Misalkan, prasangka terhadap pejabat apakah dia melakukan korupsi atau tidak. Namun perlu diingat, prasangka yang diperbolehkan tidak boleh berniat untuk memfitnah. kalaupun ada tuduhan, maka harus didasarkan bukti-bukti otentik. Semoga kita semua terhindar dari prasangka yang tidak benar. Na’udzubillah, tsumma na’udzubillah…

2 thoughts on “Prasangka? Bagaimanakah kawan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s