Ayah: Teladan Sepanjang Masa

Itulah yang aku simpulkan setelah membaca tulisan Andrea Hirata: Sebelas Patriot. Aku baru mendownload e-book nya kemarin, karena rinjing bermasalah sehingga alih-alih download film, aku kembali pada hobi lamaku: mencoba membaca kembali. e-book itu tidak begitu bagus, sepertinya hasil scan abal-abal, tapi yang kupedulikan cuma isinya. Yang kupedulikan, bahwa tulisan itu adalah tulisan dari Andrea Hirata yang merupakan salah satu penulis favoritku karena karya-karyanya selalu hebat. dan e-book ini, sebelas patriot ini, kembali membuktikan kehebatan sang penulis laskar pelangi.

Hanya berjumlah 101 halaman, jumlah yang sangat sedikit untuk sebuah novel. Penasaran, aku mulai membaca. Kata-kata pertamanya mulai menyihir, membuatku jadi segan menutup nya. Cerita Sebelas Patriot ini tentang perjuangan seorang ayah, dalam masa kecilnya, untuk mempertahankan tanah air dari tangan penjajah Belanda. Bukan dengan cara mengangkat bambu runcing, tapi dengan sepak bola. Patriotisme yang disalurkan lewat sepak bola itulah yang kemudian diketahui oleh sang anak, si ikal. Awalnya ikal tidak tahu apa-apa tentang ayahnya yang mengapa kakinya selalu berjalan terpincang-pincang. Namun, setelah menemukan foto lama ayahnya, ia baru mencari tahu apa cerita dibalik foto itu. Barulah ia mengetahui, foto itu bercerita tentang ayahnya. Tentang seorang patriot di zaman penjajahan, dimana bermain sepakbola adalah salah satu surga bagi para pekerja rodi. Dimana ketika bermain, sehebat apapun dirimu, tidak boleh mengalahkan Belanda. Cerita pilu yang terjadi pada kaki ayah ikal, adalah bukti betapa hebatnya ia saat muda sehingga dianggap ancaman oleh Belanda. Dan cerita ketika anak muda itu, dengan gagah berani meneriakkan: Indonesia! Indonesia! saat berhasil mencetak gol di kandang lawan.

Berangkat dari sana, sang Ayah menjadi maestro perjuangan anaknya, ikal. Inspirasi dari ayahnya memang telah membakar semangat ikal untuk menjadi pemain PSSI seperti cita-cita ayahnya dulu. Meskipun pada akhirnya cita-cita ikal tidak berwujud, tapi itu cukup membuat siapapun yang membaca kisah ini terharu. Hingga sampai ikal berhasil sekolah di Prancis pun, cerita tentang sebelas patriot dan ayahnya tetap melekat dalam hatinya. Ikal bahkan rela bekerja apapun saat backpacker di Prancis demi 250 euro harga sebuah kaos. Sebuah kaos dengan tanda tangan Luis Figo disana, untuk dihadiahkan kepada sang ayah. Karena tim Real Madrid dan pemainnya Luis Figo adalah favorit sang patriot itu. Dan karena sang patriot itu pula, ikal mampu terbang ke Prancis untuk sekolah padahal dia hanya seorang anak dari sebuah desa kecil di Belitong.

Tulisan ini menginspirasi, apalagi dari sudut patriotismenya. Karena seperti kita ketahui sekarang, anak muda sering disebut sudah tidak memiliki jiwa itu. Penurunan budaya dan sikap tidak menghargai jadi persoalan salah satunya. Namun, mungkin jika banyak yang membaca buku ini, akan ada banyak lagi yang tersulut semangatnya demi Indonesia sendiri. Atau setidaknya, tersulut semangat untuk bsia jadi orang yang lebih baik, bermimpi besar, dan berani mewujudkannya. Inspirasi dari sang ayah mungkin bisa jadi salah satu korek api itu.

Aku sendiri, ingatan tentang ayah adalah tentang melihat dirinya dari belakang, berjalan dengan tas jinijing di tangan. Langkahnya perlahan karena mungkin agak lelah sehabis mengajar. Sedangkan jalan menuju rumah naik turun tanpa ampun. Jalan yang sama yang selalu kulalui sejak aku kelas 1 SD hingga di MAN. Namun bapakku juga seorang patriot, guru yang benar-benar merupakan seseorang tanpa tanda jasa. Yang kuingat, bapakku orang yang sangat baik, yang tidak memarahiku ketika aku pulang sore sehabis sekolah agama padahal aku baru berumur 9 tahun waktu itu. Aku pulang dengan menangis, Kakakku dimarahi oleh ibu, tapi ayah menenangkan tangisanku dengan air manis hangat. Aih, sungguh baik benar bapakku. Mengingatnya, aku terharu. Bapakku, ayah terbaik sepanjang masa, teladan terbaik yang menginspirasiku pula.

2 thoughts on “Ayah: Teladan Sepanjang Masa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s