Sendal Jepit di Ciwidey

Jalan-jalan BPH 2012! wow!

Padahal semasa BPH, aku bukan anggota BPH yang aktif dalam kumpul rapat apalagi acara kekeluargaannya. Tapi, setelah BPH 2012 lengser (meskipun sekarang juga aku masih jadi BPH 2013), aku jadi ikut tertarik pada semua kegiatan kekeluargaannya. Nah, buat hari ini, acaranya jalan-jalan. Kemana? gak ada yang tahu sebelumnya. Pokoknya kumpul jam 8 di Gelap Nyawang dan siapin uang aja. Ceritanya mau kayak 5 cm, tiba-tiba kumpul dan jalan bareng.

Ternyata, kami semua pergi ke Ciwidey. As i guess, it’s Kawah Putih (again). Yes, i’ve been there for several times. it’s not that strange for me. Kami pergi kesana pakai mobil sewaan dan yang nyetirnya kak Ery. Mobil satunya lagi, yang ihkwan, nyewa sopir kesana. Oya, satu lagi, kami harus bawa hadiah. Itu yang membuat aku lari-lari pagi ini. Dan, hadiah yang aku beli gak begitu wow. I’m sorry for anyone who will receive my present. Jadinya kami pun berangkat pukul 9 kurang 10 an. Akhirnya setelah perjuangan keras, kak ery mampu membawa mobil ke daerah Ciwidey juga.

Mesjid Raya Ciwidey. Waktu 2011, sama anak GF Nafis sempat shalat disini

Mesjid Raya Ciwidey. Waktu 2011, sama anak GF Nafis sempat shalat disini

Kami melewati Masjid Raya Ciwidey yang dulu pernah aku singgahi waktu jalan-jalan GF NAfis Karisma. Terus, perjalanan berlanjut hingga akhirnya terasa dingin. haha… dingin buu… dan aku gak bawa jaket karena gak tahu tadinya mau pergi kemana. Ditambah lagi, baju yang aku pakai gak tebel sama sekali. But, it’s okay. Di perjalanan, sempat mobil berhenti (agak macet) dan kami melihat iklan baso strawberry. wow, baso strawberry. How’s the taste? i don’t know.

Sampai jugalah kami di Gerbang Kawah Putih. Karena parkir atas mobil mahal Foto1307banget (150 rebu), jadinya kami memilih parkir bawah (cuman 20 rebu) dan naik ke atas kawah pakai angkot jendela terbuka. It’s thrilling, trust me. The car was so fast. Sampai di kawah, ada beberapa hal yang mengejutkan. Beberapa tempat nampak lebih baik dan lebih bersih. Dulu, tempat parkir itu berupa tanah berbatuan. Tapi sekarang, sudah pakai paving block jadi terkesan lebih mewah. Ada tulisan kawah putih juga, dan terminal tempat menunggu angkot juga lebih oke. Kami shalat dzuhur dulu sambil di jama’ ashar. Dan setelah itu, saatnya beraksi ke kawah putih!!!

kawah putih seperti biasa, bau belerang, dan kami tidak boleh lebih dari 15 menit disana. tapi seperti biasa juga, kami melanggar (kami maksudnya semua pengunjung, haha :D). Intinya ke kawah putih asalkan dapat foto-foto bagus, sudah jadilah. Jadi intinya? ya foto-foto. Jujur, pas awal kesana aku langsung bilang itu tempat kayak di Korea (kayak yang pernah ke Korea aja haha).

Foto1315

Pohon mati di kawah putih. Indah kelihatannya, tapi juga ada sensasi sepi nya

Foto1313

Peringatan di sekitar batas kawah putih

Foto1316

ada sign evakuasi, aku bergaya kayak di gambar. Lucu sih gambarnya

Buanyak banget yang datang pas hari itu. Pokoknya gilee... banyak kali...

Buanyak banget yang datang pas hari itu. Pokoknya gilee… banyak kali…

Orang-orang pada foto di Kawah Putih. Aku iseng-iseng nge foto orang yang lagi nge foto hoho :D

Orang-orang pada foto di Kawah Putih. Aku iseng-iseng nge foto orang yang lagi nge foto hoho😀

Foto sama teh irin di depan Gua

Foto sama teh irin di depan Gua

Tulisan kawah putih yang baru, aku foto dari terminal tempat nunggu angkot

Tulisan kawah putih yang baru, aku foto dari terminal tempat nunggu angkot

Setelah puas di Kawah Putih, kami pun beranjak pergi. Tapi karena kerasanya sayang banget kalau pulang begitu aja padahal masih siang, kami berencana pergi ke tempat lainnya yang dekat kawah putih. Yap, Situ Patenggang, dan aku belum pernah kesana. Tapi waktu kami mulai meninggalkan kawah putih, hujan mulai turun. Tapi kami tetap lanjut… walaupun agak was-was juga. Soalnya kalau situ, pasti hubungannya sama air banyak. Dan kalau di musim hujan? aku takut airnya meluap.

Situ patenggang. Luas banget, dimana-mana air

Situ patenggang. Luas banget, dimana-mana air

Di perjalanan, beberapa bercerita tentang situ patenggang yang konon disana ada legenda batu cinta. Batunya berbentuk love? it’s wrong. tapi karena ada legenda tentang kian santang yang berpisah dengan cintanya dan setelah mencari kemana-mana, akhirnya ia pun bertemu lagi dengan kekasihnya di batu cinta itu. Perjalanan kesana dari Kawah putih gak terlalu lama, karena dekat mungkin ya. Yang kulihat pertama kali adalah air. Air dimana-mana, dan tidak ada riak sama sekali. Ya iyalah, ini bukan pantai, haha. Dulu aku pernah naik perahu di pantai ancol bersama ibu dan kedua kakakku, dan saat itu turun hujan. Air pantainya jadi pasang, kapal sulit dikendalikan. Kalau yang mengemudikan kapalnya tidak jago, mungkin kapal sudah terbalik. Itulah mengapa aku agak takut kalau naik perahu waktu musim hujan. Takut pengalaman itu terjadi lagi.

Kami pun ditawari untuk menyewa perahu untuk sampai ke batu cinta yang legendaris itu. Nah, tawar-tawaran sama mang perahunya lucu deh, kami awalnya ingin harga murah. Ditawari 200 ribu dong. Mahal kali. Akhirnya setelah debat kusir yang panjang, kami mengalah dengan 180 ribu. Artinya 15 ribu per orang. Tapi kelebihannya kami bisa main sepuasnya tidak dibatasi jam dan boleh keman saja. okelah kalau begitu. Akhirnya kami pun  naik ke perahu. Rencananya kami mau tuker kado disini, tapi lagi-lagi hujan turun. wah…

Ada donat diatas perahu... haha. Gak deng, itu ban

Ada donat diatas perahu… haha. Gak deng, itu ban

BPH ikhwan

BPH ikhwan

Bapak Agus yang alim

Bapak Agus yang alim

Sepanjang perjalanan, bapak yang mengemudikan perahu cerita banyak tentang putrinya, tentang pengalamannya. Ternyata ini bapak banyak tahu tentang agama juga. Oke punyalah ini bapak. Gaul abis. Bahkan sempat ngasih wejangan-wejangan ke kita. Aku juga jadi terharu mendengar tentang putrinya yang selalu ranking padahal dari keluarga biasa-biasa saja. Itulah sebabnya terasa sangat istimewa perahu ini dikemudikan oleh seseorang seperti bapak Agus. Oya, namanya bapak agus.

Kami pun sampai di batu cinta. Tadinya mau tuker kado di sekitar sana, tapi failed gara-gara hujan. Akhirnya setelah menunggu agak reda, kami kembali ke perahu lalu mulai acara tuker kado. nomornya sempat di acak dua kali gara-gara teh shu kebagian hadiah punya sendiri. Aku agak deg-degan karena kadoku sangat sederhana. Aku malu. Begitupun ketika mulai membuka kado, aku sangat malu karena orang yang menerimanya tampak kecewa (dilihat dari raut mukanya). Memangnya, apa yang aku hadiahkan? sepasang sendal jepit swallow berharga 9 ribu. Bukan hadiah yang istimewa dibandingkan hadiah lainnya seperti buku dan oleh-oleh dari Jepang. Awalnya aku mengira hadiah itu lumayan karena bisa bermanfaat. Tapi sepertinya orang yang menerimanya agak merasa kecewa. Sedangkan aku sendiri menerima notes dan selotip Jepang dari Teh Sarah (langsung ketahuan karena kemarin dia habis exchange kesana). Nah, jadinya aku malu banget. Ngerasa gak pantas dapat hadiah bagus padahal aku memberi yang sekadarnya. Beda pula dengan teh Sikka yang dapat seperangkat hadiah dengan surat yang diberikan panjangnya tiga lembar. Subhanallah. Sedangkan aku? aku jadi agak meyesal tidak mempersiapkan dengan baik. Okelah, mungkin karena kondisi keuanganku akhir-akhir ini bisa dikatakan sedang defisit. Tapi, at least, aku membuatkan surat yang keren lah. Lha ini, aku memberikan surat saja dengan kata-kata yang biasa saja. Aku malu. Oleh karena itu, aku terus-terusan meminta maaf dalam hati. Maaf kan aku ya… karena hadiah yang aku berikan sama sekali tidak ada kesan mewah ataupun berharganya. Meskipun dalam pandanganku itu cukup bermanfaat bagi siapapun. Sandal Jepit, oh, sandal jepit.

Tapi dari pengalaman tadi, aku cukup bisa mengambil pelajaran. Sekarang-sekarang ini aku berharap untuk bisa lolos dalam exchange

Hadiah dari Jepang

Hadiah dari Jepang

program ke Jepang, padahal toefl ku cuma 510 dari 550. Usaha yang aku keluarkan baru sedikit, tapi pengharapanku banyak. Seperti sekarang ini, aku berharap mendapat hadiaj bagus tapi aku hanya memberi sekadarnya. Ketika aku mendapatkan hadiah itu, aku merasa malu luar biasa walaupun aku diam saja. Jika aku lulus dalam program exchange itu, apakah aku akan merasa malu ketika menyadari usahaku sangatlah sedikit? Dari sanalah aku bertekad untuk berusaha sepanjang semester ini. Sehingga, ketika memang takdirku untuk lolos student exchnge terkabul, aku tidak akan merasa malu seperti sekarang ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s